She Over Flowers



She Over Flowers
Sung Hye Mi
            Hari ini.. hari dimana kami memperingati kematian Jong Jin yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Kecelakaan itu, masih terbayang dalam pikiranku. Sulit rasanya menghilangkan kejadian yang telah merenggut nyawa seseorang yang dicintai. Kalau saja aku tidak berada di lokasi kejadian. Pasti sedikit demi sedikit aku bisa melupakan kenangan yang pernah kita lalui bersama. Namun, hatiku seakan pecah. Ketika kenangan itu masih berada dalam hati dan pikiranku. Jong Jin meninggalkan kenangan manis yang berpadu kasih. Sulit sekali memudarkan kenangan untuk perlahan pergi dari hati dan pikiranku. Kalau saja, waktu itu aku segera membawanya ke rumah sakit. Pasti ia masih hidup dan berada di sampingku. Tapi, takdir telah berkata. Bahwa ia harus meninggal saat itu juga.

Kim Jong Woon
            Salju musim dingin mulai berjatuhan. Penggambaran hatiku saat ini sangat cocok dengan musim salju. Karena, aku sedang kalang kabut karena ketika adikku meninggal, aku tidak berada di sampingnya. Hanya sekeder memperingati pun aku tidak bisa. Negara ini sungguh membuatku tidak bisa berdekatan dengan keluarga. Tetapi, justru Amerika membuatku banyak pengalaman untuk hidup yang lebih baik dengan kerja keras yang tinggi. Meskipun orang tua masih mengasingkan ku di Amerika. Tetapi aku mencoba untuk kabur dan pergi ke Korea. Mereka menganggapku seperti anak tiri. Jauh dari kasih sayang, tapi kaya akan uang mereka.
Akhirnya sampai juga dimana aku di lahirkan. Korea, Seoul aku datang.
“Aku pulangggggggg” memeluk Ayah dan Ibu yang sedang berdiri di depan rumah sambil memandangi salju. Wajah mereka terlihat kanget. Diam beribu bahasa lalu tersadar kembali.
“Ahhhh Jong Woon anakku, kau sudah pulang?” ketika tersadar ibu langsung memeluk.
“Anak gila.. bagaimana kau tidak mengabari kami sebelumnya. Bagaimana dengan kuliahmu disana?” ayah membentakku, lalu memelukku seperti yang ibu lakukan.
“Aku pulang karena aku sangat merindukan kalian. Aku seperti anak tiri saat berada di Amerika. dan juga aku akan pergi ke pemakaman Jong Jin”
“Kami tidak mengasingkanmu. Kami melakukan itu Justru kami sayang padamu” bentak ayah sekali lagi.
“Iyaaaa aku paham”
Aku bergegas menuju ke makam Jong Jin lalu mendoakannya. Memakai kacamata agar tidak terlihat bahwa aku akan menangis saat sampai di tempatnya. Meratapi penyesalan karena tidak berada di sampingnya saat maut datang dan mengambil nyawanya.

Sung Hye Mi
            Aku telah bersiap-siap untuk membawa seikat bunga mawar merah yang harum ke makam Jong Jin. Mengenakan baju panjang berwarna putih yang memberikan ketenangan, tak lupa memakai syal serta penutup telinga agar tidak terasa dingin.
“Mau kemana Hye Mi~ahh?” tanya Siwon.
“Aku mau pergi ke pemakaman Jong Jin. Kau mau ikut oppa?” tanyaku sambil membetulkan rambut yang terikat.
“Tidak bisa. Saat ini aku mau pergi kerja. Kalau nanti sore bagaimana? Nanti oppa antar?”
“Itu telalu lama. Kalau begitu aku pergi sekarang”
            Salju mengantarku menuju tempat terakhir Jong Jin. Perjalanan ini terasa lama dan hampa. Sebentar lagi sampai dan hatiku masih tak bisa percaya ini. Mataku mulai mengeluarkan air mata. Kesedihan semakin memuncak saat tiba di makamnya.
Terlihat seorang lelaki berdiri di makam Jong Jin. Postur tubuhnya hampir sama, gaya rambut pun tidak jauh berbeda. Siapa dia?.
“Hey siapa kau? Apakah kau yang menabrak Jong Jin dua tahun yang lalu?” Tanyaku dengan perasaan takut telah berkata seperti itu.
“Bukan... aku adalah saudaranya. Lantas siapa kau?” dia mengangkat kepalanya dan menunjuk ke arahku dengan tidak sopan.
“Aku kekasihnya.. ah bukan.. lebih tepat mantan kekasih, karena dia sudah tiada” ucapku agak sedikit kaku tak karuan. Meskipun ada rasa malu karena telah mengataka hal seperti itu.
“Ohh begitu rupanya” lelaki itu membuka kacamata hitam yang di pakainya.
             Kejadian ini membuatku shock bukan main. Wajahnya sangat mirip dengan Jong Jin. Hidungnya mancung, gaya rambutnya begitu mirip dengan JongJin waktu dua tahun yang lalu. Dia terlihat nyata seperti Jong Jin. Reflika Jong Jin kembali hidup ke dunia. Aku sungguh tak percaya ini.
            Arah pandanganku masih tertuju kepadanya. Saat ia berjalan menjauh dari pemakaman, tetap saja sorot mataku melekat mengikuti kemana ia pergi. Aku ingin  mengenalnya lebih jauh. Berharap sosok Jong Jin ada di dalam hatinya. Agar kerinduan terhadap Jong Jin bisa terobati melalui dia.
            Waktu sudah hampir siang, namun perasaanku seperti belum lama berada disini. Kerinduanku terhadap lelaki yang begitu ku sayang semakin memuncak tidak tertahankan lagi. Aku ingin pergi bersamanya, aku ingin memulai hidup baruku bersamanya di surga nanti. Jong Jin sosok lelaki yang setia dan tidak suka berbohong. Aku percaya, meskipun alam kita sudah berbeda tetapi ia masih menungguku dan cintanya tidak akan pudar oleh jarak yang begitu jauh, yang sulit untuk ditembus dan dilalui.

Kim Jong Woon
            Apakah kota kelahiranku sudah berubah? Kenapa adikku tidak memberitahu bahwa ia sudah mempunyai kekasih. Kenapa ia tidak memberitahukan kepada pacarnya bahwa ia mempunyai seorang kakak yang begitu tampan. Astaga... kalau kau masih hidup, aku tidak akan memberitahumu siapa pacarku nanti.
“huaaaaaaa... kenapa musim dingin terasa sangat dingin sekali?” Jong Woon melemparkan tubuhnya sendiri keatas ranjang tempat tidur. Ia sudah mengenakan jaket tebal dan dibalut oleh selimut yang begitu hangat, namun dingin terus saja menghantuinya.
            Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Aku masih bergulat dengan selimut yang masih terasa dingin. Beberapa kali mengoceh tidak jelas. Detik demi detik terus berjalan. Akhirnya aku memunculkan keberanian untuk keluar dari tempat tidur dan langsung pergi keluar rumah. Saat ini aku ingin beradaptasi kembali dengan musim di Korea yang selama beberapa tahun ini tidak dirasakanannya.
            Mobil mewah berwarna biru yang terparkir di bagasi rumah kini telah dibawa pergi. Salah satu mobil kesayangan adikku yang selama dua tahun terakhir tidak dipanaskan bahkan tidak pernah dipakai kembali. Tetapi, aku dengan sengaja dan tidak mematuhi perintah orang tua malah mengambil dan menggunakannya. Sikap yang aku tampilkan seperti seorang adik dan Jong Jin seperti kakak. Sikap ku begitu kekanak-kanakan. Itu memang benar.
“kenapa aku harus mematuhi perintahmu? Kalau kau ingin bertemu datanglah kerumahku. Saat ini aku tidak bisa keluar malam” teleponnya sudah terlebih dahulu ditutup sebelum sempat balas berucap.
            Dengan wajah yang begitu kesal, aku langsung membalikkan arah jalan yang akan dituju dan berbelok ke arah kanan. Terus melajukan mobil dengan kencang melewati tempat yang ramai. Hingga akhirnya, menghentikan mobil tepat di depan rumah mewah dengan lampu warna-warni yang menggantung disekitar taman.
“sudah berapa lama kau berada di Korea?” tanya seorang lelaki saat masuk di ruang tamu. Belum juga tubuhku direbahkan diatas kursi, pertanyaan lelaki itu sudah mendarat di telinga bagian dalam.
“tepat dua tahun pada hari kepergian Jong Jin” jawabku. Akhirnya bisa merileksasikan tubuh dengan menyenderkan ke belakang kursi.
“apa kau kakak yang baik? Kenapa kau baru pulang sekarang?”
“tentu saja aku kakak yang baik. Pengasinganku dari orang tua yang membuatku tidak bisa pulang ke Korea waktu itu”
“yahhhh Jong Woon~ssi dengarkan aku baik-baik! Jika kau bisa menyelesaikan kuliahmu lebih awal, kau tidak mungkin diasingkan selama itu. salahmu sendiri yang selalu bersenang-senang dan tidak mendengarkan perintah orangtuamu untuk belajar dengan serius”
“berhentilah menceramahiku Leeteuk~ssi!”
“yakkkkk...” bentak Leeteuk. “setiap kali aku berkata yang benar, kau selalu berkata seperti itu. Jika sikapmu seperti ini terus dan tidak kau rubah, jangan pernah kau datang kerumahku lagi dan berusaha menemuiku”
“berhenti mengancamku seperti itu” ucapku dengan wajah takut kehilangan sosok teman yang sudah lama di kenal. “baiklah. Mulai sekarang aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi”
“benar teman” Leeteuk tersenyum bahagia. “seorang lelaki yang tangguh dan kuat tidak pernah mengingkari ucapannya”.
            Aku hanya bisa terdiam. Sebenarnya ucapan yang keluar dari mulutku cuma berbohong. Namun, mendengar perkataan Leeteuk, aku terpaksa harus merubah diriku sendiri.

Sung Hye Mi
“apa kau melihatnya dengan jelas?” tanya Siwon oppa dengan penasaran, ketika kami sedang santai di ruang tamu.
“aku menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan ia begitu mirip. Tubuhya tepat berada didepanku. Aku tidak mungkin salah melihat”
“ingatanmu hanya terfokus pada Jong Jin. Mungkin kau melihatnya seperti dia” ucap Siwon tak percaya dengan ucapanku barusan.
“dia mengatakan kalau dia saudaranya Jong Jin”
“apa kau percaya dengan perkataanya?”
“tentu saja. Bisa jadi, kalau dia adalah kembarannya Jong Jin. Dia begitu mirip sekali. Kau akan kaget jika kau telah melihatnya”
“apakah sebelumnya Jong Jin telah memberitahumu bahwa ia mempunyai saudara?”
Siwon begitu penasaran. Ia berusaha membuka ingatanku tentang Jong Jin. Sosok Jong Jin saat pertama kali bertemu tergambar jelas oleh ingatanku. Saat Jong Jin memberitahuku tentang keluarganya begitu jelas dan terasa nyata. Terlihat dalam ingataku saat ia begitu menyayangi kedua orang tuanya dan membicarakn mereka dengan segala kebaikannya.
“aku tidak medengar jika ia berkata mempunyai saudara. Ia hanya menyebutkan kedua orang tuanya begitu baik dan menyayanginya” jawabku.
“kalau begitu, lupakan orang yang mirip dengan Jong Jin itu! pikiranmu jangan terus mengingat tentang Jong Jin. Ia hanya masa lalumu. Kau harus bisa melepaskannya dan mulai mencari cinta yang telah lama hilang dalam hatimu”
“tapi oppaaa”
Aishhhhh.... Perkataanku langsung dipotong “temukan orang yang bisa membuka lembaran baru hidupmu dengan penuh cinta agar kau bisa melupakan lelaki itu. oppa yakin kalau kau dapat menemukannya dan hidupmu akan bahagia”
“tetapi, aku telah berjanji bahwa hidupku hanya untuknya. Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan dia dari hati dan ingatanku. Kenangan yang telah kita lalui beberapa tahun terakhir tidak mudah untuk dilupakan apalagi dihapusnya” kata-kataku sangat menegaskan dan meyakinkan Siwon.
“berhenti berkata seperti itu!” bentak Siwon, yang membuat ku tertunduk kaget. “apa kau sanggup menempati janji dengan orang yang sudah meninggal? Jika sikapmu seperti ini terus, hidupmu akan selalu dibayang-bayangi olehnya. Belajarlah untuk melepaskannya! Oppa yakin kau bisa dan mampu membuang kenangan kalian. Bukalah lembaran baru yang penuh cinta dan kasih sayang kembali. Oppa mohon padamu” tangan Siwon membelai jemariku yang sedang tertunduk menahan kesedihan dengan apa yang dikatakan olehnya.
“aku akan mencoba perintahmu” jawabku sedikit kesal, menatap sang kakak kemudian pergi meninggalkan dia sendiri.
            Apa salahnya jika manusia mampu menempati janjinya? Kisah cintaku bersama lelaki yang aku cintai tidak mudah untuk dilupakan. Kebersamaan kita begitu hangat dan terasa manis. Canda dan gelak tawanya tidak mampu membuatku untuk melupakannya. Kisah cinta manusia tidak bisa dipaksakan oleh siapapun, meskipun oleh keluargaku sendiri. Perasaanku mengatakan bahwa takdirku bersama Jong Jin akan selalu terjadi sampai maut merenggut.
            Udara sore terasa hangat yang dibalut oleh kebahagian dimana tempat kami berdua berpadu kasih. Dibawah pohon cemara inilah, aku dan Jong Jin sering menghabiskan waktu sore dengan bercanda sambil meminum-minuman yang hangat dan manis. Tempat ini menjadi saksi akan cinta kita berdua.
            Srekkkkkk terdengar suara langkah kaki seseorang dari arah belakang. Siapakah dia? Kenapa dia tahu tempat rahasiaku bersama Jong Jin.

Kim Jong Woon
            Setiap orang yang ku kenal sikapnya telah berubah. Mereka terasa sedang mengatur hidupku saat ini. Apakah aku terlihat kekanak-kanakan sehingga orang tua yang ku sayangi terus membicarakan sikap dewasa Jong Jin. Apakah mempunyai kembaran selalu dibeda-bedakan seperti ini?.
            Aku menatap diriku sendiri dalam cermin. Perkataan orang tua tadi membuat ku berfikir keras. Memang selama ini sikap dan perilaku begitu tidak dewasa dan hanya mementingkan diri sendiri.
“Jong Jin~ahh, aku tidak pantas sirik padamu. Dari kecil kau memang pintar dan baik, tidak sepertiku yang malas dan jahil. Pantas saja jika orang tua kita lebih menyayangimu. Aku sebagai kakak tidak bisa mendidikmu, bahkan sering kali kau yang selalu menasehatiku” ucapku yang masih berdiri di depan cermin kamar Jong Jin.
“mulai saat ini, aku akan menggantikanmu menjadi orang yang sukses dan dapat membantu bekerja di perusahaan keluarga seperti yang kau lakukan” ucapku kembali sambil memantapkan pikiran yang selama ini terus ada di dalam keinginan.
            Brukkkkk... tidak sengaja tangan kiriku menepis pas poto yang terletak di sebelah cermin. Terlihat poto sang adik yang sedang tersenyum bahagia seperti menatap seseorang. Di dalam poto tersebut Jong Jin terlihat duduk dibawah pohon yang rindang dengan fanorama rumput hijau yang indah.
            Musim Semi bersama belahan jiwaku”. Terlihat tulisan tangan tepat berada di belakang poto tersebut. aku membalikan kembali, langsung menatap lokasi yang menjadi objek tempat Jong Jin. Terbesit bayangan masa kecil. Tempat tersebut adalah tempat dimana kami menghabiskan masa kecil.
            Dengan semangat yang berkobar menyala, aku berangkat menuju lokasi tempat dimana masa kecil bersama Jong Jin. Suasana taman terasa banyak sekali perubahan yang sangat drastis. Rumput hijau kian tertata rapi dan terlihat indah. Pohon yang menjadi objek kebersamaan masa kecil masih sama seperti dahulu.
            Aku terus berjalan dihamparan rumput hijau. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Hamparan kesegaran alam begitu menyayat hati seakan bermekaran. Hanya di tempat inilah kebebasan atas segala masalah dapat hilang dengan mudah. Dengan kesenangannya itu tanpa disengaja aku menginjak dahan pohon kecil yang sudah kering. Kemudian aku mengambil dahan itu dan akan diletakan dibawah pohon.
“hey siapa kau?” teriakku ketika dibalik pohon tersebut terlihat seorang gadis yang sedang menunduk. Rambut panjang yang terurai membuat wajahnya tertutup.
“siapa kau? Dan mau apa?” dengan getaran ketakutan ia mengangkat wajahnya dan menatap kearah lelaki yang berada tepat di depannya.
“ka ka kauuuu” ucapku mengenalnya. “kau pacarnya Jong Jin bukan?” tanyaku dengan apa yang aku ketahui.
“benar. Bukankah kau yang mengaku saudara Jong Jin. Siapa kau sebenarnya?” perempuan itu berdiri tegak memandang kerahku dengan tatapan menyelidik.
“aku memang saudaranya. Namaku Jong Woon” sambil menjulurkan tangan kanan untuk berkenalan.
“bagaimana aku bisa percaya bahwa kau saudaranya? Sedangkan selama ini Jong Jin tidak pernah memberitahuku bahwa ia mempunyai kakak atau adik”
“lihatlah poto ini!” aku mengeluarkan satu lembar poto berukuran kecil dan langsung memperlihatkan kearah perempuan yang berada di depanku. Poto tersebut sudah usang karena sudah termakan usia yang begitu lama.
“itu poto Jong Jin~ku” perempuan itu berkaca-kaca setelah melihat Jong Jin kecil tersenyum lebar. Tetapi, saat ini dia sudah pergi. Bayanganpun tidak bisa dihampirinya.
“dan yang sedang duduk disebelah Jong Jin adalah diriku” sambil menunjuk sosok anak kecil dalam poto tersebut yang berada di sebelah kanan Jong Jin kecil.
“sekarang aku percaya bahwa kau saudaranya Jong Jin. Salam kenal, namaku Hye Mi” sekarang giliran perempuan itu yang memulai untuk berkenalan.
            Gadis ini begitu cantik dan menawan, ia memang pantas menjadi pacar Jong Jin. Terlihat dari seulas senyum kecilnya bahwa perempuan ini sangat lembut hatinya. Ucapannya halus bagaikan hembusan angin dimusin semi, yang suaranya terdengar begitu lembut kedalam telinga.
“sekarang aku sangat percaya bahwa Jong Jin mempunyai saudara” Hye Mi tersenyum bahagia, menandakan bahwa ia telah menemukan ingatan di kejadian lama.
“kamar kalian bersebelahan bukan? Dulu, ketika Jong Jin mengajakku kerumahnya dan menyuruhku untuk masuk ke kamar yang berada di lantai dua. Saat itu, ada dua kamar dengan design ruangan yang sama. Aku kira itu kamar Jong Jin karena ada beberapa potonya, tetapi ternyata bukan kamar dia”
“kau memang benar” sambil menganggukan kepala. “yang kau masuki adalah kamarku. Semua yang ada di kamarku sangat mirip dengan kamar Jong Jin. Aku memang tidak ingin kalah darinya, sehingga apa-pun harus sama” sambil berjalan perlahan.
            Hye Mi mengikuti langkah kaki ku dari belakang. Kami berdua akhirnya duduk di kursi taman. Ia terlihat begitu bahagia. Perlahan demi perlahan secercah senyum kian terlihat jelas dari wajahnya. Kegembiraan menemaninya saat ini.
            Berbanding terbalik dengan apa yang diperlihatkan dari wajah polosku. Kesedihan terus berada dalam diri. Aku hanya bisa menunduk sedih saat mengingat masa kecil yang indah bersama saudara yang begitu ku sayangi. Kini, kebahagiaan masa lalu sudah sirna oleh waktu dan keadaan. Jong Jin tidak bisa kembali lagi. Hanya kenangan yang dapat menghidupkan Jong Jin, tetapi tidak dengan raganya.
“ini minumlah!” pinta Hye Mi setelah megeluarkan sesuatu dari tasnya. “susu kocok ini minuman favorit Jong Jin. Aku selalu meminum ini saat sedang merindukannya”
“terima kasih” sambil menerima susu tersebut.
“aku bisa merasakan suasana hatimu” ucap perempuan itu dengan perlahan. “kau merindukannya”.
            Entah aku merindukannya atau penyesalanku kepadanya yang begitu banyak. Sebagai seorang kakak aku tidak bisa kalah darinya. Apa pun yang kami lakukan harus sama. Setiap kali Jong Jin lebih hebat dariku, aku sering marah kepadanya. Sikap kekanak-kanakanku seperti itu mungkin masih berlaku sampai sekarang. Itulah alasan kenapa aku sangat menyesali kepergian Jong Jin. Satu kata pun belum keluar dari mulutku untuk meminta maaf.
“maafkan aku Jong Jin~ahh” aku tertunduk menahan tangis.

Sung Hye Mi
            Ini sungguh nyata dan bukan halusinasi lagi. Kerinduanku terhadap sosok pahlawan hatiku kini telah terobati. Aku tahu jika dia bukan Jong Jin~ku, tetapi saat melihat lelaki ini aku merasakan kehadiran Jong Jin disampingnya.
            Reflika Jong Jin ini bernama Jong Woon. Saat ini, dia sedang meratapi penyesalainnya atas kepergian Jong Jin. Aku bisa merasakan kesedihannya, aku juga bisa merasakan kerinduannya, karena apa yang dirasakannya sama dengan apa yang aku rasakan.
            Lelaki ini menangis dalam kediaman hatinya. Tangis yang tidak bisa di dengarkan oleh orang lain. Tetapi gerak tubuhnya menandakan ia sedang menangis kesakitan. Jauh dengan apa yang dirasakan lelaki disampingku. Saat ini, saat mendengar nama Jong Jin aku bahkan tidak dapat mengeluarkan air mata, entah kenapa? Mungkin hatiku berkata bahwa Jong Jin masih hidup dan Jong Woon telah dianggap seperti Jong Jin kedua.
“kenapa kau tau tempat ini?”
“taman ini adalah tempat kami menghabiskan waktu bersama saat masih kecil” ucap Jong Woon sambil mengarahkan wajah yang terlihat tegar namun hatinya rapuh.
“aku harus pulang sekarang. Senang bertemu denganmu Jong Woon~ssi” kataku sambil berdiri.
“ku anatar kau pulang” Jong Woon juga bangkit berdiri.
“tidak usah”
“tetapi aku ingin mengantarmu pulang. Anggap saja aku seperti teman barumu”
“baiklah”
            Kami berdua berjalan menyusuri rumut hijau yang begitu asri. Hanya ada kebisuan saat kami berjalan. Semilir angin tidak mampu membuka mulutku untuk dapat berbicara kepadanya. Setelah sampai ke perbatasan taman, barulah mulutku dapat berucap. Lidah yang telah terkunci rapat kini dapat terbuka setelah melihat sebuah benda yang pernah terjadi di masa lalu.
“mobil itu” lirihku perlahan sambil menunjuk kearah mobil di seberang jalan yang terpakir di dekat pohon cemara.
“itu mobil Jong Jin. Kau pasti mengenalnya, karena kau pacar adikku” ucap Jong Woon sambil berjalan menghampiri mobil.
“mobil itu telah membawa Jong Jin menuju kematiannya”
“apa maksudmu?” langkah kaki Jong Woon terdiam. Ia membalikkan badan menghadap kearahku dengan tatapan heran.
“dua tahun yang lalu, mobil tersebut ditabrak oleh mobil pengendara lainnya. Sebenarnya, Jong Jin menyetir mobil tersebut dengan perlahan, tetapi tabrakan dari belakang membuat mobil yang  kami tumpangi terbalik” jawabku dengan jujur atas kejadian dua tahun lalu yang aku alami bersama Jong Jin.
“kami?” tanya Jong Woon semakin penasaran. “kalian berdua?”
“benar. Kalau saja waktu itu aku langsung membawa Jong Jin ke rumah sakit, mungkin saat ini ia masih hidup dan dapat menikmati udara kebebasan.”
“kau juga pasti mengalami luka paran. Bagaimana kau mampu membawanya ke rumah sakit? Sedangkan kau sendiri pasti membutuhkan bantuan orang lain.”
“kalau saja waktu itu aku tidak langsung di selamatkan oleh beberapa orang, aku mungkin sudah hidup bersama Jong Jin di alam kematian”
“bersyukurlah Hye Mi! Karena tuhan masih menyayangimu dan membuatmu masih hidup sampai saat ini”
“tetapi maaf, aku tidak bisa pulang dengan mobil itu. Melihat mobil itu aku seperti melihat Jong Jin yang tertimbun mobil terbalik sedang kesakitan menahan luka”
“aku tidak akan memaksamu”
            Bayangan Jong Jin kini sudah menghilang. Apakah aku bisa bertemu dengan dia? Melihatnya dapat menggantikan sosok lelaki yang sudah lama tiada. Aku mengiyakan saat orang disekitarku mengatakan bahwa aku wanita bodoh yang selalu menunggumu. Tetapi, kali ini penantianku akan dirimu sudah terbukti bahwa kau telah hidup kembali lewat sosok Jong Woon.
            Mulai saat ini dan detik ini juga, aku dapat kembali tidur nyenyak. Kerinduanku terhadapmu dapat terobati setelah melihatnya.

Kim Jong Woon
“minggu depan kau harus bekerja di kator” Ayah memulai pembicaraan ketika kami selesai makan malam. Ibu menunggu jawabanku, apakah aku akan menerimanya atau tidak.
“akhirnya ayah berkata seperti itu. aku sudah menunggu ayah mengajakku bekerja bersama”
Ibu mengusap dadanya dan tersenyum bahagia. “Jong Woon-ku sudah besar. Ibu senang jika kau bisa bekerja dan dapat memegang perusahaan”
            Satu minggu telah berlalu.
            Gedung pencakar langit ini menjadi tempat kerja pertamaku. Dengan gagah berani, aku mengenakan setelah jas hitam rapi memasuki ruang kerja pribadi. Setiap kali berada di luar ruangan, semua orang yang melihat kearahku memberikan senyuman dan memberikan penghormatan.
            Brukkk.. brukkk... brukk cacing di perutku sudah tidak bisa ajak berkonsentrasi lagi. Makan siang sudah berakhir satu jam yang lalu. Sebagai atasan yang bijaksana aku tidak mungki keluar kantor, tetapi aku juga tidak bisa menahan lapar hingga jam pulang.
            Kemudian aku tersadar beberapa saat. Sebelum berpisah dengan ayah, ia sempat memberikan nomor ponsel sekertaris. Apa pun yang perlu di inginkan harus lewat sekertarisnya. Wahhh, ayah begitu baik.
“tolong datang ke ruanganku sekarang!” pinta dalam telepon, kemudian terputus.
            Baru beberapa jam bekerja, lelah dan letih sudah menghantuiku. Astaga, ternyata bekerja itu sangat membosankan. Menutup mata sambil merebahkan tubuh adalah salah satu cara menghilangkan stres.
            Tok.. tok.. tokk
“masuklah”
            Suara langkah kaki seseorang menghampiri.
“bisa tolong belikan saya satu set makan siang. Karena saat ini banyak pekerjaan yang harus saya lakukan”
“baik”
            Suara itu, aku seperti pernah mendengar nada suara itu. Lembut.
Sekitar lima belas menit lamanya mataku ditutup untuk dirileksasikan. Hingga akhirnya, suara tersebut muncul lagi. “silahkan dimakan” katanya.
“Hye Mi~ssi? Apakah itu kau?”
            Perempuan tersebut malah tersenyum.
“apa kau bekerja disini?” tanyaku. Perempuan itu memang benar Hye Mi. Sosok perempuan yang baru ku kenal beberapa hari yang lalu.
“aku bekerja disini” jawabnya singkat.
            Hye Mi pun pergi setelah memberi hormat kearahku. Senyumnya begitu indah. Aku tidak yakin bisa bertemu dengannya kembali. Tetapi, takdir mungkin berkata lain, bahwa kita memang akan bertemu.
            Inilah surga yang sesungguhnya. Dimana kebebasan telah datang kearahku. Pekerjaan ini baru bisa selesai sekitar jam tujuh malam. Sungguh melelahkan sekali.
            Malam yang indah di jalanan kota Seoul. Hamparan lampu menyala indah dengan warna yang berbeda. Dingin ini semakin terasa dan menghampiri tubuhku. Jas tidak cukup untuk menghangatkan badan.
“tunggu Hye Mi~ssi!”
            Hye Mi menoleh dan tersenyum kearahku. Dengan perlahan langkah kakinya maju ke depan beberapa meter menuju kearah tempat ku berdiri saat ini.
“tuan, kau terlihat kedinginan. Apa kau mau minum sesuatu agar dapat menghangatkan teggorokanmu?”
“jangan memanggilku dengan sebutan tuan. Aku terlihat tua dengan sebutan tersebut. Jong Woon saja jika kau menyebut namaku”
            Dia tersenyum bercahaya.
“ikutlah denganku. Ada kedai kopi yang enak dan sangat manis”

Sung Hye Mi
            Dari awal aku sudah tahu bahwa Jong Woon yang akan menggantikan posisi manager. Ketika dia memintaku untuk membelikan makanan, aku sudah tidak kaget lagi, karena aku sudah tahu bahwa dialah yang menuyuhku. Tapi, sepertinya dia tidak tahu bahwa aku sudah bekerja di perusahaannya. Lihatlah wajahnya, ketika mengetahui bahwa aku adalah sekertaris di perusahaan, ia begitu kaget dan tidak percaya.
            Kedai kopi ini salah satu kedai minuman yang paling enak di dekat sini. Aku sering menghabiskan malam di tempat ini bersama Jong Jin. Mocca Rose salah satu minuman favorit kami. Apakah Jong Woon lidahnya sama seperti Jong Jin? Entahlah aku juga tidak tau.
“susu cokelat panas satu” pinta Jong Woon kepada salah satu pelayan yang datang.
“mocca rose” pintaku.
            Satu orang yang memiliki wajah sama belum tentu keinginan akan sesuatu menjadi sama. Memang benar apa yang di ucapkan Siwon, bahwa selama ini aku memang terikat oleh bayangan akan sosok Jong Jin. Selama ini, aku selalu membuat Jong Woon untuk menjadi Jong Jin agar hatiku merasa senang. Itu untuk membuat kerinduanku terhadap Jong Jin dapat terobati.
“kenapa tidak memesan kopi?” tanyaku kearah lelaki yang sedang duduk di depanku.
“aku tidak terlalu suka minum kopi” jawabnya sambil meneguk susuk cokelat yang sudah berada di meja.
“ternyata kau berbeda dengan Jong Jin. Dia sangat menyukai kopi”
“karena aku bukan Jong Jin” Jong Woon tersenyum sambil terpaksa.
“kau Jong Jin buatku. Kau kembarannya”
“kau menganggap ku orang yang kau sayang, tetapi maaf sekali, aku bukan kembaranku sendiri. Aku adalah aku dan Jong Jin adalah dia. Meskipun wajah kami sama tetapi kami dua manusia yang berbeda”
“aku tidak menyamakanmu”
“aku tau jika sampai saat ini kau masih belum bisa melupakan saudaraku dan masih menganggapnya hidup dalam tubuhku. Jika kau melihatku sebagai Jong Jin dan bukan sebagai Jong Woon kau begitu egois, karena kau tidak menghargaiku dan tidak menginginkanku sebagai Jong Woon”
“maafkan aku”
            Perkataanku sudah melukai perasaan Jong Woon. Aku tidak bermaksud menyakiti hatinya. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. sampai saat ini, aku masih juga bingung, apakah aku menganggap orang yang ada di depanku adalah Jong Woon dan bukan Jong Jin.
“kau tidak perlu meminta maaf”
*****
            Jong Jin kenapa kau selalu datang menghantuiku? Kita sudah lama berpisah tetapi sosokmu selalu menghinggapi pikiranku. Saudaramu terlihat marah kepadaku karena aku selalu menyamakan kalian. Sungguh, bayang-bayangmu membuatku melihatnya sepertimu.
“oppa apa yang harus aku lakukan? Bantu aku agar bayang-bayang Jong Jin bisa lepas dari ingatanku tetapi sosoknya jangan pergi dari hatiku. Bagaimana pun juga, Jong Jin sosok yang telah mengisi hari-hariku selama beberapa tahun. Jadi akan sulit untuk melepaskan sosoknya dari hatiku. Aku hanya ingin agar setiap kali melihat Jong Woon adalah dia dan bukan Jong Jin” tanyaku kepada Siwon agar dia dapat memberikan solusi yang tepat.
“kau seharusnya mendengarkan perkataanku bahwa jangan terlalu memikirkannya. Kalau oppa bilang kau harus mencari pasangan baru, seharusnya kau menuruti perintahku. Kali ini kau merasakannya bukan, bahwa masa lalu tidak selalu di anggap ada tetapi masa lalu harus kau kenang?” Siwon mulai memberikan sarannya. Baru kali ini hatiku terbuka dengan apa yang dikatakan Siwon.
            Aku hanya terdiam setelah mendengarkan ucapannya. Ternyata perkataan Siwon selama ini memang benar.
“jangan mengikat janji bahwa kau ingin hidup bersamanya sampai maut menghampirimu. Janji manusia yang masih hidup tidak akan bertahan lama, apalagi janji kalian yang satunya sudah tiada. Anggap saja jika janji itu tidak pernah terikat”
“aku mengerti sekarang”

Kim Jong Woon
            Pertemuanku dengan Hye Mi membuatku sakit hati. Aku bukanlah Jong Jin. Aku adalah Jong Woon kebalikan dari Jong Jin dan bukan persamaannya.
            Beberapa minggu sudah berlalu dari kejadian itu. Kita hanya bertemu di kantor untuk membahas soal perusahaan. Aku mungkin gila karena jantungku selalu berdebar saat melihatnnya dan selalu panas dingin jika melihat senyumnya.
            Acara ini di adakan hari kamis malam. Semua pekerja bawahan mengajakku untuk minum bersama karena saham perusahaan telah berhasil naik berkat kedatanganku di kantor ini. Kami semua akhirnya tiba disalah satu rumah makan hidangan seafood. Hye Mi juga ikut dalam kemeriahan ini. Tetapi, tidak terlihat seulas senyum dari wajahnya. Kalau pun ia tersenyum, itu adalah senyum palsu agar semua orang yang melihat menganggap bahwa ia baik-baik saja.
            Keseruan ini selesai setelah tengah malam. Beberapa orang bergantian pergi menggunakan kendaraan masing-masing. Hanya sisa dua orang disini. Aku dan Hye Mi masih duduk. Aku berdiri dan melangkahkan kaki beberapa langkah, namun sosok Hye Mi pun enggan juga bangkit. Ia masih terduduk dengan tangan terus mengusap kearah kepalanya. Mungkin ia terlalu banyak minum.
            Tidak mungkin aku meninggalkan perempuan sendirian di tempat ini.
“Hye Mi~ahh apa kau sadar?”
“Jong Woon~ssi maafkan aku. Aku tidak menganggapmu seperti dia” lirih Hye Mi dalam bawah sadarnya. Meskipun sikapnya seperti itu, ia masih bisa tersenyum manis.
            Aku menggendongnya ke dalam mobil dan membawanya pulang. terpaksa aku membawanya ke rumahku karena aku tidak tahu dimana ia tinggal.
            Kenapa ia banyak minum? Sebenarnya apa yang ia rasakan saat ini. Jika sikapku beberapa minggu yang lalu telah melukai hatinya aku sungguh minta maaf. Juga aku minta maaf kepadanya karena beberapa minggu terakhir aku tidak menyapanya bahkan tidak ingin berkata kepadanya. Sikapku yang seperti itu memang seperti anak kecil. Aku menyadari bahwa selama kita tidak berbicara ada sesuatu yang hampa yang aku rasakan.
            Kini Hye Mi sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Aku ingin membelai wajahnya, namun aku tidak bisa. Cukup mengaguminya dalam diam itu sudah cukup bagiku. Aku merasa senang jika bisa melihat wajah dan senyum perempuan ini.
            Rasa sayangku terhadapnya tidak dapat di ungkapkan. Aku tidak boleh egois untuk mencintainya karena, perempuan ini adalah pacar saudaraku sendiri.

Sung Hye Mi
“kau sudah bangun?” tanya seseorang yang sedang berdiri memandang kearahku. Wajahnya tidak terlalu jelas karena tersorot sinar matahari dari balik jendela.
“Jong Woon~ssi?” jawabku sambil mengucek-ngucek mataku dengan kedua tangan.
“cepat bangun dan turunlah!” pintanya kemudian bergegas pergi.
            Astaga.... apa yang telah terjadi tadi malam? Kenapa aku bisa berada di rumah ini? Kenapa dia tidak membawaku pulang?
“ayo makan Hye Mi~ssi!” pinta Tuan Kim yang merupaka ayah Jong Woon, ketika aku sudah berada di antara mereka.
“maafkan saya tuan, nyonya, saya tidak bermaksud tidur di rumah ini?”
“berhentilah menganggap kami seperti orang lain. Jong Jin sering membawamu kesini, tapi sekarang Jong Woon lah yang menarikmu masuk”
“itu terjadi dua tahun yang lalu”
“apa bedanya dua tahun yang lalu dan sekarang. Kau sudah kami anggap seperti keluarga sendiri” kata Nyonya Kim.
            Jong Woo hanya tersenyum melihatku. Ia tidak berbicara sepatah kata pun kepada orang tuanya untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi malam.
            Jadilah, pagi ini aku makan bersama dengan keluarga Kim. Kejadian ini pernah ku alami. Tetapi yang berada di sampingku waktu itu bukanlah Jong Woon. Canggung dan malu seakan muncul kembali. Keluarga ini sudah terasa nyaman bagiku. Kebaikan Tuan Kim begitu ku rasakan dan juga kasih sayang Nyonya Kim masih terasa sama tidak pernah berubah.
“ku antar kau pulang Hye Mi~ahh?” kata Jong Woon setelah selesai makan.
            Akhirnya aku bisa pulang sekitar jam empat sore. Nyonya Kim menyuruhku untuk menginap malam ini, tetapi aku menolaknya karena tidak ada yang membuatkan makan malam untuk Siwon.
            Layaknya telah menjadi keluarga. Disinilah aku dan Nyonya Kim membereskan rumah bersama, sedangkan Jong Woon dan Tuan Kim sedang memancing di kolam belakang rumah. Siang ini kami habiskan waktu dengan kesenangan, canda dan tawa.
            Jong Woon selalu menyelipkan kata pujian ketika kami sedang mengobrol santai. Entahlah ini persaanku atau bukan bahwa Jong Woon selalu memberikan senyum kearahku dan selalu memperhatikannku. Dengan senang hati, aku selalu membalas senyumnya setiap mata kita saling bertemu.
“baiklah jum’at nanti aku bisa datang” telepon tersebut terputus. Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam tas.
“siapa?” tanya Jong Woon sambil fokus ke depan, menyetir dengan penuh perhatian.
“temanku akan mengadakan jumpa fans. Aku disuruh datang”
“kau fan-nya?”
“bukan. Mungkin setelah jumpa fans akan ada makan-makan. Dia mengajakku untuk makan”
“yang mana rumahmu” kata Jong Woon setelah sampai di daerah tempat tinggalku.
“stop!”
            Mobil berhenti di depan rumah yang berwarna cat cokelat. Gaya klasik terlihat jelas. Dan inilah rumahku.
“apa kau mau bertemu dengan oppa~ku?”
“saat ini aku tidak bisa” Jong Woon tersenyum kecil.
“aku akan menunggu kau mampir ke rumahku” Hye Mi pun membalas senyumnya.

Kim Jong Woon
            Apakah aku sudah gila? Tidak mungkin. Aku tidak bisa mencintai orang yang sudah pernah menjalin hubungan dengan saudaraku sendiri. Bagaimana jika arwah Jong Jin tidak menyetujui kami. Dia pasti akan sangat marah. Bertambahlah penyesalanku, jika aku menuruti kata hati bahwa aku mencintai gadis itu.
            Beberapa hari ini badanku terasa tidak enak. Kepalaku sangat berat dan terasa pusing. Pekerjaan di kantor terpaksa harus di cancel untuk dua hari ke depan.
            Rumah terasa sangat sepi. Orang tuaku sedang perjalanan bisnis ke jeju untuk tiga hari ini. Astaga... bagaimana aku bisa melakukan aktivitas di rumah sedirian? Leeteuk~ssi, jangan tanya dia. Dia memang sahabat baikku, tetapi dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
            Huaaaaaaa...
“apa kau sakit? Dari tadi pagi kantor terasa sepi tidak ada kau Manager Kim J satu pesan masuk dari Hye Mi.
            Aku hanya bisa tersenyum ketika membaca pesan dari gadis itu. Perhatiananya. Seharusnya ia tidak bersikap seperti itu kepadaku. Hal seperti itulah yang membuatku terus memikirkannya. Dia memang gadis baik.
            Aku tidak akan membalas pesannya. Maafkan aku.
“Manager Kim kau sakit apa?”
“Kim Jong Woon~ssi??????”
            Pesan tersebut datang secara silih berganti. Jangan pernah memberikan perhatian terlalu dalam. aku mohon! aku hanya manusia biasa yang selalu tersentuh dengan kata seperti itu.
            Salju berhasil menemaniku malam ini. Sepi dan dingin kini telah menyatu. Lemas ini terasa menggangguku. Bagaimana aku bisa ke luar rumah, sedangkan pergi ke dapur hanya untuk mengambil minum terasa malas sekali.
“kau memang seperti anak kecil Jong Woon~ssi” kata Hye Mi dari balik pintu kamar. Wajarnya terlihat kesal. Dengan sekejap ia sudah berdiri di samping tempat tidurku.
            Aku hanya bisa mematung diri di atas ranjang tempat tidur. Mulutku seakan terkunci. Aku sangat terkejut melihatnya ada di rumahku. Kejadian ini pasti Cuma mimpi atau ini hanya halusinasi saja.
“apa itu kau?”
“jangan melihatku seperti hantu” kata Hye Mi yang sekarang sudah duduk di dekat tubuhku. “bagaimana keadaanmu? Aku mendapat kabar di kantor tadi pagi bahwa kau sakit. Kenapa kau tidak membalas pesanku?” tangan halus kini sedang menempel pada jidatku yang terasa sedikit panas.
            Lagi.. lagi aku tidak mampu untuk berucap.
“aku membawa bubur. Cepat makanlah!”

Sung Hye Mi
            Maafkan aku Jong Jin~ahh! Kini hatiku sudah bisa terbuka kepada dia. Sekarang aku sudah bisa melihat dia adalah dia dan bukan kau. Masa lalu yang aku miliki tidak selamanya aku simpan dengan baik dalam sangkar emas yang sulit untuk dibuka. Benar kata Siwon, bahwa masa lalu harus dijadikan cerminan masa depan. Sekali lagi, aku minta maaf. Jika mulai saat ini, aku merasakan kehangatan saat berada di dekat Jong Woon. Tapi percayalah, bahwa sosokmu tida pernah hilang dalam ingatanku.
            Saat aku mendengar bahwa Jong Woon sakit aku begitu khawatir kepadanya. Kekawatiranku semakin memuncak saat ia tidak membalas pesan dariku. Aku takut jika sakitnya parah.
“aku tidak sakit parah. Jangan pasang wajah seperti itu. kau terlihat jelek” kata Jong Woon.
“apa aku tidak boleh mengkhawatirkanmu?”
“kau tidak usah bersikap seperti ini. Aku sakit karena musim dingin disini sangat menusuk kulitku. Yaampun, mungkin aku harus kembali ke Amerika lagi” ia bersikap seperti itu. aku tau itu hanya alasannya saja. Seharusnya kau jangan membodohiku seperti anak kecil.
“terserah kau saja mau bicara apa” ucapku agak sedikit sinis tanpa menatap kearahnya. Aku sungguh tidak suka dengan ucapannya. “kalau begitu, aku pulang sekarang. Mungkin kedatanganku tidak membuatmu bisa beristirahat”
            Dia tidak melihat perhatian yang aku berikan. Kenapa dia? Apa otaknya telah rusak?. Dengan persaan berat akhirnya aku berjalan kearah pintu. Mungkin ia bisa istirahat jika aku pulang.
“jangan pergi!” teriaknya. “temani aku malam ini saja. Aku mohon Hye Mi”
            Kini senyumku kembali bermekar. Aku tau, jika ia kesepian dirumah ini sendirian. Dengan senang hati aku rela menemaninya.
            Aku memutar balikkan tubuhku dan mulai berjalan kearahnya.
            Jadilah malam ini, aku habiskan untuk menemaninya. Perasaan ini selalu hadir saat berada di dekatnya. Perasaan memang tidak bisa berbohong dan hati juga berkata bahwa aku memang mencintai lelaki ini.
            Tangan Jong Woon membelai wajahku. Kini tubuhku sudah berada di dalam pelukan hangatnya. Tanpa ku sadari tadi malam, ternyata aku tidur di sampingnya. Aku tidak ingin membuka mata untuk beberapa saat ini. Biarkan aku tetap di dalam pelukannya. Kebahagiannya seperti ini tidak bisa di dapatkan setiap saat. “aku mencintaimu” bisikku dalam hati.
            Belaian hangat tangan Jong Woon kini telah berubah menjadi genggaman hangat yang sangat erat. Tangan halusnya membuatku enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Belaian hangat yang penuh dengan keromantisan. Itulah yang aku rasakan saat ini.
*****
            Aku tidak berani untuk membangunkan dia dalam tidurnya yang sangat lelap. Pagi tadi sebelum pulang, aku sudah membuatkan bubur panas untuknya. Aku yakin keadaannya sudah mulai membaik. Aku percaya, besok ia sudah kembali sembuh dan seperti biasa kembali.
            Aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu, karena Siwon terus saja menuyuruhku untuk segera pulang. dasar Siwon, ia tidak bisa makan sendirian. Ia selalu ingin makan ditemani oleh adiknya. Kalau seperti ini terus ia tidak bisa hidup sendiri.
“kau seharusnya cepat menikah” saranku ketika kami sedang makan siang bersama.
“jika aku menikah, siapa yang akan menjagamu? Siapa yang akan mendengarkan curhatanmu. Kakakmu ini yang selalu setia menjadi radio untukmu. Kau akan kehilangan, jika aku menikah” jawab Siwon sedikit meledek. Ia sepertinya masih menganggap aku anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, kenyataannnya aku sudah besar dan bisa hidup sendiri.
“aku juga harus menikah, agar kau tidak perlu menjadi radioku lagi”
“apaaaa?” siwon menghentikan makannya. “kau jangan dulu menikah. Aku tidak akan mengijinkan kau menikah sebelum aku mendapatkan calon yang cocok untukmu”
“aku mau menikah dengan Jong Woon”
“apaaaa?” mata Siwon seperti mau lepas. Ia sangat kaget mendengarnya. “lelaki yag katanya mirip Jong Jin?”
“kembarannya”
“sama saja. Aku yakin kau melihatnya sebagai Jong Jin kan?”
“tidak lagi”
“terus”
“dia Jong Woon. Akan selamanya jadi Jong Woon”
“mustahil”
“kau harus percaya”
“apa dia mau menikah denganmu?”
“aku belum tahu. Dia belum memberitahukan perasaannya kepadaku”
            Siwon membuang napasnya dalam-dalam. tangannya di hentakan ke atas meja. ia melanjutkan makannya kembali dengan selera yang sudah berkurang.

Kim Jong Woon
            Pakaianku kini sudah rapi. Aku harus menghadiri suatu acara malam ini. Mobil merah yang aku kendarai bukanlah milik Jong Jin melainkan hasil uangku sendiri. Astagaa, aku seperti orang kaya asli jika sudah membeli barang dengan uang sendiri.
Caffe ini memang luar bisa hebat. Di dalam maupun diluar begitu luas. Pantas saja jika Leeteuk menyewa tempat ini untuk orang bayak. Sekarang aku menyadari, bahwa kawanku jauh telah hebat dariku.
Tidak banyak memang temannya yang hadir dalam acara ini. Karena ini acara di khususkan untuk banyak orang yang telah mendukungnya. Bukan di khususkan untuk reunian semua temannya.
“akhirnya.. bagus kau datang Jong Woon~ssi” sapa Leeteuk sambil menepuk punggungku dari belakang.
“ternyata fan~mu begitu banyak, teman”
“setelah jumpa fan selesai kau harus langsung naik ke lantai paling atas”
“memangnya ada apa?” tanyaku sangat penasaran.
“bukan apa-apa”
            Wooowwwww sangat keren. Aku baru menyadari bahwa di Korea ini ternyata Leeteuk sangat terkenal di kalangan para gadis muda.
            Makanan disini sangat lezat. Caffe ini selalu menyuguhkan makanan yang sangat menggiurkan.
            Kenapa ditempat ramai seperti ini, aku terus memikirkan sosok Hye Mi. Bahkan halusinasiku terlihat nyata tidak seperti mimpi. Aku tahu ini bukan bayangan melainkan ini benar-benar nyata.
“apakah ini kau Hye Mi~ssi” tanyaku ketika sudah berada di samping perempuan itu. postur tubuhnya seperti Hye Mi. Namun aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia membelakangiku.
“yaampun, ini memang kau”
            Hye Mi tersenyum kecil.
“jadi, Leeteuk juga temanmu? Bagaimana kalian bisa berteman?”
“ketika Jong Jin dan aku masih bersama, aku dan Leeteuk telah menjadi teman” jawabnya.
“aku, Jong Jin dan Leeteuk sudah berteman dari kecil. Pasti kau kenal dari Jong Jin bukan?”
            Lagi lagi Hye Mi hanya memberikan senyum manisnya.
“kau juga datang Hye Mi~ssi. Terima kasih banyak” kata Leeteuk ke arah Hye Mi ketika ikut menimbrung pembicraan kami.
“terima kasih karena telah mengundangku” balas Hye Mi.
            Pukul sembilan malam jumpa fan telah berakhir. Kini saatnya para teman yang menghadiri acara ini diajak ke lantai atas untuk makan malam. Sungguh menakjubkan, tempat ini di setting sedemikian bagus dengan panorama putih yang mengelilingi ruangan. Hidangan special tersuguh sangat banyak dengan aneka macam. Beberapa teman Leeteuk yang termasuk temanku juga hadir dalam acara ini. Perkiraanku salah. Ternyata, bukan acara jumpa fan yang berlangsung, melainkan reunian para sahabat juga.
            Satu meja dengan tiga kursi di duduki oleh aku, Leeteuk dan Hye Mi.
“aku harap kau dapat mengungkapkan perasaanmu saat ini juga” bisik Leeteuk dengan pelan tanpa di ketahui oleh Hye Mi.
“aku takut jika ia menolak cintaku”
“yakinlah pada dirimu sendiri. Aku sangat yakin ia sangat mencintaimu. Dia tidak mencintai saudaramu lagi” kata Leeteuk berbisik lagi.
            Sedangkan Hye Mi mengangkat halis dan menatap kearah kami berdua. Mungkin ia penasaran karena kami saling berbisik tanpa sepengetahuannya.
            Tepat pukul setengah sebelas malam. Acara makan malam ini pun hampir selesai. Kami semua bersiap untuk pulang. tetapi, perkataan Leeteuk terngiang-ngiang dalam telingaku. Dia memang benar, aku harus percaya pada diriku sendiri.
            Akhirnya, aku memberanikan diri.
“semua yang hadir di acara ini. Mohon tunggu beberapa menit” kataku memberi pengumuman saat berada di panggung berukuran kecil yang menghadap ke arah orang banyak yang sedang makan.
            Beberapa orang yang sudah berdiri mau pergi kii terlihat duduk kembali.
“aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat berharga bagiku”
Geudaereul saranghae my love
modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
Kkeutnaejwoyo geudaeneun modeun ge wanbyeokhae
geu eotteon nugudo bigyohal su eobneun han song i jangmi
kkotboda areumdaeun geudaeneun laillag hyang giboda hyang i johayo
nae yeopeul jinal ttaen meoli heutnallil ttaen naemsaega joha
Cheoncheonhi naege dagawa jullaeyo
nae maeum i nog anaelyeoyo
Geudaereul saranghae my love modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
han song i kkotboda geudaeneun yeppeoyo nuni busyeoyo
saranghago isseoyo kkotboda geunyo
Yeogilbwayo dareun goseun boji malayo
geudae ui du nun e namalgo daereun geon damji marayo
jogeumman ppali dagawa jullaeyo nae maeum i tadeuleogayo
Geudaereul saranghae my love modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
han song i kkotboda geudaeneun yeppeoyo nuni busyeoyo
saranghago isseoyo kkotboda geunyo
Geudaereul saranghae my love modeun geol julgeyo oh my love
jo haneul ui byolboda geudaereul bakhyo julgeyo
geudaeman baraboneun nan haebaragi
neon saeppalgan jangmi geudaen nae sam ui jeonbu
geudaereul saranghaeyo
            Semua orang bertepuk tangan termasuk Hye Mi.
            Semua orang menikmatinya. Aku berharap Hye Mi pun seperti mereka. Sepertinya memang benar, ia terus tersenyum kearahku. Jantungku berdebar begitu kencang. Aku memang sangat mencintainya. Aku harus percaya pada diriku sendiri.
“Hye Mi, lagu ini aku persembahkan untukmu karena aku sangat mencintaimu. Maukah kau menemaniku? Mau kah kau menjadi pacarku?”
            Terlihat dari wajahnya, Hye Mi tersenyum bahagia. ia berdiri dari tempat duduknya dan menatapku sambil mengeluarkan air mata. Dengan segera mungkin, aku menghampiri mendekatinya.
“WILL YOU BE A SPECIAL LADY TO ME?”
            Aku memberikan barang yang sangat berharga ini kepadanya. Sebuah cincin berlian ini pemberian orang tuaku ketika mereka pulang dari Jeju. Cincin ini hanya bisa di berikan kepada perempuan yang benar-benar mereka inginkan. Perempuan itu adalah Hye Mi.
“I WILL” jawabnya singkat namun penuh makna dan arti yang sangat luas.
            Terima kasih Hye Mi. Kau telah menjadi bidadariku. Aku harap kita dapat bahagia selamanya. Dia memelukku sangat erat. Pelukan yang tidak ingin di lepaskan. Sungguh kebahagian ini baru aku rasakan saat ini.
            The woman who I love is You until the end.

Sung Hye Mi
            Kini aku merasakan kebahagian yang sesungguhya. Aku pun sangat menyadari dan percaya bahwa kau bukanlah kembaranmu kau tetaplah Jong Woon. Lelaki yang sangat aku cintai. Terima kasih karena kau telah berada di hidupku sebagai dirimu sendiri dan bukan orang lain.
Sweet moment just our have. I love you so much.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama by Keigo Higashino

Ruang Waktu : Sinopsis

Review Novel Kesetiaan Mr. X by Keigo Higashino