Believe in Destiny (Part2)



Nara mengolesi roti dengan slai cokelat dalam diam. Tanpa ada sepatah katapun yang ia ucapkan pagi ini. Apalagi memulai percakapan dengan lelaki itu. Ya, Song Mino. Ucapannya masih terngiang dipikiran Nara saat dia mengatakan bahwa Taehyun tidak pantas untuknya dan harus memutuskannya. Sungguh, Nara masih bingung kenapa dia harus berkata seperti itu? bahkan dia dan Taehyun tidak saling mengenal.
Mino meminum habis teh dihadapannya, “Setelah kuliah selesai aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku harus pulang ke rumah dan menyelesaikan urusanku” ia menatap Nara datar. Mungkin malam ini ia tidak bisa menginap di rumah Nara lagi. Jadi, pagi ini terakhir mereka berangkat bersama.
“Aku sudah menunggu lama perkataan itu dari mulutmu” jawab Nara tanpa ekspresi.
Lelaki itu berdehem cukup keras, “Kau masih marah padaku? Suatu saat nanti kau akan mengetahui apa yang aku bicarakan semalam”
“Itu karena kau berniat menghancurkan hubunganku”
“Tentu saja tidak. Untuk apa aku melakukan hal konyol seperti itu?”
“Mungkin saja kau mencintaiku. Jadi, kau tidak rela melihat perempuan yang cantik sepertiku jalan dengan lelaki lain. Kau cemburu bukan?”
PECAH... Mino menertawakan perkataan Nara barusan. Kenapa dia percaya diri sekali dengan pendapatnya? Sejenak ia melihat raut wajah Nara yang malu karena mungkin apa yang ia pikirkan salah. Tentu saja ekspresi seperti itu sangat lucu dan Mino tidak bisa menahan untuk bersikap diam dan dingin sebagaimana imejnya selama ini. Ia tertawa puas. Cukup baik untuk menghiburnya pagi ini.
“Kau tidak perlu menjawabnya” ucap Nara. Ia tau bahwa jawaban yang akan dikatakan oleh Mino pasti `tidak` jadi ia tidak mau mendengarnya. Bisa jadi wajahnya akan merah seperti  kepiting rebus karena menahan malu.
“Pagi ini Taehyun akan mejemputku. Sebaiknya kau pergi duluan dan jangan muncul dihadapanku lagi” lanjutnya sambil menelan potongan roti terakhir.
Mino tidak membantah, ia langsung berdiri “Jangan merindukanku” ucapnya sambil berlalu begitu saja. Membuat nara menahan kesal.
“Buat apa aku merindukanmu?” teriak Nara mengiringi kepergian Mino dibalik pintu ruang tamunya.
Nara menepuk dadanya beberapa kali. Perkataan tadi lebih cocok ditunjukan kepada dirinya sendiri. Bisa saja perkataan Mino benar namun selalu saja hati kecilnya menolak untuk merindukan lelaki itu, selalu membantah jika Mino datang dalam pikirannya.
***
            Mino berjalan dengan langkah cepat agar perempuan itu tidak selalu mengikuti dan berada disampingnya. Sungguh, sore ini ia akan mengambil barang pesanan. Jadi, seharusnya ia pergi sendiri. Tetapi, perempuan itu malah menawarkan diri untuk menemaninya. Tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Mino, dia malah mengikutinya.
            Ia sebisa mungkin menghindari untuk sejajar dengan perempuan tersebut. Dia memang cantik dan tidak akan membuat malu jika Mino mengajaknya keluar. Hanya saja, ia tidak suka pergi bersamanya. Hatinya menolak.
            “Kau seakan menghidar dariku, Mino~yaa?” perempuan itu sudah mengapit lengan kanan Mino. Dengan raut wajah penuh pertanyaan dan penjelasan.
            “Maafkan aku, In Young~yaa. Kau tidak harus bersikap seperti ini. Aku bisa berjalan seperti biasa” Mino melepaskan tangan perempuan itu dengan lembut.
            Park In Young. Perempuan cantik dengan rambut cokelat terurai panjang itu memicingkan bibirnya tak suka. Memperotes karena lelaki yang sangat dicintainya menolak apa yang ia lakukan.
            Mereka sudah berteman sejak lama. Banyak teman mereka mengatakan bahwa mereka pasangan yang cocok. Keduanya saling melengkapi, lelaki berpostur tinggi yang tampan dan juga perempuan cantik dan seksi. Setiap orang yang melihat mereka akan mengatakan bahwa mereka pasangan yang membuat iri. Namun, semua pujian itu sangat memberatkan bagi Mino. Ia sama sekali tidak menginginkan In young didekatnya. Apalagi sesudah Mino mendengar penjelasan dari In Young bahwa dia sangat mencintainya.
            Mino merasa menyesal saat perempuan itu mengungkapkan rasa cintanya. Menyesal karena tidak bisa membalas perasaan tersebut. Sama sekali tidak ada perasaan cinta dihati Mino. Sebisa mungkin ia akan menjauh karena tidak ingin memberikan harapan palsu untuknya. Mino berusaha menjauh tapi dia selalu berusaha mendekatinya.
            Mereka sudah berada didepan tempat aksesoris yang didominasi untuk keperluan wanita.
            “Kau mau membeli apa?” tanya In Young penasaran.
            Mino tidak menjawab. Ia sudah berbicara dengan salah satu pelayan disana, “Apa pesanannya sudah jadi?”
            Mino mengambil pesanan tersebut dan langsung memasukannya kedalam saku jaket bulunya. Ia beralih menatap In Young, “Aku tidak bisa menerima ajakanmu untuk makan malam bersama”
            In Young menatap Mino nanar.  Ada raut wajah sedih dan terpukul disana. Ia sudah menyiapkan makanan special untuk mereka berdua. Namun kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Lelaki yang dicintainya menolak tanpa memperdulikan perasaannya.
            “Kenapa?” lirihnya.
            “Karena ada urusan yang sangat penting. Maafkan aku”
            In Young memegang kedua tangan Mino. Memohon agar lelaki itu berubah pikiran, “Aku mohon, Mino~yaa. Kau tau bahwa aku sudah menyiapkan pesta makan malam ini hanya untukmu? Aku sudah melakukan agar malam ini berkesan dan membuatmu senang. Hanya malam ini! aku mohon. Aku ingin makan malam bersamamu”
            Mino menatap perempuan itu datar, “Sekali lagi maafkan aku”
            “Apa perempuan itu berhasil merebut hatimu?”
            “Aku tidak bisa mejawabnya” ia menarik napas gusar, “Aku sudah menganggapmu sebagai teman baikku, tidak lebih”
            “Taukah kau bahwa perkataanmu begitu menyakitkan? Sejak dulu aku selalu mencintaimu dan selalu menunggu kau membalas perasaanku. Anggap saja aku tidak mendengar perkataanmu saat ini” In Young menangis. Air matanya selalu keluar hanya untuk Mino seorang, tetapi kenapa dia selalu tidak menanggapi perasan In Young. Selalu saja membuatnya sakit.
            Mino mengguncang bahu In Young, “Aku mohon jangan menangisi lelaki jahat sepertiku. Kau bisa bahagia tanpa aku, bukan? Kau wanita kuat”
            Perempuan itu menggeleng. Bagaimana ia bisa kuat tanpa ada lelaki itu disampingnya. Ia butuh menenangkan diri atas perlakuan Mino. Ia memeluk Mino sebentar lalu berlari sekuat tenaga menghindarinya. Hati kecilnya berharap agar lelaki itu mengerjarnya, tetapi kenyataannya tidak.
***
            Dilain sisi diwaktu yang sama. Nara keluar dari taksi dengan balutan jaket cokelat hangat yang terasa nyaman. Ia sedang berada di Shinsigae, salah satu pusat belanja terbaik di Seoul.
            Dia menaiki tangga menuju lantai tiga. Saat dipertengahan jalan matanya tanpa sengaja bertemu dengan sosok lelaki tampan yang sangat ia kenal bersama dengan perempuan cantik. Ia kembali memutarkan tubuhnya dan berlari kelantai dua.
            Hatinya campur aduk, sedih, kecewa, dan marah menjadi satu yang tak akan bisa tertahankan lagi. Dengan langkah cepat ia berjalan dan menepuk punggung lelaki tersebut.
            “Terima kasih atas pengkhianatannya” seru Nara tanpa basa-basi lagi. Ia tersenyum sinis, berusaha menahan gejolak amarah yang menghinggapi hati dan pikirannya.
            Mereka berdua, lelaki dan perempuan tersebut menoleh bersama. Tentu saja, membuat lelaki tersebut tercengang dan hampir tak bisa berkata.
            “Aku selalu percaya dengan apa yang kau lakukan dibelakangku, Nam Taehyun” teriak Nara geram, “Kau menghancurkan kepercayaanku begitu saja? hebat”
            “Tolong dengarkan aku dulu! Aku akan menjelaskan kesalah pahaman ini” jawab Taehyun sambil menggenggam tangan Nara erat, namun dia berusaha melepaskannya dengan kasar.
            “Apa lagi? Penglihatanku sudah menjelaskan semuanya. Aku tidak buta dan aku sudah melihat jelas kejadian tadi”
            “Oppa? ada apa? Siapa perempuan tidak tau malu ini?” sela perempuan yang sedang berada disamping Taehyun tersebut. Ia memandang Nara kesal.
            “Menjauhlah dariku!” teriak Taehyun kearahnya.
            “Kau kenapa? Hanya gara-gara perempuan ini kau membentakku?”
            “Arghhhh...” seru Taehyun frustasi, Ia kembali menatap Nara, “Nara~yaa, kita bisa membicarakan kejadian ini dengan kepala dingin dan tanpa emosi” ia terdiam beberapa saat, “Dia hanya teman satu jurusan denganku. Kebetulan kami bertemu disini dan jalan bersama. Aku mohon percayalah padaku”
            “Selama ini kau anggap aku apa?”
            “Pembohong sialan”
            Balas Nara dan perempuan tersebut serempak. Nara masih bertahan diri menghadapi Taehyun. Berbeda dengan perempuan itu yang langsung menampar Taehyun cukup keras lalu pergi begitu saja dengan wajah emosi.
            “Berpegangan tangan, merangkul, jalan berdekatan, dan mengusap rambut dengan romantis, apakah itu disebut berteman? Kenapa tidak sekalian saja kau menciumnya dihadapan wajahku” seru Nara bertubi-tubi. Dengan jelas ia berhasil mendeskripsikan apa yang sudah di lihat. Orang lain juga akan berpikir seperti dirinya. Menganggap bahwa mereka adalah sepasang kekasih, bukan teman.
            “Aku tidak berinat membohongimu. Sumpah, aku mencintaimu. Jadi aku mohon, maafkan aku. Aku tidak akan mengulang kejadian ini” Taehyun membujuk Nara sekuat tenaga.
            “Tanpa secara langsung kau sudah mengakui bahwa kau selingkuh. Ternyata aku salah menilaimu selama ini. Aku sudah membangun kepercayaan terhadapmu selama enam bulan dan kau menghancurkannya dalam beberapa menit ini. Pembohong sialan” lagi-lagi Nara berteriak sambil memukuli dada Taehyun. Ia membiarkan pengunjung melihat apa yang sedang dilakukan karena saat ini ia tidak memikirkan imej dirinya sendiri. Ia sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. air mata yang berusaha di tahan perlahan mulai menetes membasahi pipi merahnya.
            “Aku pantas menerimanya. Kau pantas membenciku. Tapi aku mohon, tolong maafkan aku. Aku tidak mau kehilanganmu karena aku sangat mencintaimu”
            “Orang yang mencintai tidak mungkin menyakiti pasangannya”
            Serempak Nara dan Taehyun menoleh kearah sumber suara yang tidak jauh dari posisi mereka. Nara mengusap air matanya. Song Mino, kenapa dia ada disini? Batin Nara ingin tau.
            “Diam kau! Jangan mencampuri urusan kami” teriak Taehyun sambil menarik tangan Nara dengan paksa.
            “Lepaskan... au.. lepaskan... sakit” Nara meronta sekuat tenaga namun genggaman lelaki itu sangat kuat sampai Nara harus merintih kesakitan.
            “Aku tidak bisa membiarkan seorang pria berbuat kasar kepada wanita” teriak Mino geram atas pemandangan yang tak mengenakan tersebut. kenapa ia tidak terima melihat Nara menangis dan mendapat perlakuan kasar tersebut?
            Mino yang dari awal sudah muncul Dengan aura dingin dan tatapan tajam membunuh. Sungguh, hatinya sangat sakit saat melihat Nara. Ia tidak akan membiarkan perempuan itu lecet.
            “Ikut aku!” paksa Mino kearah Nara saat ia sudah bisa membawa perempuan itu kedalam genggamannya. Taehyun tak terima, ia berusaha memukul Mino namun tidak berhasil.
            Nara mengangguk, lalu menatap Taehyun sekilas, “Kita putus” serunya sambil berjalan mengikuti langkah kaki Mino. Meninggalkan bekas menyakitkan atas perlakuan Taehyun, lelaki yang dicintainya.
***
            Disinilah mereka, ditaman yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Cherr’s Park tidak seramai ketika pagi maupun siang. Menjelang sore terasa sepi dan jauh dari hiruk pikuk orang. Membuat Nara leluasa untuk menangis semaunya.
            Mino beberapa kali mengusap bahu Nara berharap bisa menenangkannya. Bahkan Nara merasa kesal, Kenapa dia harus menangisi lelaki berengsek seperti Taehyun?
            “Sekarang aku mengerti kenapa waktu itu kau memintaku untuk putus dengan Taehyun” Nara berusaha membuka pembicaraan karena suasana hatinya terasa lebih nyaman. Entah kenapa, sentuhan lembut Mino seperti sengatan listrik yang membuatnya perlahan berhenti menangis. Hatinya pun merasa lebih nyaman dari sebelumnya.
            “Kebetulan aku pernah melihat lelaki berengsek tersebut bersama perempuan lain”
            “Thanks ya sudah ngasih tau” ucap Nara tersenyum lebar.
            Mino tersenyum, namun hanya sedikit kemudian berubah menjadi lelaki iblis seperti biasanya. Dingin.
            “Aku tidak tau harus berbuat apa jika tidak ada kau. Terima kasih Song Mino~ssi”
            “Ah.. sudahlah. Aku tidak bisa menerima ungkapan terima kasih yang begitu banyak”
            “Tetapi, bagaimanapun juga aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu” seru Nara sambil memeluk tubuh Mino, “Terima kasih banyak”
            Tubuh Mino menegang seakan aliran darah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jantunya seakan berhenti beberapa detik saat perempuan itu memeluknya. Ia hanya menerima pelukan Nara tanpa membalasnya.
            Entah apa yang Nara pikirkan saat ini. Dengan refleks ia menghambur memeluk Mino. Tenang dan nyaman. Perasaan yang tidak bisa ia dapatkan dari siapapun kecuali dalam pelukan Song Mino.
            “Aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Tetapi, perasaan ini muncul begitu saja” lirih Nara dalam hati sambil tersenyum lebar.
***
            Malam ini. Nara harus bersusah payah menggunakan gaun dan dandan secantik mungkin untuk menyambut perayaan pesta yang sangat mewah untuknya. Ia dan kedua orang tuanya berjalan masuk menuju restoran yang sudah dipesan sebelumnya, kelas VIP.
            Mereka sudah sampai dan disambut hangat oleh tiga orang yang tidak asing lagi. Song Family. Mino, lelaki itu duduk disamping Ibunya dengan mengguakan pakaian taxedo berwarna abu yang sangat memperjelas ketampanannya.
            “Selamat ulang tahun, uri Nara~yaa” suara Nyonya Song berhasil memecah malam ini seakan terlihat berwarna meskipun tidak ada yang berubah sama sekali.
            “Mino~yaa, aku senang kau bertambah umur” seru Nyonya Kim menghambur kepelukan Mino.
            Kedua anak manusia ini merayakan pesta ulang tahun bersama. Lahir diwaktu yang sama sudah menjadi rencana tuhan tentunya. Sederhana namun terasa menyentuh. Meskipun tidak ada teman tetapi cukup dengan kehadiran orang tua berhasil membuat Nara dan Mino bahagia.
            Keluarga tersebut makan malam bersama, saling bertukar pikiran dan membahas tentang rencana untuk anak mereka. Penutupan makan yang menyenangkan dengan tiupan lilin ke 22 tahun dan sebuah harapan doa.
            “Kita biarkan mereka berkencan malam ini” ucap Tuan Kim yang mendapat persetujuan dari semua, kecuali Mino dan Nara yang saling bertatapan.
***
            “Kemana kau akan megajakku pergi?” tanya Nara penasaran. Hampir tiga puluh menit mereka berada didalam mobil. Nara seakan merasakan bahwa Mino hanya berputar dijalanan Seoul.
            “Nonton atau melihat carnaval?” tanya Mino balik.
            “Carnaval lebih menyenangkan” ucap Nara gembira. Sudah lama ia tidak menyaksikan carnaval yang sering dilaksanakan setahun sekali ini, “Tapi.. apa tidak ribet memakai gaun seperti ini?” lanjutnya.
            “Kau yang memakainya kenapa harus bertanya padaku?”
            Bukannya menjawab, Mino malah bertanya balik, pertanyaan yang membuat Nara seakan menjadi orang bodoh. Ia baru sadar jika apa yang ia ucapkan tidak pantas ditanyakan kepada orang lain seharusnya kepada diri sendiri.
            “Yang paling penting adalah jaket, karena udara yang sangat dingin dan salju mulai turun. Aku tidak akan bertanggung jawab jika kau sakit” kata Mino datar. Nara memicingkan bibir kesal. Tentu saja ia tau. Mana mungkin ia tidak memakain jaket saat salju turun.
            Mino membelokan mobil menuju jalan Teheran karena disanalah karnaval diadakan. Namun, jalanan tampak sepi seperti hari-hari biasa. Banyak orang yang berlalu lalang namun tidak sebanyak untuk menghadiri perayaan.
            Mereka turun dari mobil, “diadakan disini?” tanya Nara sambil melirik kesekelilingnya, “Aish.. pembohong sialan”
            “Temanku mengatakan disini lokasinya” jawab Mino sambil berkutik dengan ponselnya, berusaha untuk menghubungi seseorang.
            “Tolong tanyakan lagi. Jangan menipuku, Song Mino” gerutu Nara mulai kesal.
            “Acaranya tidak berlangsung hari ini. diundur sesuai dengan peyesuaian keadaan cuaca. Maafkan aku. Bukannya membohongimu sobat tetapi memang keadaannya seperti itu”
            Nara menghela napas sesudah mendengarkan suara teman Mino dibalik telepon. Cukup sudah ia mendapat kesakitan dari Taehyun sebelum hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu. dan sekarang, ia harus kecewa karena tidak jadi menyaksikan perayaan yang sangat ingin ia lihat untuk hadiah ulang tahunnya. Menyebalkan.
            “Gomawo atas informasinya, Kang SeungHoon~yaa” ucap Mino mengakhiri pembicaraan.
            Nara tidak mau melanjutkan kencan ini. suasana hatinya sudah berubah sejak tidak jadinya perayaan tersebut. Mino menyetujui saran Nara untuk langsung pulang saja karena malam semakin larut dan dia mulai lelah.
            Didalam mobil sepi, tidak ada sepatah katapun yang mereka bicarakan. Nara beberapa kali menguap dan Mino hanya menatap lurus kearah depan.
            Setelah menembus jalanan seoul yang semakin malam semakin ramai. akhirnya, mereka sudah berada didepan rumah Nara. Mino turun dari mobil, mengantarkan Nara menuju pintu depan.
            Beberapa kali Mino memegang sebuah kotak yang tersimpan didalam saku jasnya. Ia tidak berani untuk mengeluarkannya. Pikirannya masih dihantui apakah barang ini akan diterima atau tidak.
            “Mau bertemu dengan orang tuaku dulu?” tanya Nara. Dengan refleks membuat Mino kembali menyimpan kotak tersebut kesakunya.
            “Aku tidak mau mengganggu mereka”
            “Baiklah.. hati-hati ya!” kata Nara tulus sambil membuka knop pintu rumahnya.
            “Tunggu” teriak Mino yang membut Nara menoleh lagi.
            “Kenapa?”
            Mino menarik napas gusar. Dengan keberanian penuh ia berhasil mengeluarkan kotak tersebut, “Selamat ulang tahun” serunya datar sambil memberikan hadiah tersebut.
            Nara terdiam. Bukan karena ucapan tersebut melainkan karena hadiah yang dibawakan Mino. Ia tidak percaya akan mendapatkan hadiah darinya, sungguh menyenangkan. Berhasil membuat hati nara merekah kembali.
            “Ini untukku?” tanyanya memperjelas. Mino mengangguk singkat. Nara mengambilnya dengan senang, “Terima kasih banyak”
            Sebuah kalung dengan nama NARA sebagai liontinnya. Bagus dan cantik. Tanpa sadar Nara sudah menitikan air matanya, “Kau tidak suka?” tanya Mino saat melihat Nara menangis haru.
            “Terima kasih. Tentu saja aku suka” ia berusaha mengelap air matanya.
            “Selamat malam” kata Mino sebelum membalikan tubuhnya.
            Dengan cepat Nara menghambur dan memeluk Mino erat dari belakang, “Selamat ulang tahun juga”
            Mino melepaskan pelukan Nara, “Cepat masuk! Udara dingin sekali”
            Nara tersenyum lebar kemudian segera mengambil hadiah yang sudah ia siapkan didalam tas kecilnya. Sebuah barang yang sengaja ia beli untuk Mino beberapa hari yang lalu saat pertemuan terakhirnya dengan Taehyun, “Semoga kau suka”
            Mino mengambil dan membuka kotaknya, “Gantungan kunci?” ia mengangkat alis dan tersenyum, “Ah.. terima kasih. Aku harap kau mempunyai makna dengan pemberian gantungan kunci ini?”
            “Sederhana saja. Jangan pernah melupakanku.. ah.. maksudku jangan pernah melupakan pertemuan kita yang konyol atas nama perjodohan”
            “Tentu saja. Sekali lagi terima kasih” ucap Mino sambil menarik Nara kedalam pelukannya. Ia mengecup kening Nara singkat sebagai salam perpisahan untuk malam ini.
***
            Sepulang dari kampus Mino dan Nara tidak langsung ke rumah. Mereka sekarang sedang berada di Coffesmith untuk menunggu hujan berhenti. Udara musim dingin ditambah dengan hujan yang terkadang turun membuat beberapa orang senang untuk menikmati secangkir kopi atau teh yang hangat.
            Nara mengeluarkan dua buah novel yang baru dibeli beberapa menit yang lalu bersama Mino. Novel fantasi yang selalu membuat Nara berimajinasi lebih jauh. Sungguh mengasikan.
            “Apakah novel semacam itu tidak akan membuat pembaca menjadi stress?” tanya Mino menatap novel yang diletakan diatas meja.
            “hey... kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”
            “Didalam ceritanya mengandung kejadian diluar pikir akal sehat kita. bukankah itu membuat kita seperti orang bodoh? Membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi”
            Nara membalikan novel karangan Maggie Stiefvater dengan judul LAMENT dan membaca sinopsis di bagian belakangnya, “Luke, seorang peri pembunuh mendapat tugas untuk mencabut nyawa gadis bernama Deirdre Monaghan. Tak disangka-sangka Luke ternyata jatuh cinta kepada Deirdre” Nara mengerutkan kening, “Cerita yang menarik bukan?”
            Pelayan datang dengan Cokelat panas dan Green Tea hangat.
            “Ayahku akan memberi setumpuk buku tentang cara berbisis dari pada sebuah novel” dengus Mino, “Itulah kenapa aku tidak suka membaca cerita”
            Nara menggenggam cangkir hangat beisi Green Tea, “Kau harus menjadi pembisnis yang hebat! Karena itu tujuan orangtuamu”
            “Aku belum siap untuk masuk perusahaan. Lagipula, umurku masih sibuk dengan kesenangan” ucap Mino setelah menyeruput cokelat panas miliknya.
            “Jangan terus berpoya-poya dan menghabiskan uang. Kau anak tunggal dan tanggung jawabmu semakin besar atas perusahaan”
            “Aishh..” dengus Mino kesal, “Kau juga anak tunggal, ingat itu!”
            “Dan aku sangat pintar dalam masalah bisnis”
            “Benar. Pintar dan juga manja. Seharusnya kau buang sifat seperti itu. supaya tidak merepotkan aku”
            Nara menyesap tehnya, sungguh terasa hangat dan berhasil membuang semua beban dipikirannya.
            “Kau mau membantuku? Satu kali saja” kata Mino panik. Ia menatap ke pintu depan dekat kasir, “Untuk menjauhkan aku dari gadis itu, yang memakai T-shirt berwarna merah. Itu perempuan yang terus mengikutiku. Dia jatuh cinta kepadaku” lanjutnya dengan nada sedikit pelan.
            “Tidak” jawab Nara yakin.
            “Ayolah.. untuk kali ini saja” paksanya.
            “Aku bilang tidak ya tidak. Paham?”
            “Kau sulit sekali” Mino memicingkan bibir kesal, “Ayo berdiri” paksanya. Tentu saja Nara nurut karena tangan Mino terus berusaha menarik Nara untuk berdiri berhadapan.
            “Terus?”
            “Mendekatlah!”
            “Untuk apa?” tanya Nara tak paham.
            “Ayolah... In Young semain mendekat. Untuk kali ini saja aku meminta bantuanmu”
            Nara mendekat. Cukup dekat malah. Jarak mereka hanya tiga puluh centi meter. Dengan puas Nara bisa melihat wajah Mino yang tampan, hidung yang mancung dan wangi parfum citrus. Pandangan matanya tidak lebih parah dari jantungnya yang mulai berdetak tidak seperti biasanya. Nara bersikap seperti biasa, namun debaran jantungnya semakin tak terkendali saat tangan Mino menyentuh pipinya. Hangat.
            “Maafkan aku” dengus Mino sebelum menarik tubuh Nara semikin merapat.
            Belum Nara menjawab. Tubunya sudah menegang dan pikirannya buyar entah kemana. Dengan kuat ia memegang jaket bulu Mino. Bagaimana ia harus bertidak? Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu Mino sudah menempelkan bibirnya pada bibir Nara. Bibirnya terasa hangat, pikir Nara. Napas mereka menyatu untuk beberapa detik. Dan ciuman itu belum juga lepas.
            Semua pengunjung tidak memperhatikan mereka karena posisi meja mereka yang berada disudut dekat jendela.
            “Oppa? What the hell?” terdengar teriakan perempuan tidak jauh dari mereka.
            Mino melepaskan ciumannya dengan pelan dan kembali membuka mata. Beberapa kali Nara berusaha menepuk dada agar kembali seperti biasa. Lagi-lagi niatnya gagal saat Mino kembali menariknya kesamping dan setengah memeluknya.
            “In Young~aa, Sedang apa kau disini?” tanya Mino pura-pura terkejut.
            Nara tersenyum kecil, “aktor yang hebat” batinnya.
            “Aku sedang minum bersama calon istriku” ia mencium kening Nara. “Perkenalkan sayang, ini In Young, teman terbaikku” lanjutnya sambil mengedipkan sebelah mata. Hebat sekali aktingnya, gerutu Nara.
            Belum sempat Nara mengulurkan tangan, In Young sudah mendorong tubuh Mino dengan kesal, “Aku membencimu. Sungguh”
            “Itu lebih baik” Mino tersenyum polos.
            In Young berjalan menjauhi mereka dengan mata merah menahan tangis. Nara kembali keposisi semula berusaha menetralkan semua kejadian ini. Ciuman tadi. Tanpa pemberitahuan namun berhasil membuat Nara seakan hilang kesadaran. Payah.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama by Keigo Higashino

Ruang Waktu : Sinopsis

Review Novel Kesetiaan Mr. X by Keigo Higashino