Believe in Destiny (Part1)


“Apaaa?”
“Perjodohan?”
            Pekik Song Mino dan Kim Nara serempak memenuhi ruang tamu. Lelaki itu memandang Nara dingin dan tidak suka. Terlebih lagi melihat kearah orang tuanya yang tersenyum penuh binar kebahagian. Sepertinya mereka sangat menginginkan perjodohan ini dilaksanakan. Ini jaman dimana masa kebebasan sudah diagung-agungkan, namun ia harus dijodohkan dengan tidak meminta persetujuan terlebih dahulu.
            “Saya menolaknya” Mino menatap tajam kearah Nara memberi peringatan agar ia juga melakukan hal yang sama.
            “Kami masih kuliah. Jadi, kami menolak keinginan kalian. Maafkan aku” Nara menatap lirih wajah kedua orang tuanya beserta keluarga Song. Perjodohan ini tidak akan berhasil jika tidak mendapatkan persetujuan dari yang akan melaksanakannya. Ini tidak akan berhasil. Mereka masih ingin menemukan cinta sejati mereka. Diluar sana, masa depan mereka sangat panjang dan cerah.
            “Kami tidak menyuruh kalian untuk menikah saat ini juga. Kami akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk saling mengenal” suara Nyonya Song tampak begitu semangat untuk menyatukan kedua anak manusia ini.
            “Kau tidak akan menyesal menerima perjodohan ini, sayang. Song Mino orang yang baik dan sopan. Dia juga begitu tampan” itu suara dari samping, suara lembut ibunya. Kenapa mereka sangat menginginkan perjodohan ini? dari kecil, Nara tidak akan menolak permintaan kedua orang tuanya namun ini hal yang berbeda. Ia tidak bisa menerima perjodohan dengan lelaki dingin seperti Mino.
            “Kalian sudah dijodohkan sejak bayi” pernyataan Tuan Song mengagetkan keduanya, “Kami baru bisa membuka rahasia ini jika umur kalian sudah menginjak usia dua puluh dua tahun”
            “Kita akan menjadi keluarga besar. Perjodohan ini sangat mempengaruhi semuanya” timpal Ayah Nara tak kalah senang.
            “Kami belum berusia 22tahun” sela Mino, “Ijinkan kami mencari pasangan sebelum kami menginjak usia 25tahun” bagaimanapun caranya ia harus bisa membujuk kedua orang tuanya agar membatalkan perjodohan ini.
            “Benar” ucap Nara setuju dengan pendapat lelaki dingin itu, “Sampai usia kami 25tahun. Kami janji akan menemukan pasangan kami. Kita bisa menjadi keluarga tanpa perjodohan ini”
            “Tidak bisa. Kalian lahir ditanggal yang sama. Dua minggu lagi usia kalian akan menginjak 22tahun. Ibu sangat menginginkan perjodohan ini, sayang” Ibu menatap Nara penuh pengertian.
            “Aku dan Mino bisa menjadi kakak dan adik. Lebih baik kita menjadi saudara yang saling menyayangi” Nara memegang tangan Ayah dan Ibunya. Berharap mereka akan mengerti dengan keinginannya.
            “Perjanjian harus dilaksanakan. Kalian sudah kami jodohkan. Kami memberi kesempatan agar kalian saling mengenal sebelum pernikahan” kaget. Itulah ekspresi Nara dan Mino. Mereka saling berpandangan. Apakah secepat ini?, “Tenang. Kalian akan menikah setelah lulus kuliah nanti. Itu masih lama jadi, kalian masih bisa menikmati masa kehidupan indah kalian” lanjut Ibu Mino berbinar.
            “Menikah dengan perempuan manja seperti Nara?”
            “Yaaa, aku tidak mau menikah dengan lelaki dingin seperti Song Mino”
            Kedua orang tua mereka hanya bisa tersenyum melihat anaknya berteriak menolak perjodohan ini. Mereka harus menerimanya karena mereka sudah diikat oleh takdir. Takdir yang mengikat mereka sejak lahir.
***
            Sebuah makan malam yang terbilang luar biasa hebat. Menyediakan berbagai hidangan dari beberapa negara di belahan dunia. Ini tempat untuk kalangan pengusaha, pejabat, dan artis besar. Seharusnya orang tua Mino tidak perlu menyiapkan makan malam yang luar biasa untuk mereka berdua.
            “Kenapa orang tuamu menyuruh kita makan malam disini? Ini terlalu berlebihan untuk kita” tanya Nara saat ia sudah berhasil mengerjapkan mata dan memandang Mino dengan penuh keingintahuan.
            “Apa kau mau makan di pinggir jalan, hah? Aku tau kau tidak akan sudi melakukannya. Jadi, terima saja dengan pemberian ini” itu bukan jawaban dari Mino, lelaki itu hanya ingin memulai pertarungan dengan Nara. Dia hanya bisa mendengus kesal.
            “Kau pikir aku tidak mau makan dipinggir jalan sebagaimana perempuan yang lainnya? Wow kau sungguh hebat Song Mino, bisa menilai orang tanpa fakta pendukung yang jelas” sungut Nara emosi dan mencemooh. Berani sekali dia menilai dirinya semudah itu.
            “Mana mungkin kau bisa makan selain ditempat mewah seperti ini. Kau perempuan manja”
            “Apaaa?” pekik Nara tak setuju, “Kita buktikan sekarang, kau atau aku yang tidak bisa makan selain ditempat mewah”. Nara berdiri sambil menatap Mino agar lelaki itu juga ikut berdiri.
            “Kita sudah memesan makan disini. Duduklah! Jangan membuatku malu” Mino tidak bergeming sama sekali, ia malah memandang perempuan itu dengan tatapan tajam dan dingin.
            Nara ingin membantah dan mengacak-ngacak wajah lelaki kejam dihadapannya. Ia ingin membalas namun tidak bisa. Pelayan sudah mengantarkan makanan untuk mereka dengan otomatis Nara harus bisa menahan kekesalannya. Baiklah... kali ini ia akan membuat Song Mino menang, tetapi tidak untuk hari selanjutnya.
            Mereka makan dalam diam tanpa ada sepatah kata pun. Suasana di Restoran ini nyaman namun tidak untuk mereka berdua.
***
            Mereka keluar dari restoran dengan wajah datar dan suasana hati yang tidak sejalan. Nara masih lapar namun lelaki itu dengan semaunya menyuruh Nara berhenti dan memaksanya pulang. Dengan alasan bahwa ini sudah malam. Bagaimana bisa jam sembilan malam bagi anak kuliahan dianggap jam rawan? Dengan dingin Mino tetap memaksa Nara untuk pulang.
            “Kau tidak usah memaksaku!” Nara tidak bisa berjalan mengimbangi langkah besar Mino. Ia berhenti tepat lima langkah didepan pintu masuk.
            Mino menoleh dengan geram, “Ikut aku pulang atau kau akan ku tinggal sendiri disini”
            Nara bercak pinggang seakan menantang lelaki dingin yang tak berperasaan dihadapannya, “Kau pikir aku takut? Kita belum resmi dijodohkan, jadi kau tidak bisa memaksa atau menyuruhku lagi”
            Mino menatap dingin, “Aku harus bertemu seseorang malam ini” ia menarik napas, “Aku tidak bisa berlama-lama disini bersama perempuan manja sepertimu. Jadi, aku sedang berbaik hati untuk mengantarmu pulang terlebih dahulu. Sekarang cepat masuk kedalam mobil!”
            Mino berjalan kesamping kanan lalu masuk kedalam mobil berwarna merah cerah. Ia masih duduk didepan kemudi sambil menatap Nara yang tidak bereaksi sama sekali.
            “Kau tidak akan menyesal dengan sikap manjamu saat ini?”
            Nara mengangkat alis tak mengerti namun bersikap biasa, “Tidak” ucapnya singkat yang membuat Mino berdehem keras.
            “Baiklah Kim Nara, sampai berjumpa lagi”
            Mino menjalankan mobil dengan kecepatan sedang dan elegan. Sial, ternyata tadi ucapan terakhirnya.
            Nara menatap kepergian Mino dengan kesal. Berani sekali dia meninggalkan perempuan untuk pulang sendirian. Setidaknya ia membujuk karena itu yang diinginkan perempuan. Namun, dia sama sekali acuh dan terkesan tak peduli.
            “Lihat saja nanti” ucap Nara sinis sambil melangkah dari tempat semula, “Lelaki dingin sepertimu harus pergi ke neraka dan jangan pernah muncul dihadapanku” gerutu Nara emosi.
***
            Pagi harinya.. Semua kekesalan Nara terhadap Mino sudah bisa dilupakan. Ia tidak perlu mengingat kejadian yang tidak bisa membuatnya bahagia. Tanpa lelaki itupun ia bisa pulang dengan selamat, meskipun datang ke rumah dengan tubuh menggigil.
            Semalam turun salju dan Nara hanya memakai baju yang biasa tanpa membawa jaket. Hampir sepuluh menit ia berjalan untuk mencari taksi atau angkutan umum dengan salju terus turun diatas kepalanya.
            Sampai dirumah dan bertemu dengan kedua orang tuanya ia masih mengutuk dan menyumpahi Mino yang tidak mempunyai hati nurani sama sekali. Lelaki dingin itu berhasil membuat darah Nara mendidih menjadi seratus derajat.
            “Ayah tidak bisa mengantarmu ke kampus. Maafkan ayah, sayang” suara tuan Kim berhasil membuat mulut Nara tidak bisa menelan makan siangnya. Sedangkan nyonya Kim tidak bereaksi, ia hanya bisa menyernyitkan dahi untuk mohon pengertian kepada anak tunggalnya.
            “Kenapa ayah tidak mengatakannya dari tadi?” ia menelan paksa makanannya, “Aku paling tidak suka pergi ke kampus dengan kendaraan umum. Aku malas. Lebih baik aku tidak pergi.
            “Jangan manja, sayang” komentar nyonya Kim halus.
            “Ayah harus pergi menemui rekan bisnis setelah makan siang ini. Kamu bisa membawa mobil ke kampus. Naik kendaraan umum juga bukan solusi yang buruk”
            Nara menghabiskan makanan terakhirnya, “Kalian tau jika aku tidak bisa menyetir. Kendaraan umum? Tentu saja tidak. Tadi malam aku sudah pulang dengan kendaraan umum dan sekarang aku harus pergi menggunakan itu juga. Kalian jahat kepada anak sendiri?”
            “Salah kamu yang tidak bisa membawa mobil, sayang” timpal nyonya Kim menyudutkan anaknya. Yaampun, ada apa dengan nyonya Kim?
            “Kenapa tidak ibu saja yang mengantarku?”
            Nyonya Kim menggeleng, “Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan”
            “Kalau begitu, aku tidak akan berangkat” ucap Nara acuh sambil meninggalkan meja makan.
            “Tidak bisa. Ayah sudah memanggil seseorang untuk mengantarmu”
***
            “Aku tidak mau bertemu dengan alien yang hidup diabad pertama”
            Pekik Nara nyaring saat membuka pintu depan rumah dan mendapati sosok mahluk abstrak yang tidak ingin ia lihat. Nara akan kembali menutup pintu, namun suara itu membuatnya kesal dan menoleh cepat, “Hai” ucapan singkat yang terkesan dingin dan membunuh.
            “Kau tidak usah datang kesini jika hanya disuruh oleh orang tuaku” ucap Nara datar sambil menatap lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaya santai dengan rambut acak-acakan. Inilah Song Mino, mahluk kejam yang tidak ingin ia lihat.
            “Kenapa kau bilang pada orang tuamu bahwa aku tidak mengantarmu pulang? jika orang tuamu tau maka orang tuaku juga pasti tau. Dan mereka menyuruhku untuk menjemput dan mengantar calon menantunya pergi. Tadi malam, seharusnya kau tidak perlu membuka mulut” sepertinya ini rekor Mino, berkata tanpa jeda. Beruraian begitu saja. Membuat Nara memicingkan bibir tak suka.
            “Kau boleh pergi sekarang”
            “Kau pikir aku bodoh?” Mino menarik tangan Nara dan mendudukannya di mobil, “Jika aku menolak mengantarmu pergi berarti orang tuaku akan memarahiku dan menyuruh untuk selalu mengantarmu kemana saja. Asal kau tau, aku bukan supir maupun pengawal. Kau hanya harus diam dan kita pergi ke kampus bersama”
            Benar. Lelaki itu tidak bodoh. Ia harus pergi bersama Nara jika ia mau selamat dari orang tuanya. Jika tidak, ia harus dengan senang hati mendapat ceramahan dari orang dibalik ini semua yang membuatnya bete setengah mati.
            “Tidak bisa memaksa dengan cara seperti ini” tolak Nara dengan senang hati, “Aku tidak ingin mengambil resiko besar jika Taehyun melihatku bersamamu”
            Mino mengerjap, “Pacarmu tidak akan tau”
            “Kau tidak bisa memprediksikan sesuatu yang belum pernah terjadi. Aku akan meminta Taehyun menjemputku” ia berusaha membuka mobil, namun dengan sigap Mino menahannya. Dengan paksa memakaikan seatbelt ketubuh Nara.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Napas mereka saling menyatu. Namun berusaha bersikap biasa, menghilangkan kesan canggung. Nara hanya bisa memicingkan bibir kesal sedangkan Mino masih bersikap dingin.
“Kau harus turun setelah lima belas menit aku turu dari mobilmu” ucap Nara saat mereka sudah berada di parkiran. Hal sekecil apapun mereka selalu berdebat. Siapa yang turun pertama pun menjadi perbincangan panas.
“Apaa? Yang punya mobil yang harus turun terlebih dahulu. Lihat kesekeliling! Tidak ada tanda-tanda keberadaan Taehyun” ucap Mino sambil membuka seatbelt.
“Tidak” teriak Nara keras, “Jangan merusak hubunganku dengan Taehyun. Kau diam disini selama lima belas menit” lanjutnya sambil keluar dari mobil meninggalkan Mino yang hendak berucap namun tertahan. Seketika itu, Mino memasang wajah kesal dan membunuh.
Lima belas menit kemudian...
“Kenapa aku harus mematuhi perintahnya. Sial” ucap Mino dingin sambil menutup pintu mobil dengan keras.
***
“Aku kangen, sayang”
Nara memeluk erat tubuh Taehyun yang tinggi dan atletis. Ia sangat merindukan kekasih yang sangat dicintainya. Perpustakaan menjadi tempat favorit mereka untuk mengabiskan waktu bersama.
“Aku juga” Taehyun membalas dengan kecupan singkat dipuncak kepala Nara.
Mereka berjalan ke paling belakang rak, “Maafkan aku karena tidak menjemputmu tadi malam. Aku ada urusan yang sangat penting” Taehyun masih memegang tangan Nara dengan sayang. Kebiasaan yang tidak pernah ia lepaskan.
“Aku selalu percaya dengan apa yang kau katakan. Kau tidak mungkin membohongiku, benar?”
“Tidak ada alasan untuk membohongi perempuan yang sangat berarti dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaanmu” Taehyun mengecup Nara sekali lagi.
Nara tersenyum simpul. Kenpa ia harus meragukan cinta Taehyun? Hubungan mereka sudah berjalan enam bulan dan mereka selalu baik-baik saja dengan komitmen harus saling percaya. Ia sangat bangga memiliki Taehyun disisinya.
Song Mino... kenapa lelaki itu muncul dibenak Nara? Dia bukan siapa-siapa.  Ia mengingat Mino bukan karena suka melainkan dia pengganggu antara hubungannya dengan Taehyun. Jika ia berhasil dijodohkan lantas bagaimana dengan kisah cintanya? Ia tidak bisa meninggalkan Taehyun begitu saja dan berpaling ke lelaki lain.
“Sayang, kenapa?” suara lembut Taehyun berhasil menyadarkan Nara dari lamunannya, “Apa aku sakit?” tanyanya penuh perhatian.
“Tidak” senyum Nara merekah. Tidak ada Mino dipikirannya. Tidak.. tidak.. tidak. Batinnya.
“Nanti aku akan mengantarmu pulang”
“Tidak perlu”
“Kenapa?” tanyanya bingung. Hampir setiap hari ia selalu pulang bersama Taehyun.
 Lelaki itu menunggu jawaban dari Nara.
“Karena aku sudah dijemput oleh supir keluargaku” dusta Nara. Ia tidak boleh kelihatan sedang berbohong. Mana mungkin ia harus menjelaskan kepada Taehyun bahwa ia pulang bersama Mino, calon tunangannya. Tidak. Taehyun tidak boleh tau. Nara tidak ingin ditinggalkan olehnya. Ia belum siap untuk mengungkapkan kebenarannya.
“Aku paham. Lagi pula orang tuamu tidak merestui hubungan kita. Aku belum siap untuk bertemu dengan mereka lagi”
“Kau tidak marah?”
“Tentu saja tidak” Taehyun tersenyum memaklumi situasi kisah cintanya.
***
Perjodohan paksa keluarga berhasil membuat mereka bertahan selama satu minggu lebih. Hampir setiap aktivitas Nara selalu ada Mino disampingnya, begitupun sebaliknya. Tentu saja tanpa penglihatan oleh pacar Nara karena ia tidak ingin Taehyun memutuskan dirinya. Meskipun saat ini, hubungan mereka tidak berjalan sebagaimana hari-hari kemarin karena beberapa hari ini Nara selalu menghabiskan waktu bersama Mino.
Seperti saat ini, Mino sedang berada dirumah Nara setelah dari kampus dan belum beranjak pergi sama sekali. Sebelumnya Mino menolak saran orang tuanya yang mengatakan bahwa orang tua Nara sedang di Jeju dan mereka tidak bisa meninggalkan anak tunggalnya dirumah sendirian dan terpaksa mereka menyuruh Mino untuk menjaga Nara setiap saat.
Mereka sedang saling diam di ruang tamu. Seperti tidak ada tanda kehidupan sama sekali.
Mino menjambak ujung rambutnya, “Bisa tolong buatkan makanan? Aku lapar” belum lama ia menjaga Nara namun perutnya sudah berbunyi tak karuan. Ini efek dari orang tua yang mengharuskan ia menginap dirumah ini selama dua hari. Mino bingung sendiri dengan sketsa kehidupan ini. Niat orang tua untuk menjodohkan anak-anak mereka terasa begitu menyentuh yang membuat Mino tidak bisa menolak.
Nara yang sedang asik bermain hp mengacuhkannya.
“Kalau ada tamu seharusnya dilayani dengan sepenuh hati” sindir Mino sambil menyenderkan tubuhnya ketumpuan kursi.
“Nara Kim bukan pembantu dirumah ini” jawab Nara spontanitas. Ia berusaha merekatkan jaket bulu karena udara terasa begitu dingin. Salju mulai turun sejak beberapa menit yang lalu.
“Jika tamu membuat makanan sendiri bukankah itu tidak sopan? Seharusnya tuan rumah membawakan minuman hangat ke atas meja lalu membuat tamu nyaman tinggal dirumah ini”
Nara menatap Mino datar. Bahkan ia tidak menginginkan kedatangan tamu, jadi ia tidak perlu repot mengurusi lelaki tersebut. Dia sendiri yang datang dan menawarkan diri untuk tinggal disini. Asalkan tau saja, Nara belum memutuskan apa dia boleh disini atau tidak.
“Alasan kau datang dan mau tinggal selama dua hari dirumah ini apa? seharusnya aku mengusirmu dari tadi karena gerak-gerikmu sangat mencurigakan” ini bukan pertanyaan melainkan pendapat untuk menyudutkan Mino. Nara tau jika dia datang kesini karena disuruh orang tua mereka, lantas kenapa Mino menuruti keinginan mereka? Seperti bukan Song Mino yang ia kenal.
“Karena aku dipaksa menjaga  anak manja sepertimu. Dan satu hal lagi, aku tidak akan menyentuhmu. Aku tidak sudi melakukannya. Semua perempuan yang aku sentuh mempunyai karakter yang dewasa dan menyenangkan, tidak sepertimu yang seperti anak kecil” Mino tersenyum sinis dan seketika berhasil membuat tatapan Nara kembali teralihkan kedepan ponsel miliknya.
“Kau benar. Aku memang anak kecil. Tapi, aku anak kecil yang cantik dan manis sehingga aku mempunyai pacar yang tampan melebihimu. Dan aku heran sekarang, kenapa orang dewasa sepertimu tidak pernah pergi bersama perempuan manapun? Dewasa tidak bisa dilihat dari tampang melainkan dari kepribadian” celoteh Nara berhasil membuat Mino menggertakan giginya kesal. Ia puas sekali membuat dia marah. Berani sekali dia mengatakan bahwa Nara anak kecil. Seharusnya perkataan tersebut ditunjukan kepada dirinya karena selama mereka bersama Nara belum pernah melihat Mino bersama perempuan lain. Karena selama ini dia berhasil merahasiakan kehidupannya. Sedangkan Nara cenderung terbuka. Licik sekali.
“Terserah kau saja” jawab Mino mengakhiri pembicaraan. Ia tidak ingin memperpanjang perbincangan ini karena akan berujung mempertanyakan dirinya. Ia berjalan kearah dapur untuk membuat kopi agar suasaa hatinya terasa lebih hangat.
***
Ia sudah memegang dua cangkir kopi panas dan langsung membawanya ke ruang tamu namun tidak ada kehadiran Nara. Ia sudah berbaik hati membuatkan minuman untuknya, tapi dia malah pergi ke kamar dan mengacuhkan Mino.
Mino tidak biasa hidup sendiri. Ia berjalan menaiki tangga dan melirik kearah sebelah kanan menatap pintu kamar Nara. Ia berhenti sebentar untuk memikirkan apakah ia bisa masuk kedalam atau tidak? Yang jelas ia tidak akan melakukan kejahatan.
“Aku membawa kopi panas untukmu” teriak Mino dibalik pintu kamar.
“Aku keluar sekarang. Tunggu dibawah!” balas Nara tak kalah berteriak. Ia muncul dengan pakaian yang lebih tebal dan rambut diikat satu. Posisi mereka masih didepan pintu karena Mino sama sekali belum beranjak.
“Wow” ucapnya sambil mendonghakkan sedikit kepalanya kedalam, “Princes’s room. Beutiful” Nara tidak bisa membaca nada ucapan Mino. Apakah dia memuji atau mengejek kamarnya, tapi terdengar seakan sebuah ejekan.
“Jangan menertawaiku!” ia tahu betul jika kamarnya seperti kamar ditokoh putri yang dihiasi dengan warna yang cerah. Wajar saja karena warna tersebut adalah kesukaannya. Apakah ia harus merombaknya agar Mino tidak mengejek lagi? Tunggu, kenapa ia harus memikirkan pendapat Mino? Nara menepuk kepalanya tiga kali, “Ini tidak mungkin” teriaknya sambil masuk kedalam kamar.
“Anggap saja aku tidak pernah melihat tingkah anehmu” ucap Mino sambil meletakan cangkir diatas meja disamping tempat tidur.
Nara mengambilnya dengan senang hati, “Terima kasih” ucapnya tulus.
“Siapa itu, Nam Taehyun?” tanya Mino saat melihat bingkai poto berukuran kecil terpajang rapi disamping beberapa buku yang berjajar diatas lemari.
Nara mengangguk singkat, “Lebih tampan dan lebih baik darimu”
“Apakah dia benar pacarmu?” tanya Mino meyakinkan. Ia memang tau Nara mempunyai pacar bernama Nam Taehyun hanya saja ia belum pernah melihat wajahnya. Tapi, setelah melihat poto tersebut ia tau jelas siapa lelaki itu. Ia sungguh tidak percaya bahwa Nara bisa tertipu dengan kepolosannya.
“Ya.. Ya.. Ya” teriak Nara bertubi-tubi dan cepat.
“Putuskan dia!” kata Mino tidak panjang lebar. Lelaki itu sungguh tidak pantas untuk Nara.
“Apaaaa?” Nara berdiri dari tempat tidur dan memandang Mino heran juga tak percaya, “Kita harus menghargai kehidupan pribadi masing-masing. Kau tidak perlu menyuruhku dengan kemauanmu. Nikmatilah kehidupanmu dan aku akan menikmati kehidupanku bersama Taehyun sebelum perjodohan ini berlanjut. Aku selalu berharap agar perjodohan ini batal”
Ia mengabaikan celotehan Nara, “Putuskan dia atau kau akan menyesal”
“Kenapa aku harus memutuskannya? Apa hakmu, hah?”
Mino meminum habis kopinya, “Kau akan menderita dan sakit hati jika melanjutkan hubungan kalian”
“Jika aku menuruti perkataanmu maka aku akan menderita” ucap Nara sambil menarik paksa Mino agar keluar dari kamarnya.
“Gadis keras kepala” sahut Mino bersamaan dengan teriakan Nara yang tidak jelas.
“Aku harus menjaga dan tidak boleh membuatmu menangis setelah ini” batin Mino.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama by Keigo Higashino

Ruang Waktu : Sinopsis

Review Novel Kesetiaan Mr. X by Keigo Higashino