Believe in Destiny (Part1)
“Apaaa?”
“Perjodohan?”
Pekik Song Mino dan Kim Nara serempak memenuhi ruang tamu. Lelaki itu
memandang Nara dingin dan tidak suka. Terlebih lagi melihat kearah orang tuanya
yang tersenyum penuh binar kebahagian. Sepertinya mereka sangat menginginkan
perjodohan ini dilaksanakan. Ini jaman dimana masa kebebasan sudah
diagung-agungkan, namun ia harus dijodohkan dengan tidak meminta persetujuan
terlebih dahulu.
“Saya menolaknya” Mino menatap tajam
kearah Nara memberi peringatan agar ia juga melakukan hal yang sama.
“Kami masih kuliah. Jadi, kami
menolak keinginan kalian. Maafkan aku” Nara menatap lirih wajah kedua orang
tuanya beserta keluarga Song. Perjodohan ini tidak akan berhasil jika tidak
mendapatkan persetujuan dari yang akan melaksanakannya. Ini tidak akan
berhasil. Mereka masih ingin menemukan cinta sejati mereka. Diluar sana, masa
depan mereka sangat panjang dan cerah.
“Kami tidak menyuruh kalian untuk
menikah saat ini juga. Kami akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk
saling mengenal” suara Nyonya Song tampak begitu semangat untuk menyatukan
kedua anak manusia ini.
“Kau tidak akan menyesal menerima
perjodohan ini, sayang. Song Mino orang yang
baik dan sopan. Dia juga begitu tampan” itu suara dari samping, suara lembut
ibunya. Kenapa mereka sangat menginginkan perjodohan ini? dari kecil, Nara
tidak akan menolak permintaan kedua orang tuanya namun ini hal yang berbeda. Ia
tidak bisa menerima perjodohan dengan lelaki dingin seperti Mino.
“Kalian sudah dijodohkan sejak bayi”
pernyataan Tuan Song mengagetkan keduanya, “Kami baru bisa membuka rahasia ini
jika umur kalian sudah menginjak usia dua puluh dua tahun”
“Kita akan menjadi keluarga besar.
Perjodohan ini sangat mempengaruhi semuanya” timpal Ayah Nara tak kalah senang.
“Kami belum berusia 22tahun” sela
Mino, “Ijinkan kami mencari pasangan sebelum kami menginjak usia 25tahun”
bagaimanapun caranya ia harus bisa membujuk kedua orang tuanya agar membatalkan
perjodohan ini.
“Benar” ucap Nara setuju dengan
pendapat lelaki dingin itu, “Sampai usia kami 25tahun. Kami janji akan
menemukan pasangan kami. Kita bisa menjadi keluarga tanpa perjodohan ini”
“Tidak bisa. Kalian lahir ditanggal
yang sama. Dua minggu lagi usia kalian akan menginjak 22tahun. Ibu sangat
menginginkan perjodohan ini, sayang” Ibu menatap Nara penuh pengertian.
“Aku dan Mino bisa menjadi kakak dan
adik. Lebih baik kita menjadi saudara yang saling menyayangi” Nara memegang
tangan Ayah dan Ibunya. Berharap mereka akan mengerti dengan keinginannya.
“Perjanjian harus dilaksanakan.
Kalian sudah kami jodohkan. Kami memberi kesempatan agar kalian saling mengenal
sebelum pernikahan” kaget. Itulah ekspresi Nara dan Mino. Mereka saling
berpandangan. Apakah secepat ini?, “Tenang. Kalian akan menikah setelah lulus
kuliah nanti. Itu masih lama jadi, kalian masih
bisa menikmati masa kehidupan indah kalian” lanjut Ibu Mino berbinar.
“Menikah dengan perempuan manja
seperti Nara?”
“Yaaa, aku tidak mau menikah dengan
lelaki dingin seperti Song Mino”
Kedua orang tua mereka hanya bisa
tersenyum melihat anaknya berteriak menolak perjodohan ini. Mereka harus
menerimanya karena mereka sudah diikat oleh takdir. Takdir yang mengikat mereka
sejak lahir.
***
Sebuah makan malam yang terbilang
luar biasa hebat. Menyediakan berbagai hidangan dari beberapa negara di belahan
dunia. Ini tempat untuk kalangan pengusaha, pejabat, dan artis besar.
Seharusnya orang tua Mino tidak perlu menyiapkan makan malam yang luar biasa
untuk mereka berdua.
“Kenapa orang tuamu menyuruh kita
makan malam disini? Ini terlalu berlebihan untuk kita” tanya Nara saat ia sudah
berhasil mengerjapkan mata dan memandang Mino dengan penuh keingintahuan.
“Apa kau mau makan di pinggir jalan,
hah? Aku tau kau tidak akan sudi melakukannya. Jadi, terima saja dengan
pemberian ini” itu bukan jawaban dari Mino, lelaki itu hanya ingin memulai pertarungan
dengan Nara. Dia hanya bisa mendengus kesal.
“Kau pikir aku tidak mau makan
dipinggir jalan sebagaimana perempuan yang lainnya? Wow kau sungguh hebat Song
Mino, bisa menilai orang tanpa fakta pendukung yang jelas” sungut Nara emosi
dan mencemooh. Berani sekali dia menilai dirinya semudah itu.
“Mana mungkin kau bisa makan selain
ditempat mewah seperti ini. Kau perempuan manja”
“Apaaa?” pekik Nara tak setuju,
“Kita buktikan sekarang, kau atau aku yang tidak bisa makan selain ditempat
mewah”. Nara berdiri sambil menatap Mino agar lelaki itu juga ikut berdiri.
“Kita sudah memesan makan disini.
Duduklah! Jangan membuatku malu” Mino tidak bergeming sama sekali, ia malah
memandang perempuan itu dengan tatapan tajam dan dingin.
Nara ingin membantah dan
mengacak-ngacak wajah lelaki kejam dihadapannya. Ia ingin membalas namun tidak
bisa. Pelayan sudah mengantarkan makanan untuk mereka dengan otomatis Nara
harus bisa menahan kekesalannya. Baiklah... kali ini ia akan membuat Song Mino
menang, tetapi tidak untuk hari selanjutnya.
Mereka makan dalam diam tanpa ada
sepatah kata pun. Suasana di Restoran ini nyaman namun tidak untuk mereka
berdua.
***
Mereka keluar dari restoran dengan
wajah datar dan suasana hati yang tidak sejalan. Nara masih lapar namun lelaki
itu dengan semaunya menyuruh Nara berhenti dan memaksanya pulang. Dengan alasan
bahwa ini sudah malam. Bagaimana bisa jam sembilan malam bagi anak kuliahan
dianggap jam rawan? Dengan dingin Mino tetap memaksa Nara untuk pulang.
“Kau tidak usah memaksaku!” Nara
tidak bisa berjalan mengimbangi langkah besar Mino. Ia berhenti tepat lima
langkah didepan pintu masuk.
Mino menoleh dengan geram, “Ikut aku
pulang atau kau akan ku tinggal sendiri disini”
Nara bercak pinggang seakan
menantang lelaki dingin yang tak berperasaan dihadapannya, “Kau pikir aku
takut? Kita belum resmi dijodohkan, jadi kau tidak bisa memaksa atau menyuruhku
lagi”
Mino menatap dingin, “Aku harus
bertemu seseorang malam ini” ia menarik napas, “Aku tidak bisa berlama-lama
disini bersama perempuan manja sepertimu. Jadi, aku sedang berbaik hati untuk
mengantarmu pulang terlebih dahulu. Sekarang cepat masuk kedalam mobil!”
Mino berjalan kesamping kanan lalu
masuk kedalam mobil berwarna merah cerah. Ia masih duduk didepan kemudi sambil
menatap Nara yang tidak bereaksi sama sekali.
“Kau tidak akan menyesal dengan
sikap manjamu saat ini?”
Nara mengangkat alis tak mengerti
namun bersikap biasa, “Tidak” ucapnya singkat yang membuat Mino berdehem keras.
“Baiklah Kim Nara, sampai berjumpa
lagi”
Mino menjalankan mobil dengan
kecepatan sedang dan elegan. Sial, ternyata tadi ucapan
terakhirnya.
Nara menatap kepergian Mino dengan
kesal. Berani sekali dia meninggalkan perempuan untuk pulang sendirian.
Setidaknya ia membujuk karena itu yang diinginkan perempuan. Namun, dia sama
sekali acuh dan terkesan tak peduli.
“Lihat saja nanti” ucap Nara sinis
sambil melangkah dari tempat semula, “Lelaki dingin sepertimu harus pergi ke
neraka dan jangan pernah muncul dihadapanku” gerutu Nara emosi.
***
Pagi harinya.. Semua kekesalan Nara
terhadap Mino sudah bisa dilupakan. Ia tidak perlu mengingat kejadian yang
tidak bisa membuatnya bahagia. Tanpa lelaki itupun ia bisa pulang dengan
selamat, meskipun datang ke rumah dengan tubuh menggigil.
Semalam turun salju dan Nara hanya
memakai baju yang biasa tanpa membawa jaket. Hampir sepuluh menit ia berjalan
untuk mencari taksi atau angkutan umum dengan salju terus turun diatas
kepalanya.
Sampai dirumah dan bertemu dengan
kedua orang tuanya ia masih mengutuk dan menyumpahi Mino yang tidak mempunyai
hati nurani sama sekali. Lelaki dingin itu berhasil membuat darah Nara mendidih
menjadi seratus derajat.
“Ayah tidak bisa mengantarmu ke
kampus. Maafkan ayah, sayang” suara tuan Kim berhasil membuat mulut Nara tidak
bisa menelan makan siangnya. Sedangkan nyonya Kim tidak bereaksi, ia hanya bisa
menyernyitkan dahi untuk mohon pengertian kepada anak tunggalnya.
“Kenapa ayah tidak mengatakannya
dari tadi?” ia menelan paksa makanannya, “Aku paling tidak suka pergi ke kampus
dengan kendaraan umum. Aku malas. Lebih baik aku tidak pergi.
“Jangan manja, sayang” komentar
nyonya Kim halus.
“Ayah harus pergi menemui rekan
bisnis setelah makan siang ini. Kamu bisa membawa mobil ke kampus. Naik
kendaraan umum juga bukan solusi yang buruk”
Nara menghabiskan makanan
terakhirnya, “Kalian tau jika aku tidak bisa menyetir. Kendaraan umum? Tentu
saja tidak. Tadi malam aku sudah pulang dengan kendaraan umum dan sekarang aku
harus pergi menggunakan itu juga. Kalian jahat kepada anak sendiri?”
“Salah kamu yang tidak bisa membawa
mobil, sayang” timpal nyonya Kim menyudutkan anaknya. Yaampun, ada apa dengan
nyonya Kim?
“Kenapa tidak ibu saja yang
mengantarku?”
Nyonya Kim menggeleng, “Ada urusan
yang tidak bisa ditinggalkan”
“Kalau begitu, aku tidak akan
berangkat” ucap Nara acuh sambil meninggalkan meja makan.
“Tidak bisa. Ayah sudah memanggil
seseorang untuk mengantarmu”
***
“Aku tidak mau bertemu dengan alien
yang hidup diabad pertama”
Pekik Nara nyaring saat membuka
pintu depan rumah dan mendapati sosok mahluk abstrak yang tidak ingin ia lihat.
Nara akan kembali menutup pintu, namun suara itu membuatnya kesal dan menoleh
cepat, “Hai” ucapan singkat yang terkesan dingin dan membunuh.
“Kau tidak usah datang kesini jika
hanya disuruh oleh orang tuaku” ucap Nara datar sambil menatap lelaki itu dari
ujung kepala hingga ujung kaki. Gaya santai dengan rambut acak-acakan. Inilah
Song Mino, mahluk kejam yang tidak ingin ia lihat.
“Kenapa kau bilang pada orang tuamu
bahwa aku tidak mengantarmu pulang? jika orang tuamu tau maka orang tuaku juga
pasti tau. Dan mereka menyuruhku untuk menjemput dan mengantar calon menantunya
pergi. Tadi malam, seharusnya kau tidak perlu membuka mulut” sepertinya ini rekor Mino, berkata tanpa jeda.
Beruraian begitu saja. Membuat Nara memicingkan bibir tak suka.
“Kau boleh pergi sekarang”
“Kau pikir aku bodoh?” Mino menarik
tangan Nara dan mendudukannya di mobil, “Jika aku menolak mengantarmu pergi
berarti orang tuaku akan memarahiku dan menyuruh untuk selalu mengantarmu
kemana saja. Asal kau tau, aku bukan supir maupun pengawal. Kau hanya harus
diam dan kita pergi ke kampus bersama”
Benar. Lelaki itu tidak bodoh. Ia
harus pergi bersama Nara jika ia mau selamat dari orang tuanya. Jika tidak, ia
harus dengan senang hati mendapat ceramahan dari orang dibalik ini semua yang
membuatnya bete setengah mati.
“Tidak bisa memaksa dengan cara
seperti ini” tolak Nara dengan senang hati, “Aku tidak ingin mengambil resiko
besar jika Taehyun melihatku bersamamu”
Mino mengerjap, “Pacarmu tidak akan
tau”
“Kau tidak bisa memprediksikan
sesuatu yang belum pernah terjadi. Aku akan meminta Taehyun menjemputku” ia berusaha membuka mobil, namun
dengan sigap Mino menahannya. Dengan paksa memakaikan seatbelt ketubuh Nara.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti
saja. Napas mereka saling menyatu. Namun berusaha bersikap biasa, menghilangkan
kesan canggung. Nara hanya bisa memicingkan bibir kesal sedangkan Mino masih
bersikap dingin.
“Kau harus turun setelah lima belas menit aku
turu dari mobilmu” ucap Nara saat mereka sudah berada di parkiran. Hal sekecil
apapun mereka selalu berdebat. Siapa yang turun pertama pun menjadi
perbincangan panas.
“Apaa? Yang punya mobil yang harus turun
terlebih dahulu. Lihat kesekeliling! Tidak ada tanda-tanda keberadaan Taehyun”
ucap Mino sambil membuka seatbelt.
“Tidak” teriak Nara keras, “Jangan merusak
hubunganku dengan Taehyun. Kau diam disini selama lima belas menit” lanjutnya
sambil keluar dari mobil meninggalkan Mino yang hendak berucap namun tertahan.
Seketika itu, Mino memasang wajah kesal dan membunuh.
Lima belas menit kemudian...
“Kenapa aku harus mematuhi perintahnya. Sial”
ucap Mino dingin sambil menutup pintu mobil dengan keras.
***
“Aku kangen, sayang”
Nara memeluk erat tubuh Taehyun yang tinggi
dan atletis. Ia sangat merindukan kekasih yang sangat dicintainya. Perpustakaan
menjadi tempat favorit mereka untuk mengabiskan waktu bersama.
“Aku juga” Taehyun membalas dengan kecupan
singkat dipuncak kepala Nara.
Mereka berjalan ke paling belakang rak,
“Maafkan aku karena tidak menjemputmu tadi malam. Aku ada urusan yang sangat
penting” Taehyun masih memegang tangan Nara dengan sayang. Kebiasaan yang tidak
pernah ia lepaskan.
“Aku selalu percaya dengan apa yang kau
katakan. Kau tidak mungkin membohongiku, benar?”
“Tidak ada alasan untuk membohongi perempuan
yang sangat berarti dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan
mengecewakan kepercayaanmu” Taehyun mengecup Nara sekali lagi.
Nara tersenyum simpul. Kenpa ia harus
meragukan cinta Taehyun? Hubungan mereka sudah berjalan enam bulan dan mereka
selalu baik-baik saja dengan komitmen harus saling percaya. Ia sangat bangga
memiliki Taehyun disisinya.
Song Mino... kenapa lelaki itu muncul dibenak
Nara? Dia bukan siapa-siapa. Ia
mengingat Mino bukan karena suka melainkan dia pengganggu antara hubungannya dengan
Taehyun. Jika ia berhasil dijodohkan lantas
bagaimana dengan kisah cintanya? Ia tidak bisa meninggalkan Taehyun begitu saja
dan berpaling ke lelaki lain.
“Sayang, kenapa?” suara lembut Taehyun
berhasil menyadarkan Nara dari lamunannya, “Apa aku sakit?” tanyanya penuh
perhatian.
“Tidak” senyum Nara merekah. Tidak ada Mino
dipikirannya. Tidak.. tidak.. tidak. Batinnya.
“Nanti aku akan mengantarmu pulang”
“Tidak perlu”
“Kenapa?” tanyanya bingung. Hampir setiap hari
ia selalu pulang bersama Taehyun.
Lelaki
itu menunggu jawaban dari Nara.
“Karena aku sudah dijemput oleh supir
keluargaku” dusta Nara. Ia tidak boleh kelihatan sedang berbohong. Mana mungkin
ia harus menjelaskan kepada Taehyun bahwa ia pulang bersama Mino, calon
tunangannya. Tidak. Taehyun tidak boleh tau. Nara tidak ingin ditinggalkan
olehnya. Ia belum siap untuk mengungkapkan kebenarannya.
“Aku paham. Lagi pula orang tuamu tidak
merestui hubungan kita. Aku belum siap untuk bertemu dengan mereka lagi”
“Kau tidak marah?”
“Tentu saja tidak” Taehyun tersenyum memaklumi
situasi kisah cintanya.
***
Perjodohan paksa keluarga berhasil membuat
mereka bertahan selama satu minggu lebih. Hampir setiap aktivitas Nara selalu
ada Mino disampingnya, begitupun
sebaliknya. Tentu saja tanpa penglihatan oleh pacar Nara karena ia tidak ingin
Taehyun memutuskan dirinya. Meskipun saat ini, hubungan mereka tidak berjalan
sebagaimana hari-hari kemarin karena beberapa hari ini Nara selalu menghabiskan
waktu bersama Mino.
Seperti saat ini, Mino sedang berada dirumah
Nara setelah dari kampus dan belum beranjak pergi sama sekali. Sebelumnya Mino menolak saran orang tuanya yang mengatakan bahwa orang tua Nara sedang di Jeju dan
mereka tidak bisa meninggalkan anak tunggalnya dirumah sendirian dan terpaksa
mereka menyuruh Mino untuk menjaga Nara setiap saat.
Mereka sedang saling
diam di ruang tamu. Seperti tidak ada tanda kehidupan sama sekali.
Mino menjambak ujung rambutnya, “Bisa tolong
buatkan makanan? Aku lapar” belum lama ia menjaga Nara namun perutnya sudah
berbunyi tak karuan. Ini efek dari orang tua yang
mengharuskan ia menginap dirumah ini selama dua hari. Mino bingung sendiri
dengan sketsa kehidupan ini. Niat orang tua untuk menjodohkan anak-anak mereka
terasa begitu menyentuh yang membuat Mino tidak bisa menolak.
Nara yang sedang asik bermain hp
mengacuhkannya.
“Kalau ada tamu seharusnya dilayani dengan
sepenuh hati” sindir Mino sambil menyenderkan tubuhnya ketumpuan kursi.
“Nara Kim bukan pembantu dirumah ini” jawab
Nara spontanitas. Ia berusaha merekatkan jaket bulu karena udara terasa begitu
dingin. Salju mulai turun sejak beberapa menit yang lalu.
“Jika tamu membuat makanan sendiri bukankah
itu tidak sopan? Seharusnya tuan rumah membawakan minuman hangat ke atas meja
lalu membuat tamu nyaman tinggal dirumah ini”
Nara menatap Mino datar. Bahkan ia tidak
menginginkan kedatangan tamu, jadi ia
tidak perlu repot mengurusi lelaki tersebut. Dia sendiri yang datang dan
menawarkan diri untuk tinggal disini. Asalkan tau saja, Nara belum memutuskan
apa dia boleh disini atau tidak.
“Alasan kau datang dan mau tinggal selama dua
hari dirumah ini apa? seharusnya aku mengusirmu dari tadi karena gerak-gerikmu
sangat mencurigakan” ini bukan pertanyaan melainkan pendapat untuk menyudutkan
Mino. Nara tau jika dia datang kesini karena
disuruh orang tua mereka, lantas kenapa Mino menuruti keinginan mereka? Seperti
bukan Song Mino yang ia kenal.
“Karena aku dipaksa menjaga anak manja sepertimu. Dan satu hal lagi, aku
tidak akan menyentuhmu. Aku tidak sudi melakukannya. Semua perempuan yang aku
sentuh mempunyai karakter yang dewasa dan menyenangkan, tidak sepertimu yang
seperti anak kecil” Mino tersenyum sinis dan seketika berhasil membuat tatapan
Nara kembali teralihkan kedepan ponsel miliknya.
“Kau benar. Aku memang anak kecil. Tapi, aku
anak kecil yang cantik dan manis sehingga aku mempunyai pacar yang tampan
melebihimu. Dan aku heran sekarang, kenapa orang dewasa sepertimu tidak pernah
pergi bersama perempuan manapun? Dewasa tidak bisa dilihat dari tampang
melainkan dari kepribadian” celoteh Nara berhasil membuat Mino menggertakan
giginya kesal. Ia puas sekali membuat dia marah. Berani sekali dia mengatakan
bahwa Nara anak kecil. Seharusnya perkataan tersebut ditunjukan kepada dirinya
karena selama mereka bersama Nara belum pernah melihat Mino bersama perempuan
lain. Karena selama ini dia berhasil merahasiakan kehidupannya. Sedangkan Nara
cenderung terbuka. Licik sekali.
“Terserah kau saja” jawab Mino mengakhiri
pembicaraan. Ia tidak ingin memperpanjang perbincangan ini karena akan berujung
mempertanyakan dirinya. Ia berjalan kearah dapur untuk membuat kopi agar suasaa
hatinya terasa lebih hangat.
***
Ia sudah memegang dua cangkir kopi panas dan
langsung membawanya ke ruang tamu namun tidak ada kehadiran Nara. Ia sudah
berbaik hati membuatkan minuman untuknya, tapi dia malah pergi ke kamar dan
mengacuhkan Mino.
Mino tidak biasa hidup sendiri. Ia berjalan
menaiki tangga dan melirik kearah sebelah kanan menatap pintu kamar Nara. Ia
berhenti sebentar untuk memikirkan apakah ia bisa masuk kedalam atau tidak?
Yang jelas ia tidak akan melakukan kejahatan.
“Aku membawa kopi panas untukmu” teriak Mino
dibalik pintu kamar.
“Aku keluar sekarang. Tunggu dibawah!” balas
Nara tak kalah berteriak. Ia muncul dengan pakaian yang lebih tebal dan rambut
diikat satu. Posisi mereka masih didepan pintu karena Mino sama sekali belum
beranjak.
“Wow” ucapnya sambil mendonghakkan sedikit
kepalanya kedalam, “Princes’s room. Beutiful” Nara tidak bisa membaca nada
ucapan Mino. Apakah dia memuji atau mengejek kamarnya, tapi terdengar seakan
sebuah ejekan.
“Jangan menertawaiku!” ia tahu betul jika
kamarnya seperti kamar ditokoh putri yang dihiasi dengan warna yang cerah.
Wajar saja karena warna tersebut adalah
kesukaannya. Apakah ia harus merombaknya agar Mino
tidak mengejek lagi? Tunggu, kenapa ia harus memikirkan pendapat Mino?
Nara menepuk kepalanya tiga kali, “Ini tidak mungkin” teriaknya sambil masuk
kedalam kamar.
“Anggap saja aku tidak pernah melihat tingkah
anehmu” ucap Mino sambil meletakan cangkir diatas meja disamping tempat tidur.
Nara mengambilnya dengan senang hati, “Terima
kasih” ucapnya tulus.
“Siapa itu, Nam Taehyun?” tanya Mino saat
melihat bingkai poto berukuran kecil terpajang rapi disamping beberapa buku
yang berjajar diatas lemari.
Nara mengangguk singkat, “Lebih tampan dan
lebih baik darimu”
“Apakah dia benar pacarmu?” tanya Mino
meyakinkan. Ia memang tau Nara mempunyai pacar bernama Nam Taehyun hanya saja
ia belum pernah melihat wajahnya. Tapi, setelah melihat poto tersebut ia tau
jelas siapa lelaki itu. Ia sungguh tidak percaya bahwa Nara bisa tertipu dengan
kepolosannya.
“Ya.. Ya.. Ya” teriak Nara bertubi-tubi dan
cepat.
“Putuskan dia!” kata Mino tidak panjang lebar.
Lelaki itu sungguh tidak pantas untuk Nara.
“Apaaaa?” Nara berdiri dari tempat tidur dan
memandang Mino heran juga tak percaya, “Kita harus menghargai kehidupan pribadi
masing-masing. Kau tidak perlu menyuruhku dengan kemauanmu. Nikmatilah
kehidupanmu dan aku akan menikmati kehidupanku bersama Taehyun sebelum
perjodohan ini berlanjut. Aku selalu berharap agar perjodohan ini batal”
Ia mengabaikan celotehan Nara, “Putuskan dia
atau kau akan menyesal”
“Kenapa aku harus memutuskannya? Apa hakmu,
hah?”
Mino meminum habis kopinya, “Kau akan
menderita dan sakit hati jika melanjutkan hubungan kalian”
“Jika aku menuruti perkataanmu maka aku akan
menderita” ucap Nara sambil menarik paksa Mino agar keluar dari kamarnya.
“Gadis keras kepala” sahut Mino bersamaan
dengan teriakan Nara yang tidak jelas.
“Aku harus
menjaga dan tidak boleh membuatmu menangis setelah ini” batin Mino.
***
Komentar
Posting Komentar