She Over Flowers
She Over Flowers
Sung
Hye Mi
Hari ini.. hari dimana kami
memperingati kematian Jong Jin yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu.
Kecelakaan itu, masih terbayang dalam pikiranku. Sulit rasanya menghilangkan
kejadian yang telah merenggut nyawa seseorang yang dicintai. Kalau saja aku
tidak berada di lokasi kejadian. Pasti sedikit demi sedikit aku bisa melupakan
kenangan yang pernah kita lalui bersama. Namun, hatiku seakan pecah. Ketika
kenangan itu masih berada dalam hati dan pikiranku. Jong Jin meninggalkan
kenangan manis yang berpadu kasih. Sulit sekali memudarkan kenangan untuk
perlahan pergi dari hati dan pikiranku. Kalau saja, waktu itu aku segera
membawanya ke rumah sakit. Pasti ia masih hidup dan berada di sampingku. Tapi,
takdir telah berkata. Bahwa ia harus meninggal saat itu juga.
Kim Jong Woon
Salju musim dingin mulai berjatuhan.
Penggambaran hatiku saat ini sangat cocok dengan musim salju. Karena, aku
sedang kalang kabut karena ketika adikku meninggal, aku tidak berada di
sampingnya. Hanya sekeder memperingati pun aku tidak bisa. Negara ini sungguh
membuatku tidak bisa berdekatan dengan keluarga. Tetapi, justru Amerika
membuatku banyak pengalaman untuk hidup yang lebih baik dengan kerja keras yang
tinggi. Meskipun orang tua masih mengasingkan ku di Amerika. Tetapi aku mencoba
untuk kabur dan pergi ke Korea. Mereka menganggapku seperti anak tiri. Jauh
dari kasih sayang, tapi kaya akan uang mereka.
Akhirnya
sampai juga dimana aku di lahirkan. Korea, Seoul aku datang.
“Aku
pulangggggggg” memeluk Ayah dan Ibu yang sedang berdiri di depan rumah sambil
memandangi salju. Wajah mereka terlihat kanget. Diam beribu bahasa lalu
tersadar kembali.
“Ahhhh Jong Woon
anakku, kau sudah pulang?” ketika tersadar ibu langsung memeluk.
“Anak gila..
bagaimana kau tidak mengabari kami sebelumnya. Bagaimana dengan kuliahmu
disana?” ayah membentakku, lalu memelukku seperti yang ibu lakukan.
“Aku pulang
karena aku sangat merindukan kalian. Aku seperti anak tiri saat berada di
Amerika. dan juga aku akan pergi ke pemakaman Jong Jin”
“Kami tidak
mengasingkanmu. Kami melakukan itu Justru kami sayang padamu” bentak ayah
sekali lagi.
“Iyaaaa aku
paham”
Aku
bergegas menuju ke makam Jong Jin lalu mendoakannya. Memakai kacamata agar
tidak terlihat bahwa aku akan menangis saat sampai di tempatnya. Meratapi
penyesalan karena tidak berada di sampingnya saat maut datang dan mengambil
nyawanya.
Sung Hye Mi
Aku telah bersiap-siap untuk membawa
seikat bunga mawar merah yang harum ke makam Jong Jin. Mengenakan baju panjang
berwarna putih yang memberikan ketenangan, tak lupa memakai syal serta penutup
telinga agar tidak terasa dingin.
“Mau kemana Hye
Mi~ahh?” tanya Siwon.
“Aku mau pergi
ke pemakaman Jong Jin. Kau mau ikut oppa?” tanyaku sambil membetulkan rambut
yang terikat.
“Tidak bisa.
Saat ini aku mau pergi kerja. Kalau nanti sore bagaimana? Nanti oppa antar?”
“Itu telalu
lama. Kalau begitu aku pergi sekarang”
Salju mengantarku menuju tempat
terakhir Jong Jin. Perjalanan ini terasa lama dan hampa. Sebentar lagi sampai
dan hatiku masih tak bisa percaya ini. Mataku mulai mengeluarkan air mata.
Kesedihan semakin memuncak saat tiba di makamnya.
Terlihat
seorang lelaki berdiri di makam Jong Jin. Postur tubuhnya hampir sama, gaya
rambut pun tidak jauh berbeda. Siapa dia?.
“Hey siapa kau?
Apakah kau yang menabrak Jong Jin dua tahun yang lalu?” Tanyaku dengan perasaan
takut telah berkata seperti itu.
“Bukan... aku
adalah saudaranya. Lantas siapa kau?” dia mengangkat kepalanya dan menunjuk ke
arahku dengan tidak sopan.
“Aku
kekasihnya.. ah bukan.. lebih tepat mantan kekasih, karena dia sudah tiada”
ucapku agak sedikit kaku tak karuan. Meskipun ada rasa malu karena telah
mengataka hal seperti itu.
“Ohh begitu
rupanya” lelaki itu membuka kacamata hitam yang di pakainya.
Kejadian ini membuatku shock bukan main.
Wajahnya sangat mirip dengan Jong Jin. Hidungnya mancung, gaya rambutnya begitu
mirip dengan JongJin waktu dua tahun yang lalu. Dia terlihat nyata seperti Jong
Jin. Reflika Jong Jin kembali hidup ke dunia. Aku sungguh tak percaya ini.
Arah pandanganku masih tertuju
kepadanya. Saat ia berjalan menjauh dari pemakaman, tetap saja sorot mataku
melekat mengikuti kemana ia pergi. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Berharap sosok Jong
Jin ada di dalam hatinya. Agar kerinduan terhadap Jong Jin bisa terobati
melalui dia.
Waktu sudah hampir siang, namun
perasaanku seperti belum lama berada disini. Kerinduanku terhadap lelaki yang
begitu ku sayang semakin memuncak tidak tertahankan lagi. Aku ingin pergi
bersamanya, aku ingin memulai hidup baruku bersamanya di surga nanti. Jong Jin sosok
lelaki yang setia dan tidak suka berbohong. Aku percaya, meskipun alam kita
sudah berbeda tetapi ia masih menungguku dan cintanya tidak akan pudar oleh
jarak yang begitu jauh, yang sulit untuk ditembus dan dilalui.
Kim Jong Woon
Apakah kota kelahiranku sudah
berubah? Kenapa adikku tidak memberitahu bahwa ia sudah mempunyai kekasih.
Kenapa ia tidak memberitahukan kepada pacarnya bahwa ia mempunyai seorang kakak
yang begitu tampan. Astaga... kalau kau masih hidup, aku tidak akan memberitahumu
siapa pacarku nanti.
“huaaaaaaa...
kenapa musim dingin terasa sangat dingin sekali?” Jong Woon melemparkan
tubuhnya sendiri keatas ranjang tempat tidur. Ia sudah mengenakan jaket tebal
dan dibalut oleh selimut yang begitu hangat, namun dingin terus saja
menghantuinya.
Waktu menunjukkan pukul delapan
malam. Aku masih bergulat dengan selimut yang masih terasa dingin. Beberapa
kali mengoceh tidak jelas. Detik demi detik terus berjalan. Akhirnya aku
memunculkan keberanian untuk keluar dari tempat tidur dan langsung pergi keluar
rumah. Saat ini aku ingin beradaptasi kembali dengan musim di Korea yang selama
beberapa tahun ini tidak dirasakanannya.
Mobil mewah berwarna biru yang
terparkir di bagasi rumah kini telah dibawa pergi. Salah satu mobil kesayangan
adikku yang selama dua tahun terakhir tidak dipanaskan bahkan tidak pernah
dipakai kembali. Tetapi, aku dengan sengaja dan tidak mematuhi perintah orang
tua malah mengambil dan menggunakannya. Sikap yang aku tampilkan seperti seorang
adik dan Jong Jin seperti kakak. Sikap ku begitu kekanak-kanakan. Itu memang
benar.
“kenapa aku
harus mematuhi perintahmu? Kalau kau ingin bertemu datanglah kerumahku. Saat
ini aku tidak bisa keluar malam” teleponnya sudah terlebih dahulu ditutup
sebelum sempat balas berucap.
Dengan wajah yang begitu kesal, aku
langsung membalikkan arah jalan yang akan dituju dan berbelok ke arah kanan. Terus
melajukan mobil dengan kencang melewati tempat yang ramai. Hingga akhirnya,
menghentikan mobil tepat di depan rumah mewah dengan lampu warna-warni yang
menggantung disekitar taman.
“sudah berapa
lama kau berada di Korea?” tanya seorang lelaki saat masuk di ruang tamu. Belum
juga tubuhku direbahkan diatas kursi, pertanyaan lelaki itu sudah mendarat di
telinga bagian dalam.
“tepat dua tahun
pada hari kepergian Jong Jin” jawabku. Akhirnya bisa merileksasikan tubuh
dengan menyenderkan ke belakang kursi.
“apa kau kakak
yang baik? Kenapa kau baru pulang sekarang?”
“tentu saja aku
kakak yang baik. Pengasinganku dari orang tua yang membuatku tidak bisa pulang
ke Korea waktu itu”
“yahhhh Jong
Woon~ssi dengarkan aku baik-baik! Jika kau bisa menyelesaikan kuliahmu lebih
awal, kau tidak mungkin diasingkan selama itu. salahmu sendiri yang selalu
bersenang-senang dan tidak mendengarkan perintah orangtuamu untuk belajar
dengan serius”
“berhentilah
menceramahiku Leeteuk~ssi!”
“yakkkkk...”
bentak Leeteuk. “setiap kali aku berkata yang benar, kau selalu berkata seperti
itu. Jika sikapmu seperti ini terus dan tidak kau rubah, jangan pernah kau
datang kerumahku lagi dan berusaha menemuiku”
“berhenti
mengancamku seperti itu” ucapku dengan wajah takut kehilangan sosok teman yang
sudah lama di kenal. “baiklah. Mulai sekarang aku akan menjadi orang yang lebih
baik lagi”
“benar teman”
Leeteuk tersenyum bahagia. “seorang lelaki yang tangguh dan kuat tidak pernah
mengingkari ucapannya”.
Aku hanya bisa terdiam. Sebenarnya
ucapan yang keluar dari mulutku cuma berbohong. Namun, mendengar perkataan
Leeteuk, aku terpaksa harus merubah diriku sendiri.
Sung Hye Mi
“apa kau
melihatnya dengan jelas?” tanya Siwon oppa dengan penasaran, ketika kami sedang
santai di ruang tamu.
“aku menatapnya
dari ujung rambut sampai ujung kaki dan ia begitu mirip. Tubuhya tepat berada
didepanku. Aku tidak mungkin salah melihat”
“ingatanmu hanya
terfokus pada Jong Jin. Mungkin kau melihatnya seperti dia” ucap Siwon tak
percaya dengan ucapanku barusan.
“dia mengatakan
kalau dia saudaranya Jong Jin”
“apa kau percaya
dengan perkataanya?”
“tentu saja.
Bisa jadi, kalau dia adalah kembarannya Jong Jin. Dia begitu mirip sekali. Kau
akan kaget jika kau telah melihatnya”
“apakah
sebelumnya Jong Jin telah memberitahumu bahwa ia mempunyai saudara?”
Siwon
begitu penasaran. Ia berusaha membuka ingatanku tentang Jong Jin. Sosok Jong
Jin saat pertama kali bertemu tergambar jelas oleh ingatanku. Saat Jong Jin
memberitahuku tentang keluarganya begitu jelas dan terasa nyata. Terlihat dalam
ingataku saat ia begitu menyayangi kedua orang tuanya dan membicarakn mereka
dengan segala kebaikannya.
“aku tidak
medengar jika ia berkata mempunyai saudara. Ia hanya menyebutkan kedua orang
tuanya begitu baik dan menyayanginya” jawabku.
“kalau begitu,
lupakan orang yang mirip dengan Jong Jin itu! pikiranmu jangan terus mengingat
tentang Jong Jin. Ia hanya masa lalumu. Kau harus bisa melepaskannya dan mulai
mencari cinta yang telah lama hilang dalam hatimu”
“tapi oppaaa”
Aishhhhh....
Perkataanku langsung dipotong “temukan orang yang bisa membuka lembaran baru
hidupmu dengan penuh cinta agar kau bisa melupakan lelaki itu. oppa yakin kalau
kau dapat menemukannya dan hidupmu akan bahagia”
“tetapi, aku
telah berjanji bahwa hidupku hanya untuknya. Tidak ada seorang pun yang mampu
menggantikan dia dari hati dan ingatanku. Kenangan yang telah kita lalui
beberapa tahun terakhir tidak mudah untuk dilupakan apalagi dihapusnya”
kata-kataku sangat menegaskan dan meyakinkan Siwon.
“berhenti
berkata seperti itu!” bentak Siwon, yang membuat ku tertunduk kaget. “apa kau
sanggup menempati janji dengan orang yang sudah meninggal? Jika sikapmu seperti
ini terus, hidupmu akan selalu dibayang-bayangi olehnya. Belajarlah untuk
melepaskannya! Oppa yakin kau bisa dan mampu membuang kenangan kalian. Bukalah
lembaran baru yang penuh cinta dan kasih sayang kembali. Oppa mohon padamu” tangan
Siwon membelai jemariku yang sedang tertunduk menahan kesedihan dengan apa yang
dikatakan olehnya.
“aku akan
mencoba perintahmu” jawabku sedikit kesal, menatap sang kakak kemudian pergi
meninggalkan dia sendiri.
Apa salahnya jika manusia mampu
menempati janjinya? Kisah cintaku bersama lelaki yang aku cintai tidak mudah
untuk dilupakan. Kebersamaan kita begitu hangat dan terasa manis. Canda dan
gelak tawanya tidak mampu membuatku untuk melupakannya. Kisah cinta manusia
tidak bisa dipaksakan oleh siapapun, meskipun oleh keluargaku sendiri.
Perasaanku mengatakan bahwa takdirku bersama Jong Jin akan selalu terjadi sampai
maut merenggut.
Udara sore terasa hangat yang
dibalut oleh kebahagian dimana tempat kami berdua berpadu kasih. Dibawah pohon
cemara inilah, aku dan Jong Jin sering menghabiskan waktu sore dengan bercanda
sambil meminum-minuman yang hangat dan manis. Tempat ini menjadi saksi akan
cinta kita berdua.
Srekkkkkk terdengar suara langkah
kaki seseorang dari arah belakang. Siapakah dia? Kenapa dia tahu tempat
rahasiaku bersama Jong Jin.
Kim Jong Woon
Setiap orang yang ku kenal sikapnya
telah berubah. Mereka terasa sedang mengatur hidupku saat ini. Apakah aku terlihat
kekanak-kanakan sehingga orang tua yang ku sayangi terus membicarakan sikap dewasa
Jong Jin. Apakah mempunyai kembaran selalu dibeda-bedakan seperti ini?.
Aku menatap diriku sendiri dalam
cermin. Perkataan orang tua tadi membuat ku berfikir keras. Memang selama ini
sikap dan perilaku begitu tidak dewasa dan hanya mementingkan diri sendiri.
“Jong Jin~ahh,
aku tidak pantas sirik padamu. Dari kecil kau memang pintar dan baik, tidak
sepertiku yang malas dan jahil. Pantas saja jika orang tua kita lebih
menyayangimu. Aku sebagai kakak tidak bisa mendidikmu, bahkan sering kali kau
yang selalu menasehatiku” ucapku yang masih berdiri di depan cermin kamar Jong
Jin.
“mulai saat ini,
aku akan menggantikanmu menjadi orang yang sukses dan dapat membantu bekerja di
perusahaan keluarga seperti yang kau lakukan” ucapku kembali sambil memantapkan
pikiran yang selama ini terus ada di dalam keinginan.
Brukkkkk... tidak sengaja tangan
kiriku menepis pas poto yang terletak di sebelah cermin. Terlihat poto sang
adik yang sedang tersenyum bahagia seperti menatap seseorang. Di dalam poto
tersebut Jong Jin terlihat duduk dibawah pohon yang rindang dengan fanorama
rumput hijau yang indah.
“Musim
Semi bersama belahan jiwaku”. Terlihat tulisan tangan tepat berada di
belakang poto tersebut. aku membalikan kembali, langsung menatap lokasi yang
menjadi objek tempat Jong Jin. Terbesit bayangan masa kecil. Tempat tersebut
adalah tempat dimana kami menghabiskan masa kecil.
Dengan semangat yang berkobar
menyala, aku berangkat menuju lokasi tempat dimana masa kecil bersama Jong Jin.
Suasana taman terasa banyak sekali perubahan yang sangat drastis. Rumput hijau
kian tertata rapi dan terlihat indah. Pohon yang menjadi objek kebersamaan masa
kecil masih sama seperti dahulu.
Aku terus berjalan dihamparan rumput
hijau. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Hamparan kesegaran alam begitu
menyayat hati seakan bermekaran. Hanya di tempat inilah kebebasan atas segala
masalah dapat hilang dengan mudah. Dengan kesenangannya itu tanpa disengaja aku
menginjak dahan pohon kecil yang sudah kering. Kemudian aku mengambil dahan itu
dan akan diletakan dibawah pohon.
“hey siapa kau?”
teriakku ketika dibalik pohon tersebut terlihat seorang gadis yang sedang
menunduk. Rambut panjang yang terurai membuat wajahnya tertutup.
“siapa kau? Dan
mau apa?” dengan getaran ketakutan ia mengangkat wajahnya dan menatap kearah
lelaki yang berada tepat di depannya.
“ka ka kauuuu”
ucapku mengenalnya. “kau pacarnya Jong Jin bukan?” tanyaku dengan apa yang aku
ketahui.
“benar. Bukankah
kau yang mengaku saudara Jong Jin. Siapa kau sebenarnya?” perempuan itu berdiri
tegak memandang kerahku dengan tatapan menyelidik.
“aku memang
saudaranya. Namaku Jong Woon” sambil menjulurkan tangan kanan untuk berkenalan.
“bagaimana aku
bisa percaya bahwa kau saudaranya? Sedangkan selama ini Jong Jin tidak pernah
memberitahuku bahwa ia mempunyai kakak atau adik”
“lihatlah poto
ini!” aku mengeluarkan satu lembar poto berukuran kecil dan langsung
memperlihatkan kearah perempuan yang berada di depanku. Poto tersebut sudah
usang karena sudah termakan usia yang begitu lama.
“itu poto Jong
Jin~ku” perempuan itu berkaca-kaca setelah melihat Jong Jin kecil tersenyum
lebar. Tetapi, saat ini dia sudah pergi. Bayanganpun tidak bisa dihampirinya.
“dan yang sedang
duduk disebelah Jong Jin adalah diriku” sambil menunjuk sosok anak kecil dalam
poto tersebut yang berada di sebelah kanan Jong Jin kecil.
“sekarang aku
percaya bahwa kau saudaranya Jong Jin. Salam kenal, namaku Hye Mi” sekarang
giliran perempuan itu yang memulai untuk berkenalan.
Gadis ini begitu cantik dan menawan,
ia memang pantas menjadi pacar Jong Jin. Terlihat dari seulas senyum kecilnya
bahwa perempuan ini sangat lembut hatinya. Ucapannya halus bagaikan hembusan
angin dimusin semi, yang suaranya terdengar begitu lembut kedalam telinga.
“sekarang aku
sangat percaya bahwa Jong Jin mempunyai saudara” Hye Mi tersenyum bahagia,
menandakan bahwa ia telah menemukan ingatan di kejadian lama.
“kamar kalian
bersebelahan bukan? Dulu, ketika Jong Jin mengajakku kerumahnya dan menyuruhku
untuk masuk ke kamar yang berada di lantai dua. Saat itu, ada dua kamar dengan
design ruangan yang sama. Aku kira itu kamar Jong Jin karena ada beberapa
potonya, tetapi ternyata bukan kamar dia”
“kau memang
benar” sambil menganggukan kepala. “yang kau masuki adalah kamarku. Semua yang
ada di kamarku sangat mirip dengan kamar Jong Jin. Aku memang tidak ingin kalah
darinya, sehingga apa-pun harus sama” sambil berjalan perlahan.
Hye Mi mengikuti langkah kaki ku
dari belakang. Kami berdua akhirnya duduk di kursi taman. Ia terlihat begitu
bahagia. Perlahan demi perlahan secercah senyum kian terlihat jelas dari
wajahnya. Kegembiraan menemaninya saat ini.
Berbanding terbalik dengan apa yang
diperlihatkan dari wajah polosku. Kesedihan terus berada dalam diri. Aku hanya
bisa menunduk sedih saat mengingat masa kecil yang indah bersama saudara yang
begitu ku sayangi. Kini, kebahagiaan masa lalu sudah sirna oleh waktu dan
keadaan. Jong Jin tidak bisa kembali lagi. Hanya kenangan yang dapat menghidupkan
Jong Jin, tetapi tidak dengan raganya.
“ini minumlah!”
pinta Hye Mi setelah megeluarkan sesuatu dari tasnya. “susu kocok ini minuman
favorit Jong Jin. Aku selalu meminum ini saat sedang merindukannya”
“terima kasih”
sambil menerima susu tersebut.
“aku bisa
merasakan suasana hatimu” ucap perempuan itu dengan perlahan. “kau
merindukannya”.
Entah aku merindukannya atau
penyesalanku kepadanya yang begitu banyak. Sebagai seorang kakak aku tidak bisa
kalah darinya. Apa pun yang kami lakukan harus sama. Setiap kali Jong Jin lebih
hebat dariku, aku sering marah kepadanya. Sikap kekanak-kanakanku seperti itu
mungkin masih berlaku sampai sekarang. Itulah alasan kenapa aku sangat
menyesali kepergian Jong Jin. Satu kata pun belum keluar dari mulutku untuk meminta
maaf.
“maafkan aku
Jong Jin~ahh” aku tertunduk menahan tangis.
Sung Hye Mi
Ini sungguh nyata dan bukan
halusinasi lagi. Kerinduanku terhadap sosok pahlawan hatiku kini telah
terobati. Aku tahu jika dia bukan Jong Jin~ku, tetapi saat melihat lelaki ini
aku merasakan kehadiran Jong Jin disampingnya.
Reflika Jong Jin ini bernama Jong
Woon. Saat ini, dia sedang meratapi penyesalainnya atas kepergian Jong Jin. Aku
bisa merasakan kesedihannya, aku juga bisa merasakan kerinduannya, karena apa
yang dirasakannya sama dengan apa yang aku rasakan.
Lelaki ini menangis dalam kediaman
hatinya. Tangis yang tidak bisa di dengarkan oleh orang lain. Tetapi gerak
tubuhnya menandakan ia sedang menangis kesakitan. Jauh dengan apa yang
dirasakan lelaki disampingku. Saat ini, saat mendengar nama Jong Jin aku bahkan
tidak dapat mengeluarkan air mata, entah kenapa? Mungkin hatiku berkata bahwa
Jong Jin masih hidup dan Jong Woon telah dianggap seperti Jong Jin kedua.
“kenapa kau tau
tempat ini?”
“taman ini
adalah tempat kami menghabiskan waktu bersama saat masih kecil” ucap Jong Woon
sambil mengarahkan wajah yang terlihat tegar namun hatinya rapuh.
“aku harus
pulang sekarang. Senang bertemu denganmu Jong Woon~ssi” kataku sambil berdiri.
“ku anatar kau
pulang” Jong Woon juga bangkit berdiri.
“tidak usah”
“tetapi aku
ingin mengantarmu pulang. Anggap saja aku seperti teman barumu”
“baiklah”
Kami berdua berjalan menyusuri rumut
hijau yang begitu asri. Hanya ada kebisuan saat kami berjalan. Semilir angin
tidak mampu membuka mulutku untuk dapat berbicara kepadanya. Setelah sampai ke
perbatasan taman, barulah mulutku dapat berucap. Lidah yang telah terkunci
rapat kini dapat terbuka setelah melihat sebuah benda yang pernah terjadi di
masa lalu.
“mobil itu”
lirihku perlahan sambil menunjuk kearah mobil di seberang jalan yang terpakir
di dekat pohon cemara.
“itu mobil Jong
Jin. Kau pasti mengenalnya, karena kau pacar adikku” ucap Jong Woon sambil
berjalan menghampiri mobil.
“mobil itu telah
membawa Jong Jin menuju kematiannya”
“apa maksudmu?”
langkah kaki Jong Woon terdiam. Ia membalikkan badan menghadap kearahku dengan
tatapan heran.
“dua tahun yang
lalu, mobil tersebut ditabrak oleh mobil pengendara lainnya. Sebenarnya, Jong
Jin menyetir mobil tersebut dengan perlahan, tetapi tabrakan dari belakang
membuat mobil yang kami tumpangi
terbalik” jawabku dengan jujur atas kejadian dua tahun lalu yang aku alami
bersama Jong Jin.
“kami?” tanya
Jong Woon semakin penasaran. “kalian berdua?”
“benar. Kalau
saja waktu itu aku langsung membawa Jong Jin ke rumah sakit, mungkin saat ini
ia masih hidup dan dapat menikmati udara kebebasan.”
“kau juga pasti
mengalami luka paran. Bagaimana kau mampu membawanya ke rumah sakit? Sedangkan
kau sendiri pasti membutuhkan bantuan orang lain.”
“kalau saja
waktu itu aku tidak langsung di selamatkan oleh beberapa orang, aku mungkin
sudah hidup bersama Jong Jin di alam kematian”
“bersyukurlah
Hye Mi! Karena tuhan masih menyayangimu dan membuatmu masih hidup sampai saat
ini”
“tetapi maaf,
aku tidak bisa pulang dengan mobil itu. Melihat mobil itu aku seperti melihat
Jong Jin yang tertimbun mobil terbalik sedang kesakitan menahan luka”
“aku tidak akan
memaksamu”
Bayangan Jong Jin kini sudah
menghilang. Apakah aku bisa bertemu dengan dia? Melihatnya dapat menggantikan
sosok lelaki yang sudah lama tiada. Aku mengiyakan saat orang disekitarku
mengatakan bahwa aku wanita bodoh yang selalu menunggumu. Tetapi, kali ini
penantianku akan dirimu sudah terbukti bahwa kau telah hidup kembali lewat
sosok Jong Woon.
Mulai saat ini dan detik ini juga,
aku dapat kembali tidur nyenyak. Kerinduanku terhadapmu dapat terobati setelah
melihatnya.
Kim Jong Woon
“minggu depan
kau harus bekerja di kator” Ayah memulai pembicaraan ketika kami selesai makan
malam. Ibu menunggu jawabanku, apakah aku akan menerimanya atau tidak.
“akhirnya ayah
berkata seperti itu. aku sudah menunggu ayah mengajakku bekerja bersama”
Ibu
mengusap dadanya dan tersenyum bahagia. “Jong Woon-ku sudah besar. Ibu senang
jika kau bisa bekerja dan dapat memegang perusahaan”
Satu minggu telah berlalu.
Gedung pencakar langit ini menjadi
tempat kerja pertamaku. Dengan gagah berani, aku mengenakan setelah jas hitam
rapi memasuki ruang kerja pribadi. Setiap kali berada di luar ruangan, semua
orang yang melihat kearahku memberikan senyuman dan memberikan penghormatan.
Brukkk.. brukkk... brukk cacing di
perutku sudah tidak bisa ajak berkonsentrasi lagi. Makan siang sudah berakhir
satu jam yang lalu. Sebagai atasan yang bijaksana aku tidak mungki keluar
kantor, tetapi aku juga tidak bisa menahan lapar hingga jam pulang.
Kemudian aku tersadar beberapa saat.
Sebelum berpisah dengan ayah, ia sempat memberikan nomor ponsel sekertaris. Apa
pun yang perlu di inginkan harus lewat sekertarisnya. Wahhh, ayah begitu baik.
“tolong datang
ke ruanganku sekarang!” pinta dalam telepon, kemudian terputus.
Baru beberapa jam bekerja, lelah dan
letih sudah menghantuiku. Astaga, ternyata bekerja itu sangat membosankan.
Menutup mata sambil merebahkan tubuh adalah salah satu cara menghilangkan
stres.
Tok.. tok.. tokk
“masuklah”
Suara langkah kaki seseorang
menghampiri.
“bisa tolong
belikan saya satu set makan siang. Karena saat ini banyak pekerjaan yang harus
saya lakukan”
“baik”
Suara itu, aku seperti pernah mendengar
nada suara itu. Lembut.
Sekitar
lima belas menit lamanya mataku ditutup untuk dirileksasikan. Hingga akhirnya,
suara tersebut muncul lagi. “silahkan dimakan” katanya.
“Hye Mi~ssi?
Apakah itu kau?”
Perempuan tersebut malah tersenyum.
“apa kau bekerja
disini?” tanyaku. Perempuan itu memang benar Hye Mi. Sosok perempuan yang baru
ku kenal beberapa hari yang lalu.
“aku bekerja
disini” jawabnya singkat.
Hye Mi pun pergi setelah memberi
hormat kearahku. Senyumnya begitu indah. Aku tidak yakin bisa bertemu dengannya
kembali. Tetapi, takdir mungkin berkata lain, bahwa kita memang akan bertemu.
Inilah surga yang sesungguhnya.
Dimana kebebasan telah datang kearahku. Pekerjaan ini baru bisa selesai sekitar
jam tujuh malam. Sungguh melelahkan sekali.
Malam yang indah di jalanan kota
Seoul. Hamparan lampu menyala indah dengan warna yang berbeda. Dingin ini
semakin terasa dan menghampiri tubuhku. Jas tidak cukup untuk menghangatkan
badan.
“tunggu Hye
Mi~ssi!”
Hye Mi menoleh dan tersenyum
kearahku. Dengan perlahan langkah kakinya maju ke depan beberapa meter menuju
kearah tempat ku berdiri saat ini.
“tuan, kau
terlihat kedinginan. Apa kau mau minum sesuatu agar dapat menghangatkan
teggorokanmu?”
“jangan
memanggilku dengan sebutan tuan. Aku terlihat tua dengan sebutan tersebut. Jong
Woon saja jika kau menyebut namaku”
Dia tersenyum bercahaya.
“ikutlah
denganku. Ada kedai kopi yang enak dan sangat manis”
Sung Hye Mi
Dari awal aku sudah tahu bahwa Jong
Woon yang akan menggantikan posisi manager. Ketika dia memintaku untuk
membelikan makanan, aku sudah tidak kaget lagi, karena aku sudah tahu bahwa
dialah yang menuyuhku. Tapi, sepertinya dia tidak tahu bahwa aku sudah bekerja
di perusahaannya. Lihatlah wajahnya, ketika mengetahui bahwa aku adalah
sekertaris di perusahaan, ia begitu kaget dan tidak percaya.
Kedai kopi ini salah satu kedai
minuman yang paling enak di dekat sini. Aku sering menghabiskan malam di tempat
ini bersama Jong Jin. Mocca Rose salah satu minuman favorit kami. Apakah Jong
Woon lidahnya sama seperti Jong Jin? Entahlah aku juga tidak tau.
“susu cokelat
panas satu” pinta Jong Woon kepada salah satu pelayan yang datang.
“mocca rose”
pintaku.
Satu orang yang memiliki wajah sama
belum tentu keinginan akan sesuatu menjadi sama. Memang benar apa yang di
ucapkan Siwon, bahwa selama ini aku memang terikat oleh bayangan akan sosok
Jong Jin. Selama ini, aku selalu membuat Jong Woon untuk menjadi Jong Jin agar
hatiku merasa senang. Itu untuk membuat kerinduanku terhadap Jong Jin dapat
terobati.
“kenapa tidak
memesan kopi?” tanyaku kearah lelaki yang sedang duduk di depanku.
“aku tidak
terlalu suka minum kopi” jawabnya sambil meneguk susuk cokelat yang sudah
berada di meja.
“ternyata kau
berbeda dengan Jong Jin. Dia sangat menyukai kopi”
“karena aku
bukan Jong Jin” Jong Woon tersenyum sambil terpaksa.
“kau Jong Jin
buatku. Kau kembarannya”
“kau menganggap
ku orang yang kau sayang, tetapi maaf sekali, aku bukan kembaranku sendiri. Aku
adalah aku dan Jong Jin adalah dia. Meskipun wajah kami sama tetapi kami dua
manusia yang berbeda”
“aku tidak
menyamakanmu”
“aku tau jika
sampai saat ini kau masih belum bisa melupakan saudaraku dan masih
menganggapnya hidup dalam tubuhku. Jika kau melihatku sebagai Jong Jin dan
bukan sebagai Jong Woon kau begitu egois, karena kau tidak menghargaiku dan
tidak menginginkanku sebagai Jong Woon”
“maafkan aku”
Perkataanku sudah melukai perasaan
Jong Woon. Aku tidak bermaksud menyakiti hatinya. Sungguh, aku tidak bermaksud
seperti itu. sampai saat ini, aku masih juga bingung, apakah aku menganggap
orang yang ada di depanku adalah Jong Woon dan bukan Jong Jin.
“kau tidak perlu
meminta maaf”
*****
Jong Jin kenapa kau selalu datang
menghantuiku? Kita sudah lama berpisah tetapi sosokmu selalu menghinggapi
pikiranku. Saudaramu terlihat marah kepadaku karena aku selalu menyamakan
kalian. Sungguh, bayang-bayangmu membuatku melihatnya sepertimu.
“oppa apa yang
harus aku lakukan? Bantu aku agar bayang-bayang Jong Jin bisa lepas dari
ingatanku tetapi sosoknya jangan pergi dari hatiku. Bagaimana pun juga, Jong
Jin sosok yang telah mengisi hari-hariku selama beberapa tahun. Jadi akan sulit
untuk melepaskan sosoknya dari hatiku. Aku hanya ingin agar setiap kali melihat
Jong Woon adalah dia dan bukan Jong Jin” tanyaku kepada Siwon agar dia dapat
memberikan solusi yang tepat.
“kau seharusnya
mendengarkan perkataanku bahwa jangan terlalu memikirkannya. Kalau oppa bilang
kau harus mencari pasangan baru, seharusnya kau menuruti perintahku. Kali ini
kau merasakannya bukan, bahwa masa lalu tidak selalu di anggap ada tetapi masa
lalu harus kau kenang?” Siwon mulai memberikan sarannya. Baru kali ini hatiku
terbuka dengan apa yang dikatakan Siwon.
Aku hanya terdiam setelah mendengarkan
ucapannya. Ternyata perkataan Siwon selama ini memang benar.
“jangan mengikat
janji bahwa kau ingin hidup bersamanya sampai maut menghampirimu. Janji manusia
yang masih hidup tidak akan bertahan lama, apalagi janji kalian yang satunya
sudah tiada. Anggap saja jika janji itu tidak pernah terikat”
“aku mengerti
sekarang”
Kim Jong Woon
Pertemuanku dengan Hye Mi membuatku
sakit hati. Aku bukanlah Jong Jin. Aku adalah Jong Woon kebalikan dari Jong Jin
dan bukan persamaannya.
Beberapa minggu sudah berlalu dari
kejadian itu. Kita hanya bertemu di kantor untuk membahas soal perusahaan. Aku
mungkin gila karena jantungku selalu berdebar saat melihatnnya dan selalu panas
dingin jika melihat senyumnya.
Acara ini di adakan hari kamis
malam. Semua pekerja bawahan mengajakku untuk minum bersama karena saham
perusahaan telah berhasil naik berkat kedatanganku di kantor ini. Kami semua
akhirnya tiba disalah satu rumah makan hidangan seafood. Hye Mi juga ikut dalam
kemeriahan ini. Tetapi, tidak terlihat seulas senyum dari wajahnya. Kalau pun
ia tersenyum, itu adalah senyum palsu agar semua orang yang melihat menganggap bahwa
ia baik-baik saja.
Keseruan ini selesai setelah tengah
malam. Beberapa orang bergantian pergi menggunakan kendaraan masing-masing.
Hanya sisa dua orang disini. Aku dan Hye Mi masih duduk. Aku berdiri dan
melangkahkan kaki beberapa langkah, namun sosok Hye Mi pun enggan juga bangkit.
Ia masih terduduk dengan tangan terus mengusap kearah kepalanya. Mungkin ia
terlalu banyak minum.
Tidak mungkin aku meninggalkan
perempuan sendirian di tempat ini.
“Hye Mi~ahh apa
kau sadar?”
“Jong Woon~ssi
maafkan aku. Aku tidak menganggapmu seperti dia” lirih Hye Mi dalam bawah
sadarnya. Meskipun sikapnya seperti itu, ia masih bisa tersenyum manis.
Aku menggendongnya ke dalam mobil
dan membawanya pulang. terpaksa aku membawanya ke rumahku karena aku tidak tahu
dimana ia tinggal.
Kenapa ia banyak minum? Sebenarnya
apa yang ia rasakan saat ini. Jika sikapku beberapa minggu yang lalu telah
melukai hatinya aku sungguh minta maaf. Juga aku minta maaf kepadanya karena
beberapa minggu terakhir aku tidak menyapanya bahkan tidak ingin berkata
kepadanya. Sikapku yang seperti itu memang seperti anak kecil. Aku menyadari
bahwa selama kita tidak berbicara ada sesuatu yang hampa yang aku rasakan.
Kini Hye Mi sudah terlelap dalam
mimpi indahnya. Aku ingin membelai wajahnya, namun aku tidak bisa. Cukup
mengaguminya dalam diam itu sudah cukup bagiku. Aku merasa senang jika bisa
melihat wajah dan senyum perempuan ini.
Rasa sayangku terhadapnya tidak
dapat di ungkapkan. Aku tidak boleh egois untuk mencintainya karena, perempuan
ini adalah pacar saudaraku sendiri.
Sung Hye Mi
“kau sudah
bangun?” tanya seseorang yang sedang berdiri memandang kearahku. Wajahnya tidak
terlalu jelas karena tersorot sinar matahari dari balik jendela.
“Jong Woon~ssi?”
jawabku sambil mengucek-ngucek mataku dengan kedua tangan.
“cepat bangun
dan turunlah!” pintanya kemudian bergegas pergi.
Astaga.... apa yang telah terjadi
tadi malam? Kenapa aku bisa berada di rumah ini? Kenapa dia tidak membawaku
pulang?
“ayo makan Hye
Mi~ssi!” pinta Tuan Kim yang merupaka ayah Jong Woon, ketika aku sudah berada
di antara mereka.
“maafkan saya
tuan, nyonya, saya tidak bermaksud tidur di rumah ini?”
“berhentilah menganggap
kami seperti orang lain. Jong Jin sering membawamu kesini, tapi sekarang Jong
Woon lah yang menarikmu masuk”
“itu terjadi dua
tahun yang lalu”
“apa bedanya dua
tahun yang lalu dan sekarang. Kau sudah kami anggap seperti keluarga sendiri”
kata Nyonya Kim.
Jong Woo hanya tersenyum melihatku.
Ia tidak berbicara sepatah kata pun kepada orang tuanya untuk menjelaskan apa
yang terjadi tadi malam.
Jadilah, pagi ini aku makan bersama
dengan keluarga Kim. Kejadian ini pernah ku alami. Tetapi yang berada di
sampingku waktu itu bukanlah Jong Woon. Canggung dan malu seakan muncul
kembali. Keluarga ini sudah terasa nyaman bagiku. Kebaikan Tuan Kim begitu ku
rasakan dan juga kasih sayang Nyonya Kim masih terasa sama tidak pernah
berubah.
“ku antar kau
pulang Hye Mi~ahh?” kata Jong Woon setelah selesai makan.
Akhirnya aku bisa pulang sekitar jam
empat sore. Nyonya Kim menyuruhku untuk menginap malam ini, tetapi aku
menolaknya karena tidak ada yang membuatkan makan malam untuk Siwon.
Layaknya telah menjadi keluarga.
Disinilah aku dan Nyonya Kim membereskan rumah bersama, sedangkan Jong Woon dan
Tuan Kim sedang memancing di kolam belakang rumah. Siang ini kami habiskan
waktu dengan kesenangan, canda dan tawa.
Jong Woon selalu menyelipkan kata
pujian ketika kami sedang mengobrol santai. Entahlah ini persaanku atau bukan
bahwa Jong Woon selalu memberikan senyum kearahku dan selalu memperhatikannku.
Dengan senang hati, aku selalu membalas senyumnya setiap mata kita saling
bertemu.
“baiklah jum’at
nanti aku bisa datang” telepon tersebut terputus. Aku menyimpan kembali
ponselku ke dalam tas.
“siapa?” tanya
Jong Woon sambil fokus ke depan, menyetir dengan penuh perhatian.
“temanku akan
mengadakan jumpa fans. Aku disuruh datang”
“kau fan-nya?”
“bukan. Mungkin
setelah jumpa fans akan ada makan-makan. Dia mengajakku untuk makan”
“yang mana
rumahmu” kata Jong Woon setelah sampai di daerah tempat tinggalku.
“stop!”
Mobil berhenti di depan rumah yang
berwarna cat cokelat. Gaya klasik terlihat jelas. Dan inilah rumahku.
“apa kau mau
bertemu dengan oppa~ku?”
“saat ini aku
tidak bisa” Jong Woon tersenyum kecil.
“aku akan
menunggu kau mampir ke rumahku” Hye Mi pun membalas senyumnya.
Kim Jong Woon
Apakah aku sudah gila? Tidak
mungkin. Aku tidak bisa mencintai orang yang sudah pernah menjalin hubungan
dengan saudaraku sendiri. Bagaimana jika arwah Jong Jin tidak menyetujui kami.
Dia pasti akan sangat marah. Bertambahlah penyesalanku, jika aku menuruti kata
hati bahwa aku mencintai gadis itu.
Beberapa hari ini badanku terasa
tidak enak. Kepalaku sangat berat dan terasa pusing. Pekerjaan di kantor
terpaksa harus di cancel untuk dua hari ke depan.
Rumah terasa sangat sepi. Orang
tuaku sedang perjalanan bisnis ke jeju untuk tiga hari ini. Astaga... bagaimana
aku bisa melakukan aktivitas di rumah sedirian? Leeteuk~ssi, jangan tanya dia.
Dia memang sahabat baikku, tetapi dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Huaaaaaaa...
“apa kau sakit? Dari tadi pagi kantor terasa sepi
tidak ada kau Manager Kim J” satu pesan masuk dari Hye Mi.
Aku hanya bisa tersenyum ketika
membaca pesan dari gadis itu. Perhatiananya. Seharusnya ia tidak bersikap
seperti itu kepadaku. Hal seperti itulah yang membuatku terus memikirkannya.
Dia memang gadis baik.
Aku tidak akan membalas pesannya.
Maafkan aku.
“Manager Kim kau sakit apa?”
“Kim Jong Woon~ssi??????”
Pesan tersebut datang secara silih
berganti. Jangan pernah memberikan perhatian terlalu dalam. aku mohon! aku
hanya manusia biasa yang selalu tersentuh dengan kata seperti itu.
Salju berhasil menemaniku malam ini.
Sepi dan dingin kini telah menyatu. Lemas ini terasa menggangguku. Bagaimana
aku bisa ke luar rumah, sedangkan pergi ke dapur hanya untuk mengambil minum
terasa malas sekali.
“kau memang
seperti anak kecil Jong Woon~ssi” kata Hye Mi dari balik pintu kamar. Wajarnya
terlihat kesal. Dengan sekejap ia sudah berdiri di samping tempat tidurku.
Aku hanya bisa mematung diri di atas
ranjang tempat tidur. Mulutku seakan terkunci. Aku sangat terkejut melihatnya
ada di rumahku. Kejadian ini pasti Cuma mimpi atau ini hanya halusinasi saja.
“apa itu kau?”
“jangan
melihatku seperti hantu” kata Hye Mi yang sekarang sudah duduk di dekat
tubuhku. “bagaimana keadaanmu? Aku mendapat kabar di kantor tadi pagi bahwa kau
sakit. Kenapa kau tidak membalas pesanku?” tangan halus kini sedang menempel
pada jidatku yang terasa sedikit panas.
Lagi.. lagi aku tidak mampu untuk
berucap.
“aku membawa
bubur. Cepat makanlah!”
Sung Hye Mi
Maafkan aku Jong Jin~ahh! Kini
hatiku sudah bisa terbuka kepada dia. Sekarang aku sudah bisa melihat dia
adalah dia dan bukan kau. Masa lalu yang aku miliki tidak selamanya aku simpan
dengan baik dalam sangkar emas yang sulit untuk dibuka. Benar kata Siwon, bahwa
masa lalu harus dijadikan cerminan masa depan. Sekali lagi, aku minta maaf.
Jika mulai saat ini, aku merasakan kehangatan saat berada di dekat Jong Woon.
Tapi percayalah, bahwa sosokmu tida pernah hilang dalam ingatanku.
Saat aku mendengar bahwa Jong Woon
sakit aku begitu khawatir kepadanya. Kekawatiranku semakin memuncak saat ia
tidak membalas pesan dariku. Aku takut jika sakitnya parah.
“aku tidak sakit
parah. Jangan pasang wajah seperti itu. kau terlihat jelek” kata Jong Woon.
“apa aku tidak
boleh mengkhawatirkanmu?”
“kau tidak usah
bersikap seperti ini. Aku sakit karena musim dingin disini sangat menusuk
kulitku. Yaampun, mungkin aku harus kembali ke Amerika lagi” ia bersikap
seperti itu. aku tau itu hanya alasannya saja. Seharusnya kau jangan
membodohiku seperti anak kecil.
“terserah kau
saja mau bicara apa” ucapku agak sedikit sinis tanpa menatap kearahnya. Aku
sungguh tidak suka dengan ucapannya. “kalau begitu, aku pulang sekarang.
Mungkin kedatanganku tidak membuatmu bisa beristirahat”
Dia tidak melihat perhatian yang aku
berikan. Kenapa dia? Apa otaknya telah rusak?. Dengan persaan berat akhirnya
aku berjalan kearah pintu. Mungkin ia bisa istirahat jika aku pulang.
“jangan pergi!”
teriaknya. “temani aku malam ini saja. Aku mohon Hye Mi”
Kini senyumku kembali bermekar. Aku
tau, jika ia kesepian dirumah ini sendirian. Dengan senang hati aku rela
menemaninya.
Aku memutar balikkan tubuhku dan
mulai berjalan kearahnya.
Jadilah malam ini, aku habiskan
untuk menemaninya. Perasaan ini selalu hadir saat berada di dekatnya. Perasaan
memang tidak bisa berbohong dan hati juga berkata bahwa aku memang mencintai
lelaki ini.
Tangan Jong Woon membelai wajahku.
Kini tubuhku sudah berada di dalam pelukan hangatnya. Tanpa ku sadari tadi
malam, ternyata aku tidur di sampingnya. Aku tidak ingin membuka mata untuk
beberapa saat ini. Biarkan aku tetap di dalam pelukannya. Kebahagiannya seperti
ini tidak bisa di dapatkan setiap saat. “aku mencintaimu” bisikku dalam hati.
Belaian hangat tangan Jong Woon kini
telah berubah menjadi genggaman hangat yang sangat erat. Tangan halusnya
membuatku enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Belaian hangat yang penuh
dengan keromantisan. Itulah yang aku rasakan saat ini.
*****
Aku tidak berani untuk membangunkan
dia dalam tidurnya yang sangat lelap. Pagi tadi sebelum pulang, aku sudah
membuatkan bubur panas untuknya. Aku yakin keadaannya sudah mulai membaik. Aku
percaya, besok ia sudah kembali sembuh dan seperti biasa kembali.
Aku
pergi tanpa pamit terlebih dahulu, karena Siwon terus saja menuyuruhku untuk
segera pulang. dasar Siwon, ia tidak bisa makan sendirian. Ia selalu ingin
makan ditemani oleh adiknya. Kalau seperti ini terus ia tidak bisa hidup
sendiri.
“kau seharusnya
cepat menikah” saranku ketika kami sedang makan siang bersama.
“jika aku
menikah, siapa yang akan menjagamu? Siapa yang akan mendengarkan curhatanmu.
Kakakmu ini yang selalu setia menjadi radio untukmu. Kau akan kehilangan, jika
aku menikah” jawab Siwon sedikit meledek. Ia sepertinya masih menganggap aku
anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, kenyataannnya aku sudah besar
dan bisa hidup sendiri.
“aku juga harus
menikah, agar kau tidak perlu menjadi radioku lagi”
“apaaaa?” siwon
menghentikan makannya. “kau jangan dulu menikah. Aku tidak akan mengijinkan kau
menikah sebelum aku mendapatkan calon yang cocok untukmu”
“aku mau menikah
dengan Jong Woon”
“apaaaa?” mata
Siwon seperti mau lepas. Ia sangat kaget mendengarnya. “lelaki yag katanya
mirip Jong Jin?”
“kembarannya”
“sama saja. Aku
yakin kau melihatnya sebagai Jong Jin kan?”
“tidak lagi”
“terus”
“dia Jong Woon.
Akan selamanya jadi Jong Woon”
“mustahil”
“kau harus
percaya”
“apa dia mau
menikah denganmu?”
“aku belum tahu.
Dia belum memberitahukan perasaannya kepadaku”
Siwon membuang napasnya dalam-dalam.
tangannya di hentakan ke atas meja. ia melanjutkan makannya kembali dengan
selera yang sudah berkurang.
Kim Jong Woon
Pakaianku kini sudah rapi. Aku harus
menghadiri suatu acara malam ini. Mobil merah yang aku kendarai bukanlah milik
Jong Jin melainkan hasil uangku sendiri. Astagaa, aku seperti orang kaya asli
jika sudah membeli barang dengan uang sendiri.
Caffe
ini memang luar bisa hebat. Di dalam maupun diluar begitu luas. Pantas saja
jika Leeteuk menyewa tempat ini untuk orang bayak. Sekarang aku menyadari,
bahwa kawanku jauh telah hebat dariku.
Tidak
banyak memang temannya yang hadir dalam acara ini. Karena ini acara di
khususkan untuk banyak orang yang telah mendukungnya. Bukan di khususkan untuk
reunian semua temannya.
“akhirnya..
bagus kau datang Jong Woon~ssi” sapa Leeteuk sambil menepuk punggungku dari
belakang.
“ternyata fan~mu
begitu banyak, teman”
“setelah jumpa
fan selesai kau harus langsung naik ke lantai paling atas”
“memangnya ada
apa?” tanyaku sangat penasaran.
“bukan apa-apa”
Wooowwwww sangat keren. Aku baru
menyadari bahwa di Korea ini ternyata Leeteuk sangat terkenal di kalangan para
gadis muda.
Makanan disini sangat lezat. Caffe
ini selalu menyuguhkan makanan yang sangat menggiurkan.
Kenapa ditempat ramai seperti ini,
aku terus memikirkan sosok Hye Mi. Bahkan halusinasiku terlihat nyata tidak
seperti mimpi. Aku tahu ini bukan bayangan melainkan ini benar-benar nyata.
“apakah ini kau
Hye Mi~ssi” tanyaku ketika sudah berada di samping perempuan itu. postur
tubuhnya seperti Hye Mi. Namun aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia
membelakangiku.
“yaampun, ini
memang kau”
Hye Mi tersenyum kecil.
“jadi, Leeteuk
juga temanmu? Bagaimana kalian bisa berteman?”
“ketika Jong Jin
dan aku masih bersama, aku dan Leeteuk telah menjadi teman” jawabnya.
“aku, Jong Jin
dan Leeteuk sudah berteman dari kecil. Pasti kau kenal dari Jong Jin bukan?”
Lagi lagi Hye Mi hanya memberikan
senyum manisnya.
“kau juga datang
Hye Mi~ssi. Terima kasih banyak” kata Leeteuk ke arah Hye Mi ketika ikut
menimbrung pembicraan kami.
“terima kasih
karena telah mengundangku” balas Hye Mi.
Pukul sembilan malam jumpa fan telah
berakhir. Kini saatnya para teman yang menghadiri acara ini diajak ke lantai
atas untuk makan malam. Sungguh menakjubkan, tempat ini di setting sedemikian
bagus dengan panorama putih yang mengelilingi ruangan. Hidangan special
tersuguh sangat banyak dengan aneka macam. Beberapa teman Leeteuk yang termasuk
temanku juga hadir dalam acara ini. Perkiraanku salah. Ternyata, bukan acara
jumpa fan yang berlangsung, melainkan reunian para sahabat juga.
Satu meja dengan tiga kursi di
duduki oleh aku, Leeteuk dan Hye Mi.
“aku harap kau
dapat mengungkapkan perasaanmu saat ini juga” bisik Leeteuk dengan pelan tanpa
di ketahui oleh Hye Mi.
“aku takut jika
ia menolak cintaku”
“yakinlah pada
dirimu sendiri. Aku sangat yakin ia sangat mencintaimu. Dia tidak mencintai
saudaramu lagi” kata Leeteuk berbisik lagi.
Sedangkan Hye Mi mengangkat halis
dan menatap kearah kami berdua. Mungkin ia penasaran karena kami saling
berbisik tanpa sepengetahuannya.
Tepat pukul setengah sebelas malam.
Acara makan malam ini pun hampir selesai. Kami semua bersiap untuk pulang.
tetapi, perkataan Leeteuk terngiang-ngiang dalam telingaku. Dia memang benar,
aku harus percaya pada diriku sendiri.
Akhirnya, aku memberanikan diri.
“semua yang
hadir di acara ini. Mohon tunggu beberapa menit” kataku memberi pengumuman saat
berada di panggung berukuran kecil yang menghadap ke arah orang banyak yang
sedang makan.
Beberapa orang yang sudah berdiri
mau pergi kii terlihat duduk kembali.
“aku akan
menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat berharga bagiku”
Geudaereul
saranghae my love
modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
Kkeutnaejwoyo
geudaeneun modeun ge wanbyeokhae
geu eotteon nugudo bigyohal su eobneun han song i jangmi
kkotboda areumdaeun geudaeneun laillag hyang giboda hyang i johayo
nae yeopeul jinal ttaen meoli heutnallil ttaen naemsaega joha
geu eotteon nugudo bigyohal su eobneun han song i jangmi
kkotboda areumdaeun geudaeneun laillag hyang giboda hyang i johayo
nae yeopeul jinal ttaen meoli heutnallil ttaen naemsaega joha
Cheoncheonhi
naege dagawa jullaeyo
nae maeum i nog anaelyeoyo
nae maeum i nog anaelyeoyo
Geudaereul
saranghae my love modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
han song i kkotboda geudaeneun yeppeoyo nuni busyeoyo
saranghago isseoyo kkotboda geunyo
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
han song i kkotboda geudaeneun yeppeoyo nuni busyeoyo
saranghago isseoyo kkotboda geunyo
Yeogilbwayo
dareun goseun boji malayo
geudae ui du nun e namalgo daereun geon damji marayo
jogeumman ppali dagawa jullaeyo nae maeum i tadeuleogayo
geudae ui du nun e namalgo daereun geon damji marayo
jogeumman ppali dagawa jullaeyo nae maeum i tadeuleogayo
Geudaereul
saranghae my love modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
han song i kkotboda geudaeneun yeppeoyo nuni busyeoyo
saranghago isseoyo kkotboda geunyo
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
han song i kkotboda geudaeneun yeppeoyo nuni busyeoyo
saranghago isseoyo kkotboda geunyo
Geudaereul
saranghae my love modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
geudaeman baraboneun nan haebaragi
neon saeppalgan jangmi geudaen nae sam ui jeonbu
geudaereul saranghaeyo
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
geudaeman baraboneun nan haebaragi
neon saeppalgan jangmi geudaen nae sam ui jeonbu
geudaereul saranghaeyo
Semua orang bertepuk tangan termasuk
Hye Mi.
Semua orang menikmatinya. Aku
berharap Hye Mi pun seperti mereka. Sepertinya memang benar, ia terus tersenyum
kearahku. Jantungku berdebar begitu kencang. Aku memang sangat mencintainya.
Aku harus percaya pada diriku sendiri.
“Hye Mi, lagu
ini aku persembahkan untukmu karena aku sangat mencintaimu. Maukah kau
menemaniku? Mau kah kau menjadi pacarku?”
Terlihat dari wajahnya, Hye Mi
tersenyum bahagia. ia berdiri dari tempat duduknya dan menatapku sambil
mengeluarkan air mata. Dengan segera mungkin, aku menghampiri mendekatinya.
“WILL YOU BE A SPECIAL
LADY TO ME?”
Aku memberikan barang yang sangat
berharga ini kepadanya. Sebuah cincin berlian ini pemberian orang tuaku ketika
mereka pulang dari Jeju. Cincin ini hanya bisa di berikan kepada perempuan yang
benar-benar mereka inginkan. Perempuan itu adalah Hye Mi.
“I WILL”
jawabnya singkat namun penuh makna dan arti yang sangat luas.
Terima kasih Hye Mi. Kau telah
menjadi bidadariku. Aku harap kita dapat bahagia selamanya. Dia memelukku
sangat erat. Pelukan yang tidak ingin di lepaskan. Sungguh kebahagian ini baru
aku rasakan saat ini.
The woman who I love is You until
the end.
Sung Hye Mi
Kini aku merasakan kebahagian yang
sesungguhya. Aku pun sangat menyadari dan percaya bahwa kau bukanlah kembaranmu
kau tetaplah Jong Woon. Lelaki yang sangat aku cintai. Terima kasih karena kau
telah berada di hidupku sebagai dirimu sendiri dan bukan orang lain.
Sweet
moment just our have. I love you so much.
Komentar
Posting Komentar