FF "my friend is my heart too"
My
Friend is My Heart Too
“Aku
rasa kamu tidak suka makanan manis. Kenapa kamu ngajak ketemuan di caffe khusus makanan seperti ini” ucap Donghae
dengan wajah agak terlihat heran sambil menatapku.
“Aku
memang tidak suka makanan seperti itu” jelasku “Aku hanya ingin melihat
seseorang disini”
“Siapa?
Kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya pacar” dia menatapku kembali heran.
Mengangkat satu tangan untuk merapikan rambut pirangnya.
“Bukan
pacarku Donghae~ssi” ucapku sambil tersenyum-senyum sendiri, yang membuat
temanku itu merasa prustasi.
“Lantas
siapa?” tanyanya dengan penuh keingin tahuan. Menikmati suguhan coffe capucino
yang manis serta kue tiramisu berwarna merah muda yang sangat menggiurkan.
“Namanya
Lee Hyuk Jae. Dia pemilik caffe ini” tuturku sambil memandang seorang lelaki
yang sedang berdiri di meja kasir.
Eunhyuk, sapaan Lee Hyuk Jae. Dia
sosok lelaki yang tampan dan sangat berkarisma. Senyum manisnya membuat setiap
perempuan jatuh hati kalau melihatnya. Rambutnya di cat berwarna biru yang
membuat dia terlihat manly.
“Aku
rasa kamu jatuh cinta pada pandangan pertama” ucap Donghae yang membuat aku
melepaskan pandangan dari arah lelaki itu.
“Aku
rasa begitu” menatap kembali kearah tadi. Sambil meminum sedikit susu kocok
yang di bawa Donghae dari rumahnya.
Baru kali ini hatiku berdegub sangat
kencang hanya sekedar menatap dirinya dari kejauhan. Denyut nadiku seakan
berhenti sesaat. Darah mengalir menelusuri urat tubuh hingga sampai ke hati,
yang menimbulkan hawa panas seketika. Aku rasa Tubuhku bergetar, meski Donghae
tidak mengetahuinya. Dia hanya fokus pada makanan dan miuman. Sungguh, dia
teman yang membuat tekanan darahku mendidih. Dia tidak sadar, kalau teman
baiknya sedang merasakan jatuh cinta.
Aku terus memaksa Donghae agar
memperhatikan keadaan ku saat ini. Jangan hanya makanan yang selalu ia tatap.
Dia tetap mengacuhkan aku. Baru kali ini dia bersikap seperti itu. Aku bete
dengannya. Akhirnya, aku keluar dan pulang sendirian.
Jalan terlihat sangat ramai. Lampu
kecil berwarna warni mengikat panjang pada beberapa pagar rumah yang kelihatan
tampak cantik. Lampu jalanan menerangi malam sepi hatiku. Iyaaa, biasanya aku
selalu sama Donghae kemanapun kami pergi. Jauh atau dekatpun aku selalu di
temani oleh dirinya.
Kalau aku pergi tanpa alasan seperti
ini, biasanya dia selalu berusaha mencariku. Dengan segala cara apapun dia akan
menemuiku. Pernah suatu waktu, saat kami
masih SMA dia rela melakukan apa saja hanya untuk bisa berbicara kepadaku.
Tapi, kenapa hari ini dia seperti orang lain. Tidak seperti Donghae yang aku
kenal sebelumya.
~~~~
Hari minggu sudah tiba. Sudah dua
hari aku tidak melihat temanku. Bahkan dia tidak ke rumah, dan kesekolah pun
tidak datang. kekhawatiran menyerang diriku saat ini. Bagaimana bisa Donghae
tidak datang ke sekolah? Dia tidak akan datang kalau lagi ada kepentingan
keluarga atau dia lagi sakit. Aku harus ke rumahnya. Memastikan keadaan dia.
Aku berjalan menelusuri jalan ke
arah rumah Donghae. Sepi yang aku rasakan saat ini. Perasaan khawatir akan dia
terus aku rasakan. Ku ambil ponsel dalam tas, memanggilnya beberapa kali namun
tak ada jawaban. Tapi aku masih bersyukur karena, nombernya masih bisa di
hubungi. Aku takut kalau aku tidak bisa berkimunikasi dengannya lagi.
Ada seorang lelaki keluar dari
mobil, memakai jaket hitam dan kacamata hitam. Aku rasa aku mengenalnya. Dia
berjalan ke arahku. Berdiri di depanku kemudian membuka kacamata yang di
pakainya. Ahhhhhhhh bagaimana bisa dia di hadapanku. Ini Cuma kebetulan atau
takdir yang telah mengatur semuanya. Aku rasa aku akan pingsan karenanya.
Betapa bahagianya aku saat ini.
“Sung
Hye Mi kah?” tanyanya sambil tersenyum, memperlihatkan gummy smile yang manis.
“Iya
benar” jawabku sangat antusias sekali. Tidak percaya dengan kejadian saat ini.
Aku tidak tau, apakah dia nyata atau palsu.
“Namaku
Lee Hyuk Jae” gumamnya sambil menjulurkan tangan. Tanpa basa-basi lagi, aku
langsung menempelkan tanganku dengan tangannya. “Aku sudah tau namamu” jawabku.
“Aku
rasa semua orang telah mengenal namaku” becandanya sambil tersenyum “Aku pernah
melihatmu waktu di Caffe Hinata bersama seorang lelaki. Apakah dia pacarmu?”
sambil menatap ke arahku, dengan tatapan menginginkan kejelasaan saat itu.
“Ahhh
bukan. Dia teman kecilku dan sudah besarpun dia akan menjadi temanku” jelasku
sambil memberikan senyuman kecil ke arahnya.
“Aku
harap begitu” desahnya yang membuat angin pun belum tentu mendengarya “bolehkan
aku mengenalmu lebih jauh? Aku harap (diam sejenak) Kamu akan memberikan nomber
ponselmu” mengeluarkan sebuah handphone, dan menyulurkan ke arahku. Berharap
aku akan menulis nomber ponselku
“Tentu
saja” jawabku sambil mengambil ponselnya “Kalau niat kamu baik, dengan senang
hati akau akan membalas sms atau juga akan menjawab telepon dari kamu”
“Tentu
saja niat aku baik. Mana mungkin aku ngejahatin perempuan cantik sepertimu..
Maaf ya, aku harus pergi sekarang” dia pun pergi dari pandangan mataku.
Meninggalkan kesan romantis di dalam diriku. Jalan inilah menjadi saksi aku dan
Hyuk~ssi.
Arghhhhhhhhh... Hari sudah hampir
malam. Aku harus cepat sampai di rumah Donghae. Bagaimana bisa aku lupa kalau
aku ingin ke rumahnya. Setelah bertemu dengan Eunhyuk aku langsung pergi ke
restoran, mungkin karena aku lapar. Ahh bodohnya aku. Bagaimana kalau aku
datang terlambat, dia sudah pergi bersama keluarganya, meninggalkan aku
sendirian dengan perasaan bersalah. Aku harap itu tidak akan pernah terjadi.
Setelah
perjalan dari rumah yang cukup melelahkan ini, akhirnya sampai juga di
rumahnya. Lampu di taman serta di dalam rumah masih nyala. Berarti Donghae
masih ada. Dia tidak meninggalkanku. Betapa bahagianya aku malam ini.
Bell
rumahnya aku tekan berkali-kali dan tak ada yang membukakan pintu. Satu jam
sudah berlalu. Dua jam pun berlalu, aku duduk dan menunggu di kursi taman,
berharap Donghae datang membuka pintu dan ada di hadapanku. Aku yakin dia ada
di rumahnya. Kalau pun dia sedang di luar, mana mungkin lampu rumahnya nyala.
Gerbang pun tidak di kunci, buktinya aku bisa masuk.
“Donghae
cepat buka pitunya? Apakah kamu akan membiarkan seorang perempuan sendirian di
depan rumahmu, apakah kau tega kepadaku.. Chingu aku mohon bukalah!!” teriakku
dengan mengeluarkan kekuatan.
“Baiklah
kalau kamu tidak ingin bertemu denganku. Aku akan pergi sekarang. Kamu jangan
menyesal telah membiarkanku pergi. Bagaimana bisa ada teman yang jahat seperti
dirimu DongHae~ssi” teriakku agak keras sambil menangis. Aku tak percaya bahwa
sikapnya membuat aku seperti orang gila di malam hari.
“Maaf
bila aku bukan teman yang baik untukmu. Aku akan pergi seperti maumu”
Aku berjalan meninggalkan depan
pintu rumahnya dengan masih mengeluarkan air mata. Kenapa rasanya sakit sekali.
Hati ini bagaikan tertusuk duri yang banyak. Aku tidak bisa menghentikan air
mata ini. Air yang mengalir di pipiku seakan tidak akan pernah habis. Tubuhku
lemas, jiwaku seakan pergi meninggalkan raga ini.
Srettt... seperti terdengar pintu
rumah terbuka di belakangku. Mungkin ini hanya ilusiku saja, berharap Donghae
akan menarik tanganku dan mencegahku pergi. Aku membiarkannya, tanpa menoleh ke
belakang sedikitpun.
“Apa
kau bodoh Hye Mi” terdengar teriakan di belakangku. Itu hanya ilusi, pikirku.
Aku pun berjalan lemas menuju gerbang.
“Jangan
pergi” suara itu menarik tanganku. Pandanganku kabur malam ini. Rasanya aku
pengen pingsan. Mungkin ini karena aku terlalu lama menangis dan banyak
mengeluarkan air mata.
“Justru
aku yang harus minta maaf. Kamu tidak salah sama sekali. Aku tidak mencegahmu
pergi waktu itu, aku malah membiarkanmu pulang sendirian. Aku bukan teman yang
baik. Aku terlalu egois dengan perasaanku terhadapmu yang membuat aku bersikap
kaya anak kecil seperti ini. Aku sungguh minta maaf, maafkan aku! Aku mohon
jangan pergi” suara itu menarik tanganku. Lembut dan hangat yang aku rasakan
saat ini. Hatiku seperti bunga yang tiba waktunya untuk mekar. Genggaman tangan
yang sangat erat membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Berdiri dan diam
tertegun.
Tangan yang halus ini merangkul
pundakku. Menelusuri tangan dan langsung memelukku dengan penuh perhatian. Baru
kali ini aku merasakan kedamaian bersama Donghae. Kenapa hatiku sangat nyaman
saat berada dalam pelukannya? Canggung, deg-degan serta ada perasaan berbeda
dari dirinya.
“Apa
kali ini kamu akan membiarkan aku pergi?” tanyaku sambil membalikkan badan
kearahnya.
“Tidak
akan. Aku akan membawamu ke rumahku” jawabnya sambil melepaskan tangan yang
sedang memegang tanganku. Ada rasa yang aneh. Kenapa aku tidak rela dia
melepaskan genggamannya.
“Meskipun
ini bukan musim dingin. Tapi, Kamu tau aku kedinginan saat ini” gumamku menatap
wajahnya yang tersorot oleh cahaya rembulan yang indah.
“Ini
pakai lah” membuka jaketnya dan memakaikan ke tubuhku
Dia menarik tanganku, masuk kedalam
rumah dan sampai di dalam kamarnya. Kamar
ini sangat nyaman dan hangat. Pertama kali aku masuk ke kamar ini, masih
sedikit photo-photo. Tapi, sekarang banyak sekali. Di sekelilingnya hanya ada
photo aku dan Donghae, tidak ada photo keluarganya. Kita memang berteman dan
apakah dia harus memajang photo-photo tentang kami sebegitu banyak.
Aku hanya bisa tersenyum melihat ini
semua. Bagaimana bisa aku melarang dia untuk berhenti menempel photo-photo
kami. Sebenarnya aku sangat senang, karena dia menghargai sebuah pertemanan dan
telah menyayangiku selama ini.
“Apakah
kau ingin aku menjelaskan sesuatu?” dia memulai pertanyaan sambil merapikan
beberapa buku yang berserakan di atas tempat tidur.
“Aku
rasa tidak. Mulai hari ini (terdiam beberapa saat) kita lupakan masalah yang
kemarin. Kau tau kan, bahwa aku tipe perempuan yang tidak suka flashback” jujur
saja, aku tidak suka membahas masalah ini. Aku pikir hanya ada maaf memaafkan
dalam situasi seperti ini. Jadi ku putuskan untuk tidak mengungkit-ngungkit
lagi.
Donghae menatapku dan menganggukkan
kepalanya. Menggulingkan tubuhnya ke atas ranjang, sedangkan aku hanya bisa
duduk sambil membuka buku-buku. Mengangkat kedua tangan dan menutupi matanya,
seolah dia sedang tidur. Badannya menghadap ke kiri, menjauh dari hadapanku.
“Apa
kau lapar Hye Mi?” dia bertanya dengan posisi tubuh yang masih membelakangiku.
“Tidak”
aku gak suka dengan sikapnya “Tapi aku mengantuk sekarang” gumamku, sambil
fokus dengan buku yang ada di genggamanku.
“Kamu
ingin tidur di kamar ini bersamaku atau pindah ke lantai atas?” akhirnya dia
berbalik badan kearahku. Menatap tajam mataku.
“Aku
mau tidur disini. Aku tau kamu tidak akan berbuat maksiat kepadaku” lirihku
yang membuat dia pasang wajah kaget.
“Hahah
kamu lucu sekali Hye Mi. Aku bukan lelaki seperti itu” gumamnya sambil tertawa
dan bangkit dari tempat tidurnya. “Kalau begitu cepat tidur!” menarik tanganku.
“Sebelum
tidur, aku punya permintaan. Tolong bacakan cerita snow white yang ada di meja
itu” minta dengan sangat mohon. Menempelkan kedua tangan dan menunduk, berharap
dia mengabulkan keinginanku.
“Baiklah”
pasang wajah datar. Mengambil buku dan duduk di sebelahku. Berbagi kasur,
berbagi selimut hanya tidak berbagi bantal.
Tak terasa, sudah berapa halaman
yang dia baca. Aku terdidur dengan pulas. Saat ini, aku merasakan sosok teman
yang bukan sebagai teman. Entah apa namanya, aku juga bingung dengan ini semua.
Entah ini mimpi atau nyata. Selama kami tidur, kita saling berpegangan.
Sekali-kali Donghae memelukku, kemudia memegang kembali tanganku. Aku rasa aku
tidur sangat dekat dengannya. kepalaku Sejajar dengan dadanya.
~~~~~~
Suara burung terdengar jelas,
membuat orang yang mendengarnya tidak ingin bangkit dari tempat tidur. Sinar
matahari menembus jendela dan menyorotkan pantulan cahanya kearahku. Tubuhku
enggan bangun, masih ingin menikmati tidur ini utuk beberapa saat. Wangi tubuh
Donghae tidak tercium lagi. Aku rasa dia sudah bangun.
Dia
sudah menyiapkan sarapan, roti dan
segelas susu. Kemudian, dia membangukan ku. Melemparkan handuk dan nyuruhku
untuk ke kamar mandi dan langsung mandi. Meskipun mata masih tertutup, tapi aku
segera bergegas bangun. Donghae menarikku, menuntun menuju pintu kamar mandi
dan mendorongku.
“Auuuu
sakit. Kau gila yaa?” bentakku. Dia mendorongku ke pojok pintu, yang membuat
kepalaku terpetalkan, seakan burung berterbangan di atas kepala.
“Ahh
maaf.. aku sungguh tak sengaja” dia tertawa seperti orang yang tidak berdosa.
Semuanya telah selesai. Mulai dari
mandi, merapikan kamar serta sarapan. Aku segera bergegas pulang. Meninggalkan
dia sediri. Keluar dari rumah itu membuat perasaanku sedih, dan ingin terus ada
disana, entah karena nyaman atau ada sesuatu.
Sama halnya dengan malam kemarin.
Siang ini pun aku pulang sendirian dan jalan kaki pula. Teganya Donghae tidak
mengantarku pulang. ketika di persimpangan jalan, ada mobil berwarna biru
shappire berhenti di sampingku. Kaca depan sebelah kanan mobil itu terbuka.
Terlihat orang yang menyupir memakai jaket yang menutupi rambutnya.
Aku rasa lelaki itu seperti Euhyuk.
Tapi, apakah memang dia? Kenapa dia selalu muncul di jalan terus. Aku rasa dia
mengikutiku, ahh tapi tidak mungkin juga. Dia seorang pemilik caffe, mana bisa
dia mengikutiku yang gak penting untuknya.
Jaket yang menutup kepala mulai di
bukanya perlahan. Terlihat rambut lurus berwarna biru cerah. Aku gak salah
lagi, dia benar-benar Eunhyuk. Dia menyapaku dan memintanya untuk naik ke dalam
mobilnya. Aku tak boleh melewati kesempatan ini, aku membalas salamnya dan
bergegas masuk.
“Aku
antar kamu pulang boleh kan?” tanyanya sambil melirik ke arahku.
Aku hanya mengangguk perlahan.
Menyebutkan lokasi rumahku. Dan hanya bisa terdiam bisu. Sekali-kali Melihat ke
arahnya.
“Aku
rasa kita berjodoh” sambil memakaikan sabuk pengaman di tempat dudukku, “Apakah
kau berfikir sama sepertiku? Apakah kau kira kita di takdirkan bersama? Aku
percaya akan takdir seperti itu” lanjutnya yang membuat aku kaget bukan main.
Kok bisa, dia membahas takdir. Padahal belum lama ini kita saling berkenalan.
“Aku
percaya akan takdir. Tapi, aku takdirmu dan kamu takdirku aku tak tau pasti.
Hanya tuhan yang tau. Karena dia telah merencanakan yang baik untuk kita
berdua” balasku sambil tersenyum malu kearahnya.
“Kalau
begitu, aku akan membuat kamu menjadi takdirku” gumamnya.
“Coba
saja kalau kamu bisa”
Dia cinta pertamaku dan aku jatuh cinta pada
pandangan pertama. Perasaan aku kepada dia sama halnya perasaanku kepada
temanku. Aku perfikir bahwa Eunhyuk adalah cinta dan sekaligus teman yang baik.
Aku pernah berharap bahwa dia dapat melindungiku.
Perjalanan menuju rumah memang tidak
terlalu jauh. Selama di dalam mobil kita saling bertukar pikiran. Saling memuji
satu sama lain. Tidak ada rasa canggung saat ini, hanya ada kesan nyaman yang
di dapatkan.
Setelah sampai di depan rumah, dia
tidak ingin masuk, karena ada urusan yang sangat mendadak. Tapi, dia telah
berjanji akan datang ke rumahku sekitar
pukul tujuh malam untuk pergi makan malam bersama. Hal ini kesempatan bagus
untukku. Mengenal dia lebih jauh adalah rencanaku selama ini. Aku sangat
penasaran dengan kepribadiannya. Apakah dia benar-benar baik atau tidak?.
“Apakah
kau ada waktu malam ini Hye Mi?” pesan singkat dari Donghae
Apakah dia ingin mengajak
jalan-jalan kepadaku di saat waktu yang tidak tepat seperti ini. Apakah aku
harus pergi bersama Eunhyuk atau Donghae Temanku?. Ku rasa aku tidak bisa
menolak keduanya, tapi aku tak bisa memilih salah satu di antara mereka. Dengan
pemikiran yang matang, aku pun memutuskan dengan siapa aku akan pergi. Bersama
Eunhyuk~kah atau Donghae~kah?.
“Maaf
teman! Malam ini aku punya janji. Kalau besok bagaimana? Ku harap kamu berbaik
hati dan tidak marah kepadaku?”
“Yasudah
kalau begitu. Nanti ku hubungi lagi” balasnya dengan emot kecewa.
Aku menunggu Eunhyuk di kursi taman.
Memakai baju berwarna merah dengan sepatu berhak tinggi. Rambut di kriting
serapi mugkin agar terlihat elegan dan feminim. Aku sudah siap dengan hati
bahagia menanti kedatangannya. Beberapa kali ponsel yang ku genggam terus ku
lihat, berharap dia akan menelponku.
Sudah pukul delapan malam, dan dia
pun belum juga sampai. Dingin malam ini tak bisa membuatku bersabar. Kesal
terhadapnya. Tapi, aku masih berusaha menuggunya hingga beberapa menit.
Berharap dia tidak mengecewakanku.
“Maaf
kamu menugguku terlalu lama?” dia datang dari gerbang, dan menuju ke arahku.
“Aku
benci menunggu. Kamu harus tahu itu!” gumamku sambil mengarahkan pandangan ke
arahnya “Kali ini aku memaafkanmu, karena baru pertama kali kamu membuat aku
menunggu. Tapi, lain kali jangan melakukan hal yang sama seperti ini”
“Ahhhh
baiklah baik, aku mengerti” sambil menggulungkan baju di bagian lengan kanan
dan kirinya. Kemudian merapihkan rambut yang terkena kibasan angin malam.
“Ayo
kita pergi” menarik tanganku menuju kearah mobil yang membuat aku sedikit
kaget. Karena, dia tidak memberi kode sebelumnya.
Terlihat wajah tampannya sangat
bahagia. Sepanjang perjalanan, dia terus bertanya sambil tersenyum dan
berkali-kali menatap wajahku. Aku pikir ada setan yang telah merasuki tubuhnya.
Setan itu Membuat dia tidak bisa berhenti tersenyum malam ini.
Malam ini akan terjadi sesuatu. Hal
yang tidak bisa aku bayangkan sebelumnya. Perasaan aneh ini muncul
berkali-kali. Perasaan ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Apakah ini
sebuah tanda? Atau sesuatu yang salah dalam diriku.
Taman kota menampakkan keindahan
yang sungguh nyata. Cahaya bintang dan rembulan berpadu menjadi satu. Bunga
yang cantik dan indah menambah kesan romantis menjadi sangat terlihat jelas dan
dapat di rasakan. Beberapa pasangan yang lagi duduk-duduk dan bersantai di
kursi taman. Sepanjang jalan, lampu taman mulai menyala satu persatu. Seperti
telah di setting oleh orang lain.
Di
depan kami ada sebuah meja dan dua kursi. Seikat bunga mawar yang harum dan
cantik terletak di samping meja. Tak lupa juga, beberapa lilin memanjang ke
atas yang terkesan sangat romantis. Makanan yang di hidangkan terlihat sangat
lezat dan manggiurkan. Di tambah dengan minuman soda bewarna merah darah, yang
terlihat manis.
Letusan
kembang api berwarna warni menambah cahaya langit semakin berwarna. Pemandangan
yang baru ku lihat untuk pertama kalinya. Letusan terakhir sangatlah berkesan.
Kenapa? Kembang api itu meluncur ke atas dan membentuk huruf love. Hingga
akhirnya itu semua telah berakhir.
“Aku
harap kamu menyukainya!!” Eunhyuk memulai pembicaraan, sambil menatap bahagia
ke arahku “Karena aku sangat menyukai ini semua”
“Orang
bodoh yang tidak menyukai kembang api di malam hari. Aku sangat menyukainya
Eunhyuk~ssi” gumamku sambil tersenyum ke arahnya. “Terima kasih banyak. Aku
sangat bahagia malam ini”
“Kamu
tau apa arti ini semua?” tanyanya dengan wajah serius. Kemudian, menarik
tanganku untuk duduk kembali.
“Aku
tidak tau”
“Ini
semua aku persembahkan untuk kamu. Karena aku mencintaimu” ungkap Eunhyuk yang
membuat aku kaget dan gak percaya “Maukah kamu menjadi pacarku?”
“Emmmmm
bagaimana ya” perasaanku bingung malam ini. Tanganku tak bisa diam, terus
mengusap-ngusap tak karuan.
“Terserah
kamu mau menjawabnya sekarang atau besok?” gumamnya. Dan melajutkan “Aku harap
jawaban itu tidak membuat aku kecewa” kemudian memulai memakan steak yang telah
di hidangkan tadi.
“Baiklah,
aku akan jawab sekarang (mengambil napas dalam-dalam) aku mau menerimamu dan
menjadi pacarmu”
“Terima
kasih Hye Mi” dia tersenyum lagi ke arahku, menatap tajam sorot mataku “Aku
mencintaimu” kemudian dia memegang tanganku dan menciumnya.
Tangan kita saling berpegangan.
Saling menatap wajah yang terkena sorot cahaya lampu taman yang terang hanya ke
arah kita berdua. Aku menatap ke sekeliling taman. Yang datang ke taman ini
saling bertepuk tangan dan tersenyum ke arah kita berdua.
“Kenapa
aku seperti melihat Donghae” gumamku dalam hati. Pandanganku masih tertuju ke
arah lelaki di pojok taman yang mirip sekali seperti Donghae. Tetapi hanya
sekilas, ia kemudian menghilang dalam kegelapan malam.
~~~~~
Ini memang suatu kejadian yang aku
inginkan. Menjadi pacar Eunhyuk harapanku selama ini. Karena kepribadian dia
yang baik dan juga seorang lelaki muda yang telah sukses dan mapan tanpa adanya
campur tangan dari harta kedua orang tuanya.
Pertamanya aku kira akan bahagia
bila ada di sampingnya dan hidup bersamanya. Dia memang baik, pengertian dan
tidak pernah menyakiti hatiku. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan beberapa
hari yang telah kita lalui, aku merasa ada yang kurang dengan perasaanku.
Kebahagiaan yang aku rasakan sangat hampa, berbeda jauh dengan kebahagiaan yang
aku lalui bersama Donghae. Aku rindu sosok teman yang selalu berada di
sampingku. Aku rindu saat-saat bersamanya, saat suka maupun duka kita selalu
bersama dan saling berbagi kasih.
Dua minggu ini aku tidak pernah
bertemu dengannya lagi. Berkomunikasi pun hanya melewati ponsel. Dia seperti
menghindariku, bahkan lebih dari itu, dia ingin menjauh dan menghilang begitu
saja dari kehidupanku. Rasanya kejadian ini hanya sebuah mimpi. Saat terbangun
nanti aku ingin segalanya kembali seperti biasanya. Selalu ada bersamanya.
Eunhyuk ingin makan malam bersamaku
di restoran prancis. Makan steak ala perancis kesukaanya dan wine hasil
permentasi selama sepuluh tahun yang selalu ia pesan. Dia menjempukan tepat
waktu. Mengenakan pakaian yang aku beli beberapa hari yang lalu di pusat
pembelanjaan. Penampilannya sangat rapi dan manly. Pakaian yang di kenakannya
sangat cocok dengan tubuhnya.
“Bagaimana
dengan kamu hari ini? Aku rasa kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya dengan
pasang wajah penasaran ke arahku.
“Ahhhhh
tidak ada apa-apa” balasku meyakinkan dia.
“Tolong
jujurlah! (paksanya) aku tidak akan marah kepadamu?” sambil menuangkan wine ke
gelas kecil yang di pegangnya.
“Saat
ini, aku sedang memikirkan Donghae sahabatku. Aku rasa perlahan demi perlahan
dia mulai menjauh dariku” gumamku menampakkan wajah prustasi dan sedih “Aku
tidak tahu alasannya apa? Aku hanya ingin bertemu dengan dia! Untuk sekali ini
saja? Tapi aku tak bisa, karena dia susah di ajak bertemu”
“Kamu
mencintai dia bukan?” mengetuk-ngetuk gelas bekas wine yang telah di minum
tadi.
“Tidak
Hyuk~sii. Aku mecintaimu” lirihku mejelaskan agar dia percaya.
“Kamu
berbohong (Eunhyuk menatapku) Pertama jadian sorot mata kamu memang masih
mencintaiku. Tapi, saat ini sorotan itu telah sirnah. Kamu masih ingin
mempertahankan hubungan ini dan berpura-pura mencintaiku hanya untuk tidak
membuat aku kecewa bukan?”
Aku
hanya bisa terdiam. Mengingat-ngingat kejadian waktu itu sampai sekarang.
Terlintas di pikiranku hal seperti yang Eunhyuk katakan. Tapi di sisi lain, aku
memang tidak ingin membuat dia kecewa, karena dia begitu baik kepadaku selama
ini. Mungkin, benar yang dikatakannya, aku memang mencintai temanku Donghae.
“Apakah
perkataan yang aku katakan benar Hye Mi~ahh? Jawab saja! Aku tidak akan marah”
Eunhyuk memegang tanganku. Berharap ada jawaban yang aku keluarkan.
“Maafkan
aku Eunhyuk~ssi!” aku menunduk malu sambil megeluarkan air mata. Menangis denga
rasa bersalah kepadanya.
“Sudahlah”
dia bangkit berdiri menghampiriku, mengelus-ngelus pundakku dengan lembut “Jangan
berkata lagi Hye Mi, karena Aku tidak ingin melihatmu menangis! Air matamu
sudah membuktikan semuanya. Aku memang sangat mencintaimu, seperti orang gila
(sambil sedikit tertawa, untuk memecahkan kesedihan) tapi, aku berfikir lagi,
apakah mencintai harus memiliki? Kau tau apa yang aku pikirkan saat ini?
(suaranya agak bergetar) bahwa aku lebih baik membiarkan orang yang aku cintai
pergi bersama orang yang dapat membuatnya bahagia. Aku akan membiarkan kamu
pergi pada cinta yang sesungguhnya. Karena aku tidak bisa memaksa perasaan
seseorang”
“Terima
kasih” aku bangkit berdiri dan langsung memeluknya “Aku harap kita bisa menjadi
teman, bahkan kalau kamu mau, kita bisa mejadi adik-kakak”
“Aku
sangat setuju dengan hal itu”
~~~~~
Pagi yang cerah dengan suasana hati
yang begitu baik. Cahaya fajar masih menampakan kehangatan. Hembusan angin
menembus tubuhku dan menebarkan rambutku yang indah, namun tetap terlihat rapi.
Aku sangat antusias sekali untuk datang ke rumah Donghae. Mengetahui keadaanya,
melihat wajahnya. Saat disana aku ingin mengungkapkan segala yang aku rasakan
semuanya. Aku akan bilang padanya bahwa aku sangat merindukannya.
Rumahnya
terlihat sepi. Sekeliling rumah masih nampak rapi. Aku pikir keluarga Donghae
sedang pergi keluar. Tetapi, setelah melihat ke sekeliling dalam rumah melalui
sela-sela jendela, semua barang yang ada di dalam rumah terlihat rapi. Bahkan,
hampir semua barang di tutup oleh kain putih. Seperti yang tidak akan di
tempati lagi.
Ku
ambil ponsel dan sesegera mungkin menghubungi dia. Ponselnya masih aktif, namun
tak ada jawaban. Aku tidak tau dia lagi dimana dan mau kemana. Otakku sungguh
tak bisa memikirkan hak itu. Pikiranku sangat kacau. Rasanya aku tak bisa hidup
seperti ini. Hatiku sangat sakit dengan kejadian ini.
Aku
berjalan pergi meninggalkan rumahnya. Jalan dengan lemas tanpa ada kekuatan.
Rambutku lusuh, tidak ku pikirkan. Ketika berjalan di sepanjag jalan ini, aku
teringat saat-saat indah bersamanya. Saat kami makan ice cream bersama, saat
menerbangkan balon bersama, dan yang sangat berkesan saat dia menggendongku
karena aku kelelaha.
Saat
membayangkan kejadian itu, aku mulai mengeluarkan air mata tanpa hetinya.
Meskipun air mata yang keluar tidak dapat membuatnya kembali, tapi dengan ini
aku sedikit lebih tenang. Setiap orang melihatku, menatapku dengan tajam,
mereka mungkin heran melihat seorang gadis menangis di pinggir jalan sendirian.
Duduk
di taman sendirian, menangis tanpa henti. Aku mengenang kembali saat kita
bersama dulu. Hanya ada keindahan dan kebahagiaan yang kita rasakan saat itu.
Tak pernah sedikit pun aku merasa kesepian atau sedih saat ada di sampingnya.
Sungguh aku menyadari bahwa dia sangat berharga bagi hidupku.
Air
mataku tak bisa di tahan lagi. Air mata ini mulai keluar membasahi pipi. Ingin
rasanya aku menjerit dan meronta-ronta agar dia bisa kembali dan sedang berada
di hadapanku, menyaksikan kesedihan dan pilu yang aku rasakan saat ini. Tapi
aku tahu, bahwa itu hanya keinginan hatiku saja. Aku menunduk dengan masih
mengeluarkan air mata tanpa hentinya.
“Apa
yang sedang kamu lakukan Hye Mi~ahh?” terdengar suara lelaki yang berada di
hadapanku.
“Tidak
melakukan apa-apa” balasku dengan posisi yang sama.
“Kenapa
kamu menangis? Tolong jawab aku?” dia tetap ingin mengetahui keadaan ku.
Sebenarnya siapa dia.
“Kenapa
kamu ingin tahu masalahku? Sebenarnya siapa kamu?” bentakku sambil mengangkat
kepala. Betapa terkejutnya aku saat itu. Apa ini nyata atau hanya ilusi semata.
“Masalahmu
adalah masalahku juga kau tahu itu kan?” bentaknya agak kesal, dan melanjutkan “Kenapa
kamu seperti ini? Aku tidak ingin melihat kamu menangis, hatiku sangat sakit
melihatnya” dengan perlahan dia duduk di sampingku, mengusap air mataku.
“Kamu
yang buat aku seperti ini. Apa kamu tahu”
“Maafkan
aku” lirihnya dengan wajah menyesal “Kamu pasti datang ke rumahku, iya kan?”
“Iya
benar. Tapi, kamu dan keluarga tidak ada disana”
“Maafkan
aku tidak memberi kabar sebelumnya” dia masih dengan wajah meyesalnya “Hari ini
keluargaku akan pindah ke Jepang. Ayahku di pindahkan pekerjaanya kesana. Ibu
memaksaku ikut, karena mereka tidak rela membiarkan aku sendirian disini,
karena tidak ada yang mengurusiku”
“Lantas
kenapa kamu masih berada disini? Aku sudah membaik sekarang. Aku menangis hanya
ingin melihatmu dan mendengar semuanya dari kamu” aku menatap tajam matanya,
menggengga tangannya dengan lembut “Pergilah ke bandara! Orang tuamu pasti
sedang menunggu disana”
“Itulah
kenapa aku kesini” diam sejenak, menutup mata dan membukanya kembali “Aku telah
meminta ijin untuk tinggal disini. Karena..” diam beberapa saat, kemudian aku
mendekat kearahnya dan berkata “Kenapa Donghae~ssi?”kemudian Donghae kembali
menatapku, dan berkata dengan perlahan “Karena aku mencintaimu Hye Mi. Cinta
bukan sebagaikan sahabat lebih dari itu”
Kata-kata yang di ucapkannya membuat
aku terkejut. Ternyata perasaan dia sama dengan perasaan yang aku rasakan. Aku
tak percaya ini. Aku sangat bahagia mendengar semua ini.
“Kalau
boleh jujur, aku juga mencintaimu. Aku merasa nyama saat bersamamu. Bukan
nyaman ada di dekat teman melainkan suatu yang aneh” jawabku dengan jujur
sambil menatap matanya.
“Tapi
aku tak yakin dengan perasaanku. Bahkan kamu juga masih berpacaran dengan Lee
Hyuk Jae bukan?”
“Aku
sudah mengakhirinya. Dia sudah tahu perasaanku kepadamu. Mulai sekarang dia dan
aku akan menjadi teman”
“Apakah
kamu akan merimaku sebagai pacar Hye Mi~ahh? Aku telah mencintaimu saat kita
masih SMA. Memendam rasa sayang yang sangat dalam membuatku sakit” ujarnya agak
sedikit tersenyum.
“Kamu
tahukan aku mencintaimu. Mana mungkin aku melewati saat-saat penembakan seperti
ini. Dengan senang hati aku mau menjadi pacarmu” gumamku
“Terima
kasih Hye Mi. Aku janji akan menjagamu, akan melindungimu di saat senang maupun
sedih dan akan menghiburmu setiap saat. Karena senyum indahmu adalah kebahagiaanku”
dia menarik tangan lalu tubuhku agar mendekat dengannya. Menarikku dalam
pelukan yang hangat.
Taman
ini akan menjadi saksi cinta kita berdua. Burung-burung yang berterbangan di
atas awan pun melihat kebahagiaan kita. Bunga taman bermekaran, menampakan
tubuh yang indah dan harum yang tiada tara. Donghae is a my good friend but
he’s better than be a my love.
Komentar
Posting Komentar