Oppa & Younger Sister
“huahhh...”
dengus Lee Jin Hae dengan suara berat. Ia baru saja keluar dari pesawat bersama
Ibunya. Suasana hatinya sedang tidak baik. Berbeda dengan sang Ibu yang
langsung memperlihatkan wajah gembira saat sudah berada di Korea.
Mereka
keluar dari Bandar Udara Internasional Incheon sambil menyeret koper besar
milik masing-masing. Beberapa kali Lee Jin Hae mengeratkan jaket tebal yang di
pakai karena udara musim dingin di Incheon semakin meningkat. Wajah Lee Jin Hae
masih tidak bisa memberikan senyuman.
“perlihatkan
wajah manismu” kata Ibu yang sudah melihat wajah anaknya dengan tatapan dingin.
“kenapa
kita harus kembali lagi kesini? Aku lebih menyukai tinggal di Indonesia”
“di
Indonesia kamu tidak mempunyai teman. Disini kita bisa berkempul bersama
keluarga lagi. Sesuatu yang kamu inginkan dari dulu” kata Ibu sambil mengusap
punggung anaknya.
“sekarang
tidak lagi” jawab Lee Jin Hae ketus.
“jangan
memperlihatkan wajah seperti itu jika bertemu dengan Appa-mu!” pintu Ibu
memohon.
Mereka
sudah berada di luar bandara untuk menunggu jemputan. Sekitar beberapa menit
menunggu akhirnya sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan mereka. Seorang
lelaki berumur empat puluh tahun dengan setelan jas rapi menghampiri mereka dan
langsung memeluk Ibu penuh cinta. Berlanjut dengan kecupan kening yang penuh
cinta dan kasih sayang kepada Lee Jin Hae. Dia adalah Ayah Lee Jin Hae yang
tidak bertemu dengan mereka selama lima tahun.
“apa
kalian sudah menunggu lama?” kata Ayah sambil menatap Ibu. Ibu menggeleng
sambil tersenyum. Ayah berlanjut menatap Lee Jin Hae “Appa sungguh
merindukanmu. Sekarang kamu sudah tumbuh semakin cantik”.
“diluar
sangat dingin” kata seorang lelaki yang baru turun dari mobil.
“Lee
DongHae anakku. Ibu sungguh merindukanmu” ucap Ibu sambil membuka kedua tangan
lebar-lebar. DongHae berjalan dan langsung memeluk Ibu yang sudah di
rindukannya sejak lama. “kau semakin tampan. Apa kau meminum banyak vitamin
sehingga tubuhmu semakin tinggi. Apa kau hidup bahagia?” lanjut Ibu
berkaca-kaca melihat anak lelakinya bisa hidup baik dan telah menjadi tampan.
Belum Donghae menjawab pertanyaan Ibu ia terlebih dulu mendengar nada suara Jin
Hae.
“cihhh...”
umpat Jin Hae sinis.
“Oppa
sangat merindukanmu. Kau tambah cantik” puji Donghae lalu berjalan kearah Jin
Hae hendak memeluknya. Namun tiba-tiba saja....
“stop”
ucap Jin Hae keras. “jangan memelukku! Aku tidak mau dipeluk olehmu”
“apa?
yak... aku ini Oppa-mu” sergah DongHae yang berusaha memeluk Jin hae
“Oppa?
Aku tidak mempunyai Oppa” jawab Jin Hae ketus.
“kau
ini kenapa?” DongHae mulai kesal. “bu lihatlah adik manisku, apa Indonesia
telah berhasil mengubahnya menjadi tidak sopan seperti ini” lanjut DongHae
melirik kearah Ibu. Ibu hanya bisa tersenyum.
“apa
menurutmu Indonesia tidak baik untuku? Yak... kau saja hanya tinggal sebentar
disana jadi jangan membicarakan hal yang tidak masuk akal”
“kenyataannya
seperti ini”
“benar-benar
menyebalkan. Kau...”
“panggil
aku Oppa!” DongHae memotong ucapan Jin Hae sambil menegaskan.
Jin
hae memalingkan wajahnya. “aku tidak mempunyai Oppa”.
“sudah...
sudah...” ucap Ayah menenangkan suasana mereka. “saatnya kita pulang! Seoul
sudah menunggu kita” lanjut Ayah sambil membawa koper Ibu. DongHae yang ingin
membawa koper adiknya malah tidak jadi karena Jin Hae tidak mau kopernya di
sentuh oleh sang Kakak.
*****
Suasana
tidak akrab seperti tidak saling mengenal berlanjut saat sudah sampai di rumah.
Saat makan malam Jin Hae lebih banyak diam. Sedangkan DongHae terus bercerita
tentang hidupnya yang mengasikan dan penuh dengan kegembiraan bersama
teman-temannya. Ibu yang menjadi pendengar setia hanya bisa tersenyum dan
mengucapkan ‘syukur’. Jin Hae tidak suka melihat DongHae yang selalu tersenyum
dan tertawa bahagia. berbeda jauh dengan dirinya.
Saat
makan malam selesai. DongHae masuk ke kamar adiknya karena kamar tersebut tidak
di kunci.
“pergi!”
ucap Jin Hae keras sambil menunjuk kearah pintu kamar. “aku tidak ingin
diganggu” lanjutnya dingin.
“aku
tidak akan mengganggumu” kata DongHae yang langsung duduk di atas ranjang. “aku
hanya mau mendengarkan kehidupanmu saat di Indonesia. Kau pasti sangat bahagia”
“apa
kata BAHAGIA murah sekali di mulutmu?” tanya Jin Hae sinis.
“sudah
beberapa kali Oppa bilang. Panggil Lee DongHae dengan sebutan Oppa. Meskipun
kita sudah tidak bertemu lama tetap saja kau adalah kembaranku. Kau lahir
setelahku. Panggil aku dengan sopan” DongHae menarik napas lalu mengeluarkan
dengan perlahan. “kata bahagia gampang sekali diucapkan”
“benar.
Karena itu yang kau rasakan” kata Jin hae sinis lalu memasangkan headphone ke
telinganya dan mendengarkan lagu Super Junior dengan tujuan tidak bisa
mendengar ucapan sang Kakak.
“apa
kau tidak merasa bahagia?” tanya DongHae curiga. Sedangkan Jin Hae tidak bisa
mendengarkan apapun kecuali alunan musik. Meskipun enggan, DongHae keluar dari
kamar adiknya dengan perasaan gontai.
*****
“namaku
Lee Jin Hae. Aku baru pindah dari Indonesia. Ku harap kita bisa menjadi teman” Dengan
perasaan gugup Lee Jin Hae berusaha memperkenalkan diri di depan kelas sebagai
murid pindahan.
“silahkan
duduk di samping Yoon Ye Na” kata Shim Min Seo yang merupakan wali kelas 2-3
menyuruh agar Jin Hae duduk di bangku kosong.
Jin
Hae duduk di samping perempuan yang bernama Yoon Ye Na. Mereka berkenalan dan
terlihat akrab. Jin Hae memandang tidak suka ke arah depan. Ternyata DongHae
duduk di depan Jin Hae.
“namaku
Lee Hyuk Jae. Panggil aku Euhyuk” terdengar suara dari belakang saat Jin Hae
sedang menundukkan kepala.
Jin
Hae mengangkat kepala dan memutar tubuhnya lalu ia tersenyum. “hallo... namaku
Lee Jin Hae” mereka saling berjabat tangan.
DongHae
menatap kearah mereka tidak suka. Ia tidak suka melihat adiknya berbicara
dengan Rival-nya dari dulu. Lee Hyuk Jae musuh DongHae sejak lama. Musuh, namun
terkadang mereka bisa kompak.
“aku
ketua murid disini. Jika mau meminta sesuatu atau membutuhkan pertolongan
panggil aku” kata Eunhyuk kemudian langsung pergi ke bangkunya.
“apakah
dari Indonesia ke Bali jauh?” tanya Yoon Ye Ra polos.
“Bali
termasuk Indonesia” kata Jin Hae.
“ah
benarkah?”
Jin
mengangguk dan tersenyum.
*****
Jin
Hae berjalan sendirian menuju halte. Terdengar suara dari dalam mobil yang
menyuruh Jin Hae berhenti berjalan. Namun Jin Hae tetap mengacuhkannya.
“berhenti
Lee Jin Hae!” teriak DongHae kesal. Ia yang meminta adiknya untuk berhenti
berjalan.
“apa
lagi?” jawab Jin Hae tidak suka.
DongHae
berjalan menghampiri adiknya. “kenapa kau tidak mau berangkat atau pulang
sekolah dengan Oppa?” tanyanya penasaran.
“kau
bukan Oppa-ku” jawab Jin Hae kekeh.
“kenapa
kau tidak menganggapku saat teman-teman bertanya ‘apa kau mempunyai saudara?’
dan kau bilang tidak” DongHae membutuhkan kejelasan atas sikap adiknya yang
jauh berubah.
“apa
aku harus menjawab bahwa Lee DongHae, murid paling populer di sekolah adalah
kembaranku. Itu maksudmu? Aku tidak mau” jawab Jin Hae sambil melipat kedua
tangannya di depan dada.
“itu
yang harus kau katakan”
“jangan
berbicara di sekolah denganku. Anggap saja kita tidak saling mengenal” pinta
Jin Hae yakin.
“aku
yang mengurus kepidahanmu. Aku yang bersusah payah agar kau bisa masuk kelas
2-3 tetapi kau tidak akan berbicara denganku? Ingat... saat masih kecil kita
tidak bisa dipisahkan tapi sekarang kita malah menjauh. Aku sungguh tidak tahu
alasan kau bersikap begini kepada Oppa-mu”
“jangan
samakan dulu dengan sekarang. Jangan biarkan orang lain tahu bahwa kita kembar”
kata Jin Hae lalu meninggalkan DongHae yang masih diam tidak percaya melihat
adiknya.
Jin
Hae melanjutkan perjalanannya. Lagi... lagi ada mobil yang menghentikan
langkahnya. Seseorang keluar, ternyata itu Lee Hyuk Jae.
“Eunhyuk~aa
apa yang kau lakukan?”
“ayo
masuk! Ku antar kau pulang”
Tampa
ragu sedikitpun Jin Hae masuk ke dalam mobil mengacuhkan DongHae yang sedang
menatapnya tidak suka. Eunhyuk tersenyum menang ke arah Donghae. Eunhyuk pikir,
DongHae mendekati Jin Hae untuk menjadikannya pacar. Dan ia tidak suka karena
DongHae sudah mempunyai Sandara. Ia tidak ingin Jin Hae jadi korban DongHae
selanjutnya. Itulah pikiran Eunhyuk.
*****
Insting
seorang kakak terus berkecambuk di dalam hatinya. Bagaimana pun caranya ia
harus memperbaiki hubungan dengan Jin Hae. Saat di kelas maupun jam istirahat
ia selalu mengawasi Jin Hae.
“ayo
kita pulang bareng!” ajak DongHae saat mereka sedang berada di perpus.
“tidak
mau”
“jangan
pulang bersama Eunhyuk lagi, dia rival sejatiku”
“jangan
mencampuri privasi-ku!”
“kita
harus pulang bareng! Kita akan menonton di bioskop, bermain, dan makan di
restoran paling terkenal di kota ini”
“aku
ti...”
“Donghae”
teriak seorang perempuan cantik yang memotong kalimat Jin Hae. “aku mendengar
semuanya” ucap perempuan itu tidak suka sambil melihat kearah Jin Hae.
“Jin
Hae ini Sandara” kata Donghae memperkenalkan pacarnya.
Jin
Hae menatap Sandara sinis lalu pergi begitu saja.
“aku
pacarmu, kenapa kau malah mengajak anak baru itu dari pada aku?” kata Sandara
meminta kejelasan.
“kita
sering jalan bersama” kata DongHae. “Jin Hae-aaa” teriak Donghae sambil berlari
kearah Jin Hae. Sandara kesal karena ia di tinggalkan begitu saja.
*****
Jin
Hae dan Yoon Ye Na sedang makan di kantin sekolah. Ye Na terus bertanya kepada
Jin Hae kenapa Donghae selalu mengikutinya dan Jin Hae hanya berkata bahwa
Donghae mungkin fan-nya.
“apa
kau artis?” tanya Ye Na penasaran.
“bukan”
“Donghae
itu terkenal oleh semua murid karena ketampanan serta mempunyai suara yang
bagus dan indah. Dia sangat digilai oleh banyak perempuan. Dia bukan tipe
lelaki yang gampang tertarik pada perempuan tetapi kenapa dia tertarik
mendekatimu” celoteh Ye Na tanpa ditanya.
Jin
Hae mengkerutkan kening tidak percaya bahwa kakaknya bisa terkenal di sekolah.
Ia tidak yakin bahwa yang dibicarakan Ye Na adalah kakaknya sendiri.
“apa
kau menyukainya? Seprtinya kau tahu banyak tentang dia?” Jin Hae mengedipkan sebelah
matanya ia menggoda Ye Na.
Ye
Na hanya bisa tersenyum malu.
“aku
akan menjodohkanmu! Tapi, apa kau tahu siapa Sandara?” tanya Jin Hae penasaran.
“aku
mau sekali di jodohkan dengannya. Ahhh... Sandara... dia pacar Donghae” jawan
Ye Na malas.
“oh”
“Siapa
yang mau di jodohkan?” tiba-tiba Eunhyuk datang dan berkata demikian. Ia duduk
di samping Jin Hae. “aku dan Jin Hae mau kau jodohkan?” tanya Eunhyuk ke arah
Ye Na yang sedang meminum jus.
“berhentilah
menghayal! Jin Hae tidak mau di jodohkan denganmu” jawab Ye Na yakin.
“yak,
jangan memutuskan begitu saja. Kita dengarkan saja apa yang akan di ucapka Jin
Hae” ucap Enhyuk lalu beralih memandang ke samping. Jin Hae menatapnya lalu
tersenyum. Ia tahu bahwa Eunhyuk hanya bercanda.
“kalau
kita berjodoh, apa boleh buat” jawab Jin Hae mengangkat bahu.
“aku
suka dengan perempuan sepertimu” kata Eunhyuk memegang pundak Jin Hae.
Mereka
bertiga tertawa bersama. Sebagai seorang murid pindahan ia tidak merasa
kesepian lagi karena disini banyak teman-teman yang berada di sampingnya.
Sungguh menyenangkan.
Tanpa
mereka bertiga sadari sejak dari tadi Donghae terus menatap Eunhyuk tidak suka
karena lelaki itu bisa membuat Jin Hae tersenyum dan tertawa sedangkan ia
sebagai kakak tidak bisa. Bahkan untuk berusaha berada di dekat adiknya ia
harus mempunyai kekuatan agar Jin Hae luluh hatinya. Donghae yang melihat
tangan Eunhyuk memegang pundak Jin Hae ingin mematahkan tagan lelaki itu karena
berusaha menyentuh adik kesayangannya namun Donghae tidak bisa melakukannya ia
hanya bisa mengumpat Eunhyuk dalam hati “jangan
sentuh adikku! Ku hajar kau jika berani menyentuhnya sekali lagi”
*****
Setelah
jam pelajaran berakhir, Jin Hae mendapat surat dari seseorang yang menyuruhnya
untuk pergi ke toilet wanita. Ia ingin mengabaikannya namun ia sangat penasaran
apa yang akan terjadi. Ia berjalan dengan tenang ke arah toilet. Beberapa kali
ia melirik ke belakang, biasanya Donghae selalu mengukutinya tetapi saat ini ia
tidak ada. Jin Hae mengumpat Donghae sebagai kakak yang jahat.
“Lee
Jin Hae... murid baru dari Indonesia” ucap seorang perempuan dengan nada sinis
berjalan kearahnnya. Dua orang temannya mengekori dari belakang.
“oh,
jadi ini... gadis yang didekati oleh Donghae” perempuan yang ada di belakang
ikut berbicara. “berani sekali dia menggoda pacarmu, Sandara”
“heh...
apa kau merasa lebih cantik dariku sehingga Donghae berusaha mengajakmu pergi”
kata Sandara menyentuh wajah Jin Hae. Jin Hae merasa takut. Kejadian ini akan
terulang lagi. Kejadian yang pernah ia lalui dulu.
“kau
tidak bisa berbicara?” lanjut Sandara sinis. “apa yang harus kita lakukan
dengan anak ini?” kata Sandara melirik ke arah kedua temannya. Ia kemudian
mendorong tubuh Jin Hae. Jin Hae hanya bisa membekap mulut. Ia tidak percaya
dengan kejadian ini. ia berusaha menahan tangis.
“Oppa... Oppa... bantu aku” ucap Jin Hae
dalam hati. Saat sedang terjadi sesuatu, kalimat itulah yang selalu ia ucapkan
dalam hati. Hanya saja, kakaknya selalu tidak datang membantu. Hingga ia selalu
kecewa.
“tidak
ada perempuan di sekolah ini yang dapat merebut Donghae dariku. Ku peringatkan
sekali lagi. Aku tidak ingin melihat kau bersama pacarku” Sandara menatap wajah
Jin Hae dingin dan sinis.
“Oppa... Oppa... bantu aku” terdengar
bisikan hati Jin Hae. Ia hanya bisa tertunduk karena masih kaget dengan ini
semua.
Ada
langkah kaki seseorang masuk. Seketika itu Sandara dan kedua temanya langsung
keluar dengan wajah polos seakan tidak terjadi sesuatu. Lelaki itu mendekat ke
arah Jin Hae dan menyentuh pundaknya. “apa yang terjadi?” ucap lelaki itu.
“Oppa...”
kata Jin Hae mengangkat wajahnya. Ia kaget melihat lelaki itu. Yang datang
bukanlah Donghhae melainkan Eunhyuk.
Eunhyuk
membantu Jin Hae berdiri. Lalu berkata “apa ada yang melukaimu?”
Jin
Hae merapikan seragam serta rambut agar tidak terjadi apa-apa. “oh tidak”
katanya berbohong. “kenapa kau ada disini?”
“entahlah,
aku tidak tahu kenapa kakiku ingin datang kesini”
“ayo
kita pulang!” ajak Jin Hae. Mereka berdua keluar dari toilet bersama dan
Eunhyuk mengantar Jin Hae pulang.
*****
Malam
ini Donghae sedang asik merapikan kaset DVD koleksinya dengan ditemani alunan
musik rock yang keras. Terdengar suara Ibu dan Ayahnya berbicara untuk
mengecilkan volume suaranya namun ia tidak akan melakukannya.
Jin
Hae merasa kesal dengan suara dari sebelah kamarnya karena ia tidak bisa
belajar, dengan enggan ia pergi ke kamar Donghae lalu mematikan musik tersebut.
“berhentilah!
Ini sudah malam” teriak Jin Hae sambil emosi.
Dengan
polosnya Donghae menyodorkan sebuah kaset lalu bergumam “mari kita nonton film
ini”
Jin
Hae menatap kaset itu acuh. Ia akan kembali ke kamarnya namun langkahnya
terhenti saat Donghae berkata “Oppa minta maaf jika selama ini Oppa salah”
“beritahu
apa yang membuatmu bersikap seperti ini? Oppa tidak bisa harus berjauh dengan
kembaran sendiri. Oppa sangat menyayangimu Jin Hae~aa” lanjut Donghae.
“aku
tidak suka kau bahagia sedangkan aku tidak” jawab Jin Hae tanpa ekspresi.
“apa
maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti. Beritahu aku yang sejujurnya!”
“berhentilah
berpura-pura menjadi Oppa yang baik”
“kau
bilang seperti itu. kau mengakui aku sebagai Oppa bukan?” tanya Donghae yang
merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri adiknya.
Jin
Hae terdiam.
“aku
hanya ingin kau memanggilku Oppa” lanjut Donghae memohon.
“kau
tahu apa yang harus dilakukan seorang kakak terhadap adiknya?” tanya Jin Hae
dingin sambil melipatkan kedua tangan diatas dada.
“tentu
saja melindunginya” jawab Donghae yakin.
“kau
tahu. Tetapi kau tidak melakukannya” ucap Jin Hae lalu segera pergi
meninggalkan Donghae yang masih mematung. Donghae masih merasa bingung.
*****
Sebagian
murid berlari keluar dengan gembira karena jam istirahat telah tiba. Ye Na
berdiri lalu menarik tangan Jin Hae untuk mengajaknya makan di kantin dengan
menu baru yang sudah tersedia. Jin Hae tersenyum dan meminta maaf karena hari
ini ia sudah dibawakan bekal makan siang dari rumah. Kemudian Jin Hae
mengeluarkan kotak makan dengan gambar doraemon. Ini terlihat lucu buat bekal
makan anak SMA.
Ye
Na mengejek temannya yang seperti anak kecil. Kemudian ia melihat Donghae yang
tidak beranjak dari tempat duduknya. Matanya menatap sesuatu yang Donghae
pegang.
“kalian
membawa kotak makan dari rumah? Hey lihat, dengan gambar yang sama” kata Ye Na.
Ia mendekat ke arah Donghae agar pandangannya tidak salah.
“apakah
lelaki setampan dan sekeren Lee Donghae tidak boleh membawa kotak makan? Ibuku
sudah bangun pagi sekali untuk menyiapkan ini” kata Donghae yang berusaha
membuka kotak makannya.
“kalian
seperti janjian?” tanya Ye Na masih bingung. “telur gulung... semua isinya
sama”
Jin
Hae menarik napas panjang, ia berusaha berpikir untuk mencari alasan yang pas.
Ia tidak boleh tahu bahwa bekal mereka memang sama. Ye Na tidak boleh tahu
bahwa makan mereka di buat oleh orang yang sama yakni Ibu mereka.
“aku
membeli ini” kata Jin Hae berbohong. “kotak makan ini dijual di jalanan.
Mungkin kami membeli di tempat yang sama”
“Donghae
bilang di buat oleh Ibunya” kata Ye Na mengkerutkan kening.
“maksudnya,
ini dibeli oleh Ibuku di pinggir jalan” kata Donghae sedikit mengangkat
bekalnya.
“mungkin
aku harus membelinya besok biar kita kembaran. Dimana kau membelinya?” tanya Ye
Na ke arah Jin Hae. Jin Hae seketika tidak bisa berkata apapun.
“hey,
bukannya kau mau ke kantin?” tanya Donghae yang membuat Ye Na tersenyum malu
karena banyak berkata.
“selamat
makan” Ia pun melangkah ke luar kelas sendirian.
“kenapa kau
makan disini? Hampir saja ketahuan” kata Jin Hae pelan ke arah Donghae.
“Oppa yang
akan pergi atau kau?” kata Donghae melirik kearah belakang.
“kau saja”
Donghae
tersenyum namun tidak beranjak pergi.
*****
Kejadian
dua minggu yang lalu terulang lagi. Sandara dan temannya mengampiri Jin Hae
yang sedang berada di toilet. Ia terus berceramah agar Jin Hae jangan
berdekatan dengan Donghae lagi. Jin Hae merasa sudah berjauhan dari Donghae
kenapa Sandara terus menyakitinya.
“aku
tidak bodoh sepertimu” kata Sandara dengan suara keras. “aku melihat Donghae
selalu mengikutimu saat berangkat maupun
pulang sekolah”
“salahkan
Donghae, kenapa harus aku?” jawab Jin Hae sedikit berani.
“Donghae
tidak mungkin mengikuti sembarangan perempuan. Kau pasti menggodanya bukan?”
Sandara mulai kesal.
“apa
pacarmu seberhaga itu sehingga kau tidak mau menyalahkannya?” tanya Jin Hae
sinis.
“tentu saja”
ucap Sandara yakin. “peringatan yang dulu tidak berlaku lagi. Apa kau mau
sesuatu yang lebih mengasikan lagi?” kata Sandara menjambak kerah seragam Jin
Hae.
“aku tidak
takut” Jin Hae menatap Sandara benci.
Sandara
tersenyum sinis. Tanpa segan sedikit pun yang dibantu oleh kedua temannya ia
langsung mendorong tubuh Jin Hae lalu menyiramnya dengan air. Lagi... lagi Jin
Hae mati kutu. Ia tidak sanggup melawan entah kenapa. Masa lalunya terbayang
lagi.
“Oppa... Oppa... bantu aku” kalimat
tersebut kembali terucap dari hatinya.
“aku
akan melakukan hal lebih kejam lagi jika aku melihat Donghae terus mengikutimu”
ancam Sandara kemudian langsung pergi.
“melindungi?
Bahkan saat kita dekat pun kau tidak bisa melindungi adikmu?” ucap Jin Hae
dengan sinis kearah depan dengan tatapan kosong. Sebenarnya ucapan itu
ditunjukan kepada Donghae.
Jin
Hae berusaha bangun. Ia menggigil dan berusaha keluar dengan wajah biasa saja
seperti tidak terjadi sesuatu. Saat berjalan, tiba-tiba saja seseorang
meletakan jaket ke arah punggungnya.
“tidak
mungkin kau mandi di sekolah. Sebenarnya apa yang terjadi?” kata Eunhyuk
berusaha merekatkan jaket ketubuh Jin Hae.
“tidak
ada yang terjadi” jawan Jin Hae bohong.
“jangan
berbohong. Tadi aku mendengar semuanya. apakah Sandara yang melakukan ini?
karena aku melihatnya keluar dari tempat yang sama denganmu” kata Eunhyuk
curiga.
Jin
Hae mengangguk membenarkan.
“sudah
ku duga” ucap Eunhyuk kesal. “tunggu disini! Aku akan meminta Ye Na untuk
meminjamkan seragamnya untukmu. Dia seperti menyimpan satu seragam di dalam
loker” Eunhyuk berlari menuju kelas dan Jin Hae sedang menunggunya di UKS.
Jin
Hae masuk kedalam kelas dengan seragam milik Ye Na. Ia sempat memandang Eunhyuk
dan memberikan senyuman. Ia kemudian duduk. Ye Na memegang rambut Jin Hae yang
masih basah. Ia merasa prihatin karena sikap Sandara yang sudah keterlaluan.
“apakah
kau merasa sulit?” tanya Ye Na.
“sulit
atau pun tidak aku harus menerimanya karena aku tidak punya seseorang yang bisa
melindungku” ucap Jin Hae. Samar-sama Donghae mendengarkan percakapan mereka.
“Lee
Hyuk Jae dia pahlawanmu” sergah Ye Na.
Mendengar
nama Eunhyuk,Donghae tidak suka. Ia berfikir bahwa Eunhyuk telah melakukan
sesuatu kepada adiknya.
“aku
sangat berterima kasih kepadanya”
“bagaiman
dengan perempuan itu?” tanya Ye Na penasaran.
“aku
tidak mungkin meladeni perempuan gila seperti SANDARA” terdengar suara Jin Hae
di keraskan kearah depan agar sengaja Donghae mendengarnya.
Donghae
menoleh kebelakang.
*****
Dengan
gontai Donghae keluar dari kamar. Musim dingin tahun ini terasa sangat
membekukan tubuh. Ia menuruni tangga rumah langsung menuju dapur. Ia hendak
membuat susu panas namun ada Ibu yang sudah membuatkannya terlebih dahulu.
“Ibu
membuatkan dua gelas susu untuk kamu dan Jin Hae” kata Ibu sambil menyerahkan
susu tersebut ke tangan anak lelakinya.
“aku
tidak yakin Jin Hae akan menerimanya”
“apa
hubungan kalian belum membaik? Cobalah untuk terus membuat agar dia
menganggapmu sebagai Oppa-nya” ucap Ibu sambil berjalan menuju meja makan. Donghae
mengikutinya.
“aku
sudah berusaha. Tetapi dia terus saja menghindariku. Bu, aku tidak tahu kenapa
dia bisa bersikap seperti itu. Saat kami di Indonesia, Jin Hae bahkan selalu
bersamaku. Dia selalu menangis jika aku tinggalkan. Saat ini harusnya dia
senang bisa kembali bersama Oppa-nya” ucap Donghae sambil meletakan dua gelas
susu tersebut dia atas meja. Ia memandang Ibu penuh tanya.
“itulah
alasannya” kata Ibu langsung menarik napas panjang. “Jin Hae tidak suka saat
kamu memutuskan untuk tinggal di Korea bersama Ayah-mu. Jin Hae sangat kesepian
saat di tinggal olehmu”
“bu,
jika waktu itu aku tidak ikut bersama Appa kesini, Appa pasti akan kesepian.
Sedangkan Jin Hae juga tidak mau ikut aku bersama Appa dia lebih memilih
tinggal di Indonesia bersama Ibu” Donghae menyenderkan tubuh ke badan kursi.
“harusnya Jin Hae mengerti akan hal itu”
“Ibu
tahu” kata Ibu menegaskan. “saat Ayah-mu mengajak Ibu untuk rujuk kembali tanpa
pikir panjang Ibu langsung menyetujuainya. Ibu ingin kalian bersatu lagi. Ibu
ingin ada yang bisa melindungi Jin Hae karena Adikmu tidak bisa hidup sendiri”
“apa
maksud Ibu?” kata Donghae penasaran.
Tangan
Ibu memegang lembut tangan Donghae. Ia mulai bercerita tentang Jin Hae. “Ibu
baru mendengar dari salah satu teman JIn Hae bahwa Jin Hae korban Bullying saat sekolah dulu” Donghae
menggeleng tak percaya. “Yang selalu Jin Hae sebut dalam kesedihan hanya kamu.
Dalam isak tangis dia selalu menyebut namamu, dia berharap kamu datang dan bisa
menolongnya. Jin Hae hanya mau kamu bisa melindunginya. Tetapi, harapan hanya
tinggal keinginan, kamu tidak juga datang. Sejak itu, Jin Hae merasa tidak
mempunyai saudara. Nak, Ibu mohon agar Jin Hae bisa mengakui kamu sebagai
Oppa-nya, kamu harus berusaha karena Ibu tidak bisa mengubah sifat keras Jin
Hae. Ibu berharap banyak kepadamu”
“ini
salahku karena meninggalkan dia” kata Donghae lirih. “sebenarnya disini aku
sangat kesepian. Appa sangat sibuk dengan perusahaan. Aku sangat membutuhkan
sosok Ibu dan juga adikku” lanjut Donghae menatap Ibu rindu. Pelupuk matanya
menyimpan cairan yang ingin ia keluarkan.
“kamu
kesepian karena salah Ibu. Maafkan Ibu” air mata Ibu seketika langsung tumpah.
“Ibu
tidak usah meminta maaf. Yang terpenting kita sudah bisa berkumpul lagi”
Donghae langsung berdiri dan memeluk Ibu dengan lembut.
“aku
sudah tahu alasan Jin Hae bersikap seperti itu. Sekarang aku harus melindungi
Adikku”
*****
“bu,
aku tidak mau wadah bekal makananku harus sama dengan dia” kata Jin Hae sambil
menunjuk Donghae yang sedang mengoleskan mentega keatas roti. Donghae hanya
bisa memicingkan bibirnya.
“kalian
memang sudah besar. Tapi, jangan malu dengan hal kecil seperti itu” ucap Ayah
Jin Hae yang telah selesai menghabiskan satu gelas susu.
“aku
tidak malu. Kita memang kembar tapi aku tidak mau jika barang apa pun harus
sama” Jin Hae menatap Ibu memohon.
“bu,
turuti saja kemauan Jin Hae” Donghae menggigit roti yang sudah jadi. Ia memberikan
satu roti kepada Jin Hae yang tepat berada di sampingnya.
“Ibu
mengerti. Ibu tidak akan menyamakan kotak makan kalian”
Keluarga
Lee sarapan bersama. Ayah menyudahi acara makan karena ia harus pergi ke
kantor. Setelah pamit kepada Ibu, Donghae dan Jin Hae berangkat sekolah
bersama. Namun kebersamaan mereka hanya sampai depan rumah. Jin Hae memutuskan
untuk pergi sendiri. Donghae kesal dibuatnya. Namun ia membiarkan apa pun yang
Jin Hae inginkan. Ia perlahan demi perlahan harus membuat adiknya berubah.
Jin
hae tiba disekolah dan melihat Donghae sedang menunggu di gerbang depan. Jin
Hae menatap kakaknya dingin. Dengan senang Donghae mengikuti langkah Jin Hae
dari belakang. Bahkan jarak mereka sedikit lebih dekat. Mereka masuk ke kelas
2-3.
Tanpa
mereka sadari. Ternyata Sandara telah melihat kedekatan mereka. Ia menatap Jin
Hae tidak suka dan penuh benci. Sedangkan Ia menatap Donghae kecewa namun
tersenyum.
*****
Eunhyuk
membawa beberapa lembar kertas yang harus di isi oleh semua murid. Kertas tersebut
bisa di bilang untuk melihat biodata murid. Eunhyuk membagikan satu murid satu
kertas.
“isi
biodata kalian dengan jujur! Selain informasi untuk sekolah, ini bisa di
gunakan untuk membantu kita memasuki perguan tinggi.” Kata Eunhyuk mengelilingi
kelas.
Sekitar
lima belas menit mengisi. Mereka pun mengumpulkan kertas tersebut di meja guru.
Eunhyuk sebagai ketua murid harus bertugas menata agar semua lembaran tersebut
dapat di susun dengan rapi. Semua murid sedang berada di luar kelas karena
sedang jam istirahat. Di kelas hanya ada Eunhyuk dan Ye Na yang sedang sibuk
menata lembar demi lembar.
“coba
urutkan biodata murid perempuan. Aku akan mengurutkan untuk murid laki-laki”
kata Eunhyuk memberi perintah kepada Ye Na. Ye Na dengan senang hati membantunya.
“wah,
ternya Lee Jin Hae lebih muda satu bulan dariku” ucap Ye Na melihat tanggal
lahir Jin Hae. “dia lahir 22 Juni”
“berapa
tanggal lahirmu ketua?” tanya Ye Na kearah Eunhyuk yang sibuk membaca lembar
demi lembar.
“apa
kau harus tahu” jawab Eunhyuk cuek. “lihatlah!” Eunhyuk memperlihatkan biodata
Lee Donghae kepada Ye Na. Ia berucap “ternyata bukan hanya Lee Jin Hae yang
lahir di Indonesia tetapi Lee Donghae juga”
“ah..
benarkah?” tanya Ye Na tak percaya. “biar ku lihat tanggal lahirnya, apakah dia
lebih muda atau lebih tua dariku” Ye Na menarik biodata Donghae dari tangan
Eunhyuk.
“cepat
selesaikan! Jangan terus melihat biodatanya” teriak Eunhyuk.
“ah..
ternyata dia lebih muada dariku” ucap Ye Na malas. “dia sama seperti Jin Hae”
“apa?
biar ku lihat sekali lagi!” Eunhyuk membaca dari awal sampai akhir. Kemudian ia
beralih pada biodata Lee Jin Hae. “ini tidak mungkin” ucap Eunhyuk tak percaya.
“dia
lebih muda darimu? Benarkan?” tanya Ye Na polos.
“Lee
Donghae dan Lee Jin Hae kembar” ucap Eunhyuk membelalak kaget. Ye Na hanya bisa
tersenyum mengira bahwa Eunhyuk hanya bercanda. “lihat ini!” kata Eunhyuk
membeberkan dua lembar kertas tepat di depan mata Ye Na.
Ye
Na membekap mulut tak percaya. Kemudian Ia menarik napas lalu mengeluarkan suara
dengan pelan. “tempat lahir, tanggal lahir, nama Ibu dan nama Ayah sama”
ucapnya.
“Lee
Dong He, Lee Jin Hae... nama mereka hampir sama” suara Eunhyuk.
“mereka
pernah membawa kotak makan yang sama. Aku sempat mengira bahwa mereka tinggal
serumah dan makanan tersebut dibikin oleh satu orang yang sama” Ye Na mengingat
kejadian itu.
“pantas
saja, aku melihat Donghae selalu mendekati Ye Na. Aku kira dia mau menjadikan
Ye Na pacarnya ternyata mereka saudara”
“kita
harus bertanya langsung” saran Ye Na.
Eunhyuk
mengangguk setuju.
*****
Tanpa
segan sedikit pun. Sandara dan kedua temannya akan melancarka tindakan jahat
mereka. Kedua teman Sandara menarik paksa Jin Hae yang sedang berjalan dan
langsung membawanya ke toilet. Saat itu, Donghae sedang pergi ke kantin dan
tidak sedang mengikuti adiknya. Dengan penuh amarah Sandara menarik rambut
panjang Jin Hae, menekan kepala Jin Hae lalu menjatuhkannya.
“kau
belum puas dengan semua yang aku katakan dan lakukan?” teriak Sandara keras.
“jangan berada di dekat Donghae lagi. Dia hanya milikku satu-satunya”
“Oppa... Oppa... bantu aku” terdengar
teriakan Jin Hae dalam hati. Mulutnya seakan terkunci. Sulit sekali untuk
mengeluarkan kalimat.
“jika
Dongahe masih milikku orang –orang tidak boleh berada di dekatnya apalagi perempuan.
Semua perempuan yang mencoba mendekati Donghae akan mati ditanganku” kata
Sandara menjambak rambut Jin Hae. Tubuh Jin Hae masih tersungkur di bawah.
Jin
Hae tidak bisa menahan tangisnya. Ia terus terisak saat Sandara terus
menyumpahi dirinya. Ia terus memegang seragam dengan erat. Berharap seseorang
bisa membawanya ke luar. Ia seakan lemah jika sudah mengalami kejadian seperti
ini.
“jika
mulai saat ini aku masih melihat Donghae mengikutimu, aku tidak akan
memaafkanmu. Pembalasan yang kau terima akan lebih sakit dari ini” acam Sandara
sambil melepaskan cengkraman di rambut Jin Hae.
“aa..aa..ku
ti..dak mende..ka..tinya” ucap Jin Hae sambil terisak.
“kau
masih berani berkata seperti itu, hah?” ucap Sandara sinis. Tangan kanan
Sandara sudah diangkat ia bersiap akan menampar Jin Hae.
“Oppa...
Oppa... bantu aku” kata Jin Hae langsung. Ini bukan suara hatinya.
“apa
yang kau lakukan Sandara?” teriak Donghae keras dari ambang pintu. Ia melihat
adiknya yang sudah menangis terisak-isak, rambut Jin Hae sudah acak-acakan,
serta seragam yang tidak rapi. Wajah Donghae terlihat sangat marah saat ia
melihat Sandara hendak memukul adiknya.
“Donghae~aa
kenapa kau ada disini?” tanya Sandara kaget.
Donghae
melihat Sandara benci. Ia langsung mendekati Jin Hae dan langsung memeluknya.
Sandara geram dibuatnya.
“perempuan
sialan ini telah membuatmu berubah. Kau selalu mengikutinya. Perempuan sialan”
teriak Sandara marah.
“aku
tidak suka kau menyakiti Jin Hae. Kita putus!” Donghae tak kalah berteriak. Ia
sekarang memandang jijik bekas pacarnya.
“aku
tidak mau putus denganmu. aku sangat mencintaimu” ucap Sandara sambil terisak.
Ia tidak percaya lelaki yang sangat ia cintai memutuskan hubungan secara
sepihak.
Donghae
masih memeluk adiknya erat. Ia mengusap lembut rambut Jin Hae. Ia membawa Jin
Hae keluar dan mengacuhkan Sandara begitu saja.
“Yak...
berhenti kalian” teriak Sandara semakin kesal. Kedua teman Sandara berusaha
menenangkannya.
*****
Jin
hae masih terisak dalam pelukan kakaknya, Donghae terus membelai rambut adiknya
penuh cinta. Mereka sudah berada di kelas. Semua orang melihat kearah mereka
curiga. Semua murid terus berceloteh, jika kelas bukan tempat pacaran.
“pergi
kalian” teriak Donghae kesal karena semua orang membicarakannya.
“Jin
Hae~aa kau tidak terluka” lirih Donghae. Pelupuk matanya menyimpan cairan. Ia
tidak sanggup melihat adik kesayangannya tersakiti. “kau akan baik-baik saja”
Jin
Hae masih belum bisa melepaskan pelukan kakaknya. Ia semakin terisak mendengar
kalimat Donghae yang lembut.
“Oppa
akan melindungimu, Jin Hae~aa” kata Donghae lembut. Jin Hae semakin terisak. Ia
semakin mengeratkan pelukannya.
`apa
kau mendengar yang Donghae katakan?`
`Oppa?’
`apa
maksud ucapannya?’
‘apa
mereka bersaudara’
Semua
murid terus berceloteh setelah Donghae mengucapkan kata `OPPA`
Eunhyuk
dan Ye Na muncul setelah menyerahkan semua lembaran kertas ke ruang guru.
Mereka berdua melihat Donghae dan Jin Hae berpelukan dan mereka semakin yakin
bahwa Donghae dan Jin Hae adalah saudara, mereka benar-benar kembar.
“apakah
ini ulah Sandara?” tanya Eunhyuk menatap Donghae.
“kau
tahu?”
“Eunhyuk
selalu menolongku” jawab Jin Hae. Ia sudah bisa melepaskan pelukannya.
“Jin
Hae~aa kau baik-baik saja” kata Ye Na kemudian mendekat dan memeluk temannya.
Jin Hae hanya memengangguk.
“kenapa
kau tidak memberitahuku bahwa Sandara selalu melakukan itu terhadap Jin Hae?”
teriak Donghae kearah Eunhyuk.
“aku
tidak tahu kenapa aku harus memberitahumu” jawab Eunhyuk.
“yak...”
kata Donghae mendekat kearah Eunhyuk.
“Oppa...”
ucap Jin Hae yang sudah merasa baikan.
`mereka
bersaudara` teriak seorang murid.
“Oppa...
berterima kasih kepada Eunhyuk! Dia telah menolongku” lirih Jin Hae.
Donghae
menatap adiknya. Ia kembali menatap Eunhyuk. Hatinya masih bertanya-tanya
apakah lelaki itu telah menolong adiknya. Ia menatap Eunhyuk yang langsung
balas menatapnya. “Terima Kasih” ucap Donghae. Eunhyuk mengangguk.
“kalian
kembar kan?” tanya Ye Na.
Donghae
dan Jin Hae saling memandang dan mereka langsung mengangguk membenarkan.
*****
Dengan
perasaan sangat senang yang tiada tara Donghae mengajak Jin Hae untuk main
bersama di halaman. Dengan senang Jin Hae menyetujuinya. Mereka main salju.
Saling tertawa bahagia seakan mereka baru menemukan masa kecil mereka .
“aku
sangat senang malam ini” ucap Donghae.
“aku
juga” kata Jin Hae.
“aku
akan sangat senang jika adikku mengatakan sesuatu yang mau aku dengar”
“Oppa...
Saranghaeyo” ucap Jin Hae sambil memegang tangan Donghae.
“aku
akan melindungimu” Donghae memeluk Jin Hae. Mereka saling tersenyum bahagia.
The End
Komentar
Posting Komentar