The Power of Love
Telaga warna begitu indah sejauh mata memandang. Pantulan dari sinar matahari menambah telaga tersebut menampilkan kilauan cahaya berwarna-warni yang sangat menakjubkan. Air yang mengalir begitu jernih hingga batu sungai yang ada di telaga ini terlihat begitu jelas.
Seorang perempuan duduk di bawah pohon rindang dengan
posisi tubuh menghadap ke arah telaga. Wajahnya pucat pasi dan tatapan yang
terlihat begitu kosong. Ia hanya bisa merangkul kakinya sendiri dengan kepala
tertunduk malas. Ia memiliki rambut panjang yang menutupi wajahnya.
“apa kau bisa bicara?”
tanya seseorang tepat di depan tubuhnya. Sambil memberikan senyuman ke arah
perempuan itu.
“apa kau malaikat?”
tanya gadis itu mengangkat wajah. Terlihat wajah pucat pasi, namun tidak melunturkan
kecantikan yang ia miliki.
“bukan. Aku sama
sepertimu” ucap lelaki itu sambil menatap mata sang gadis. Kemudian ia duduk di
atas batu yang berada di sebelah gadis tersebut.
Gadis
itu menatap heran. “bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?” ucapnya.
“aku seperti menembus
cahaya dan masuk lorong waktu hingga sampai di tempat seperti ini. Lantas
bagaimana kau berada di tempat ini?” tanya lelaki itu sama dengan ucapan yang
di lontarkan si gadis. Sama seperti dia. Lelaki itu menatap heran.
“itu karena, satu tahun
yang lalu aku mengalami kejadian yang sama sepertimu”
Lalu, gadis itu menatap telaga dengan penuh kesedihan.
Tangan kanannya memegang bunga lotus yang berada di samping kanan tempat
duduknya. Ia kemudian menyelonjorkan kaki ke depan. Terlihat sedikit getaran
dan sedikit hentakan.
“namamu siapa?” tanya
lelaki tersebut dengan sorot mata keingin tahuan yang banyak.
Gadis itu menoleh. “namaku Yoon Yae Ra”.
“namaku Park Jung Soo”
sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.
Ia tidak langsung menerima uluran tangan tersebut. Ia
menatapnya beberapa saat. Gadis itu malah menatap wajah Park Jung Soo yang
sedang menatap wajahnya. “akhirnya aku mempunyai teman” kata Yae Ra sedikit
tersenyum.
Setelah melihat senyumnya, kini, gadis itu tidak terlihat
sedih lagi. Seakan ada kebahagaian yang datang menghampirinya.
“apa kau sakit?” tanya
Jung Soo
“tidak” jawabnya
singkat. Yae Ra menghempaskan tubuh ke belakang. Pohon akasia ini menjadi
tumpuan dirinya untuk merileksasikan badan.
“tapi kau....” lelaki
itu tidak melanjutkan ucapannya. Tak henti-hentinya ia menatap Yae Ra dengan
punuh cemas karena gadis itu terlihat seprti orang sakit. “tapi kau...” ia
mengulang ucapannya.
Yae
Ra langsung memotong ucapan lelaki yang ada di sampingnya. “aku tidak sakit”
tegas gadis itu. “entah kenapa, beberapa bulan yang lalu wajahku berubah
menjadi pucat seperti ini”
“mungkin, kau tidak
makan” Jong Soo menembak apa yang dikatakannya. Ia hanya melihat yang
sebenarnya. Jika orang terlihat pucat, hanya ada dua kemungkinan, orang tersebut
sedang sakit atau tidak makan.
“kau lucu sekali” Yae
Ra sedikit tertawa atas apa yang ia dengarkan barusan. “ini dunia yang orang
lain tidak ketahui. Aku tidak pernah merasakan lapar. Lihatlah! Apakah disini
ada rumah makan atau bahan makanan?” lanjutnya, sambil menunjukan dengan tangan
kanan dengan apa yang mereka lihat di tempat ini.
“hanya ada telaga,
rumput dan juga pohon” desah Jong Soo setelah ia mengamati tempat ini.
Lapangan hijau terhampar begitu luas. Telaga warna ini
menjadi objek yang sagat mencolok di tempat ini. Namun, disini tidak ada
penghuni yang lain. Semuanya indah, namun terlihat semu. Tidak ada bayangan
untuk meramaikan lokasi ini. Hanya ada kesendirian yang begitu terasa.
Yae
Ra melihat wajah lelaki itu begitu kebingungan. Ia kemudian berkata “ini tempat
manusia untuk menentukan, apakah ia ingin mati atau tetap hidup”
“maksudmu?”
Gadis itu bangkit berdiri sambil merapikan baju serta
rambut hitam panjang yang ia miliki. Ia berjalan beberapa langkah untuk menuju
pinggir telanga yang diikuti langkah kaki Jong Soo dari belakang. Mereka berdua
akhirnya berpijak di batu yang berada di dalam telaga tersebut.
“apa kau mengalami
kecelakaan?”
“benar” jawab Park Jong
Soo tidak percaya dengan apa yang di ucapkan gadis itu. perkataannya sungguh
tepat. Kenapa ia bisa tau tentang kejadian itu.
“tubuh dan jiwamu yang
nyata mungkin sedang berada di rumah sakit atau di suatu tempat yang dapat
menyembuhkanmu. Sedangkan perasaanmu pergi dari jiwa tersebut dan perasaanmu
memasuki lorong waktu yang aku tempati ini”
“maskudmu? Aku sungguh
tidak paham” Park Jung Soo mengulang perkataannya lagi.
“jika tubuhmu koma kau
akan berada di tempat ini, tetapi jika tubuhmu sadar kembali kau akan pergi
dari sini. Kau akan merasakan dunia nyata lagi”
“jika kita tidak
bernafas dalam koma tersebut. kemana kita akan pergi?”
Yoo Yae Ra terdiam. Ia berfikir untuk mencari jawaban apa
yang di ucapkan Jong Soo. Pertanyaan yang sulit di jawab karena ia pun tidak
tau apa yang akan terjadi setelah mereka berhenti bernafas dalam jiwa
masing-masing yang masih koma.
“jika aku tidak bisa
kembali ke dalam jiwaku. Itu tidak masalah” ucap Jung Soo.
“keinginan kita
berbeda. Aku tidak ingin tinggal di tempat ini. Disini begitu sepi. Aku mau hidupku
seperti dulu lagi”
“disini begitu indah” ia
tersenyum bahagia, kedua tangannya di buka lebar. Hidungnya menghirup oksigen
yang begitu menyegarkan.
“hey Park Jung Soo”
Park Jung Soo menoleh kearah gadis itu.
“disini sepi. apakah
kau tidak rindu teman dan keluargamu?”
“tidak” jawab lelaki
itu singkat.
*****
Malam ini Yoo Yae Ra tidak merasakan kesepian lagi. Ia
mendapatkan teman yang dapat menemani dirinya baik siang maupun malam. Tapi,
apakah kejadian ini akan berlangsung lama atau hanya sebentar. Ia masih
berfikir bahwa Park Jung Soo akan meninggalkannya dan lelaki itu akan kembali
menghirup udara kebebasan lagi. Kebebasan yang selalu di impikan dan di
rindukan oleh Yoon Yae Ra.
Mereka berdua sedang
duduk menikmati pemandangan langit malam yang di hiasi oleh temaran cahaya
bintang dan bulan. Sunyi. Perasaan sepi menghampiri mereka berdua.
Sudah
dua minggu sejak kedatangan Park Jung Soo di tempat ini. Kini gadis itu merasa
senang. Berkat Park Jung Soo, ketakutan akan tempat ini dapat terobati.
Terlihat
senyum dari pipi Yoon Yae Ra meskipun tidak ada sepatah kata pun yang di
lontarkan dari mulut mereka berdua.
“lihatlah bintang itu!”
suara Park Jung Soo memecahkan keheningan malam.
Ia menunjuk dengan menggunakan tangan kanan kearah salah
satu bintang yang paling terang di atas kepala mereka.
“indah” gumam Yae Ra.
Ia tersenyum simpul.
“lebih indah melihat
senyum di wajahmu” ucap Jung Soo sambil tersenyum ke arah gadis itu.
Bola mata Yae Ra seketika jatuh ke bawah dan langsung
berbalik menatap Jung Soo yang sedang memerhatikan dan tersenyum ke arahnya.
“apaaa?” tanya gadis
itu pelan. Ia tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan. Jantungnya
langsung bergetar hebat setelah mendengar kalimat tersebut. hatinya semakin
menggebu-gebu. Sebenarnya apa yang ia rasakan? Sungguh, ia tidak mengerti
dengan perasaannya sendiri. “apa yang kau katakan?” tanya sekali lagi untuk
menegaskan.
“tidak” Jung Soo mengelak ucapannya sendiri.
Yoon Yae Ra langsung menatapnya dalam diam.
“apa kau ingin
menggapai bintang?”
“tentu. Kalau itu bisa”
“bisa” jawab Jung Soo
cepat.
“bagaimana?”
Park Jung Soo terdiam beberapa saat. Dan... “bintang
sudah bersamamu” kata Jung Soo.
“mustahil”
“matamu” kini Jung Soo
membalikkan badan menghadap ke tubuh Yae Ra dan menatap mata indah gadis itu.
“matamu... matamu sungguh indah. Sorot matamu memancarkan kilauan indah seperti
cahaya bintang” ia menegaskan ucapannya dengan serius.
Lagi.. lagi debaran jantung kian terasa kencang setelah
di tatap oleh lelaki itu. tanpa sadar Yae Ra juga menatap mata lelaki itu
sangat tajam. Ketika ia sadar kembali, ia menggeser posisi tubuhnya agar
sedikit menjauh supaya detak jantungnya, tidak akan terdengar oleh lelaki yang
ada di sampingnya.
~tatapan gadis itu
tajam menusuk ke dalam hati dan pikiranku. Kenapa?~ bisik Jung Soo dalam hati.
HENING...
“mugkinkan ini perasaanku?”
ucap Park Jung Soo pada diri sendiri. Ia tertunduk melihat dadanya sendiri dan
langsung mengusapnya sambil berkata lagi. “mungkinkah ini cinta?”.
Samar- samar suara Park Jung Soo terdengar oleh Yae Ra.
Lalu berkata “kenapa?”
“ahhh... tidak”
“aku rasa kita akan
berpisah” ucap Yae Ra yang membuat Jung Soo menatap gadis itu tajam.
Dada Park Jung Soo terasa sakit saat mendengar kata
pisah. Sorot matanya menatap penuh tanya kearah gadis yang tepat berada di
depannya. “kenapa?” gumam Park Jung Soo.
“entahlah...” lirih Yae
Ra dengan nada suara tak percaya dengan apa yang ia ucapkan. “hanya...
perasaanku mengatakan demikian” lanjutnya.
“tidak. Aku tidak mau
kembali ke tempat dimana aku hidup”
“kenapa? Hidup itu
sangat indah. Aku ingin kembali hidup seperti dulu lagi jika aku diberikan
kesempatan untuk hidup”
“Yoon Yae Ra~ssi?”
suara Jung Soo sedikit bergetar. “hidup yang aku jalani tidak sebahagia dengan
hidupmu”
“kenapa?” tanya Yae Ra
yang penuh dengan keingintahuan yang sangat dalam.
“aku sangat kesepian di
dunia nyataku. Orang tua, teman, aku tidak punya mereka. Setidaknya di dunia
ini aku mempunyaimu” kata Jung Soo jujur.
Yoon Yae Ra terdiam mendengar kalimat yang baru saja di
dengar. Sungguh prihatin. Di zaman yang sudah memasuki era globalisasi dengan
kemajuan zaman yang sangat cepat masih ada orang yang tidak mempunyai
siapa-siapa di kehidupan nyata. Sungguh kasihan.
“tapi, kau akan kembali
kedunia nyata lagi, Park Jung Soo. Aku merasakan hawa tubuhmu sudah berbeda
sekarang”
“kau bisa mengusahakan
agar aku berada disini?. Aku bisa menemanimu kalau aku disini”
Gadis itu bangkit berdiri. Ia berjalan beberapa langkah
ke depan. Lalu di ikuti oleh gerakan kaki dari Park Jung Soo.
“aku tidak bisa
mengubah takdir seseorang” jawab Yae Ra.
Park Jung Soo terdiam. Ia hanya bisa memandang ke depan
dengan tatapan kosong.
*****
Sekelebat asap berterbangan di dekat telaga. Park Jung
Soo tau itu asap apa. Asap yang akan membawanya pulang pada jiwanya sendiri.
Jiwa yag tidak ingin ia hidupkan kembali. Namun, ia juga tidak bisa menghindari
takdir yang telah di tetapkan tuhan kepada dirinya.
Sedangkan, Yae Ra menatap asap tersebut dengan penuh
kesedihan. Ia harus merelakan Park Jung Soo pergi darinya. Sebentar lagi, ia
tidak punya teman lagi. Park Jung Soo akan meninggalkannya.
“pergilah!” pinta Yae
Ra kearah Jung Soo yang sedang duduk di batu dekat telaga.
“tapi... a. .a. .aku u
u” kata Jung Soo terbata-bata.
“jika kau pergi. Kita
akan bertemu di dunia nyata lagi. Aku akan berusaha keras agar jiwaku bisa tersadar
dari koma. Aku sangat yakin. Kita akan bertemu kembali”
“aku akan berusaha
mencarimu”
“benar. Kau harus
mencariku. Kita akan bertemu lagi”
“Yoon Yae Ra?” bisik
Jung Soo. “akuuu” ia terdiam sejenak. Lalu... “aku mencintaimu”
Yoon Yae Ra terdiam.
Ia mendengar apa yang di ucapkan lelaki yang berada di
sampingnya dan sedang menatap matanya. Tapi, jika waktu bisa di putar untuk
beberapa detik saja. Ia tidak ingin mendengar kalimat itu. Kalimat yang sungguh
indah. Namun, akan lenyap sebentar lagi. Kalimat itu hanya akan membuatnya
sakit. Karena pada akhirnya Jung Soo akan pergi meninggalkan ia sendirian.
“aku mencintaimu” Park
Jung Soo kembali mengucapkan kalimat tersebut sebelum Yoo Yae Ra balas berkata.
Gumpalan asap tersebut perlahan demi perlahan menghampiri
Park Jung Soo. Dengan satu kedipan mata, tubuh lelaki itu sudah berada di
gumpalan asap. Tubuhnya tidak terlihat. Hanya, ada suara berkata... “aku
mencintaimu, Yoon Yae Ra”
*****
Musim
Panas
Park Jung Soo sedang berdiri di balik jendela apartemen dan
menatap ke jalan Apeojong dengan sedih. Ia kembali teringat dengan sosok Yoon Yae
Ra yang ia temui di alam bawah sadarnya beberapa bulan yang lalu. Ia berusaha mencari
gadis itu, namun semuanya sia-sia.
Pukul sembilan malam. Park Jung Soo turun dari apartemen karena
tenggorokannya sedikit serak. Ia tidak sadar bahwa dari siang tadi ia belum minum
apa pun.
Ia sudah berada di apartemen lantai dasar. Ia pun bergegas
menuju pintu luar. Tetapi, langkahnya terhenti, seseorang memegang pundaknya dari
belakang. Secepat mungkin, tubuhnya langsung di putar dan menatap orang tersebut.
Mulutnya terasa tercekat. Hawa tubuhnya seakan tidak normal.
Detak jantung kian berdetak dengan kencang. Perasaan yang dulu telah tumbuh kembali.
“Yoon Yae Ra” ucap Park
Jung Soo dengan wajah tak percaya. Matanya menatap tajam gadis itu
Gadis itu tersenyum ke arah Park Jung Soo. “aku menempati
janjiku” katanya.
Komentar
Posting Komentar