Believe in Destiny (Part3)
“Tidak mungkin”
Seru Nara setengah berteriak.
Perkataan orang tuanya tidak masuk akal
saat mengatakan bahwa pertunangan ia dan Mino dibatalkan, berhasil membuat otaknya membeku tidak bisa bereaksi.
Ia menatap mereka dengan tatapan memohon agar perjodohan ini tetap berlangsung.
Karena ia tahu, saat ini ia sudah mencintai sosok dingin seperti Mino.
Pernyataan lebih mengejutkan dari mereka yang menyatakan bahwa keluarga Mino menipu
perusahaan ayahnya. Sehingga bisa dibilang saham keluarga Kim setengahnya jatuh
kepada perusahaan keluarga Mino.
“Kita sudah sepakat untuk memutuskan
perjodohan kalian. Kekayaan kita di Korea hampir habis. Saham ayah sudah merosot
rendah. Kita harus memperbaiki kejadian ini dari awal. Maka dari itu, kita akan
pindah ke Austria besok. Ayah akan mengurus perusahan dari Kakekmu” suara Tuan
Kim terus berdentang ditelinga Nara. Apa katanya? Pindah?
“Apa kalian sudah membicarakan keputusan
ini secara baik-baik?”
“Kami tidak akan memperpanjang
hubungan dengan keluarga Mino lagi. Meskipun ayah sudah memaafkan kesalahan
mereka. Kita harus menerima keputusan yang sudah direncanakan oleh ayah,
sayang” perkataan ibu sungguh tidak membuat suasana hati Nara membaik, malah
semakin kacau.
“Aku tidak akan pindah dari sini”
“Ibu sudah membereskan semua pakaian
dan keperluanmu”
Perkataan Ibu membuat Nara geram. Ia
membanting pintu ruang keluarga dengan kasar. Menagis sejadi-jadinya didalam
kamar. Kenapa saat perasaan ini muncul ia harus dijauhkan dengan cintanya?
Membuat Nara bertanya-tanya. Apakah takdir itu ada?
***
Hal yang mengejutkan juga menimpa
Mino. Setelah sarapan pagi, orang tuanya mengatakan bahwa perjodohan mereka
sudah dibatalkan, jadi ia masih bisa menikmati hidup dalam pencarian cintanya.
Mino menatap mereka bergantian,
menemukan keserius diwajah orang tuanya.
“Tapi, kenapa?” seru Mino belum
yakin. Sulit dipercaya jika ia harus berpisah dengan Nara. Perempuan yang
berhasil menggetarkan perasaannya. Membuat sikap dingin Mino perlahan mencair.
Ada perasaan hangat jika berdekatan dengan perempuan itu.
“Dalam permainan perusahaan. Ayah
telah berhasil mengambil setengah dari saham Presdir Kim. Pada kenyataannya
mereka memutuskan untuk mengakhiri perjodohan ini. Kami tidak bisa menolak”
seru Ayah Mino sambil meletakan sebuah map biru kehadapan Mino. Sebagai bukti
bahwa perkataannya benar.
“Kalian tidak saling mencintai,
bukan?” seru Nyonya Song tenang sambil mengoleskan slai kacang kedalam lapisan
roti.
“Aku mencintainya” seru Mino lantang
membuat mereka serempak menatap dengan ekspresi kaget.
“Kalau kau mencintai putri Presdir
Kim, kau harus berusaha bekerja keras untuk bisa mengembalikan saham mereka
yang sudah kalah dalam permainan ini”
“Jangan bilang Ayah sengaja
menyabotase saham mereka hingga jatuh kepada perusahaan kita?”
“Dalam hal bisnis tidak masalah
asalkan kita tidak menggunakan cara kriminal. Ayah tidak bertindak curang atau
memberikan penekanan terhadap perusahaan mereka. Ini sudah menjadi hak kita
dalam mengelola sebagian harta mereka yang sudah ditaruhkan”
Mino menggebrak meja cukup keras. Ia
memandang sang ayah dengan perasaan campur aduk. Saat ini ia tidak ingin
mempercayai mereka karena terlalu sulit bagi hatinya, “Aku tidak percaya.
Kalian patner bisnis yang solid, bagaimana bisa ayah berlaku seperti itu?”
“Siapa yang menang dia yang akan
menguasai. Itulah bisnis”
“Kau harus lebih pintar dari ayahmu
agar kau tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu. Kalau kau ingin mengembalikan
sebagian saham presdir Kim dan membawa Nara kembali, maka kau harus lebih dari ayahmu dalam
berbisnis” kata Nyonya Song memberi semangat.
Rahang Mino mengeras, “Aku bisa
lebih dari Ayah. Aku akan membuktikannya. Dan sekarang aku akan berbicara
dengan Nara tentang perjodohan ini” ia bangkit dari tempat duduk. Ketika akan
berjalan, tiba-tiba suara Ibunya bergema keras.
“Mereka sudah pergi”
“Apa maksud Ibu?”
“Keluarga Presdir Kim pindah ke
Austria pagi ini. Mereka mengambil penerbangan pukul delapan”
Betapa terkejutnya Mino, namun ia
berhasil menyembuyikan keterkejutan tersebut. ia melirik jam tangan dan melihat
bahwa waktu untuk bertemu dengan Nara akan sangat sulit.
Ia mengemudikan mobil seperti
kesetan dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Ia berhasil menyalip mobil
didepan yang menimbulkan banyak cacian dari pengendara yang lain, namun ia
tidak memperdulikan hal tersebut. Dalam konsentrasinya hanya berputar bagaimana
untuk mencegah Nara pergi. Berharap pengorbanan saat ini tidak akan sia-sia.
***
Mino keluar dari mobil dan langsung
berlari kearah dalam Bandar Udara Internasional Incheon. Ia sudah berputar
mengelilingi setiap tempat namun hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan
keinginan. Seperti orang gila yang frustasi, Mino tidak menyerah untuk
menemukan keluarga Kim, berharap mereka belum masuk kedalam pesawat.
“Kenapa harus seperti ini?” jerit
Mino frustasi. Tidak ada harapan untuk menemukan mereka karena pesawat sudah
terbang sebelum Mino sampai. Kenyataan yang ia tahu saat ini lebih sakit dari
luka-luka yang pernah dialami.
Jujur saja, ia bukan tipe pria yang
mengejar wanita. Hampir setiap orang mendekatinya. Namun untuk saat ini, ia
rela mengejar wanita yang terlambat. Sungguh menyakitkan. Ia duduk dibelakang
kemudi sambil menahan air mata yang akan keluar. Beberapa kali debar jantungnya
tak beraturan karena menahan emosi. Ada perasaan kecewa yang masih bersarang
dalam relung hatinya, Karena ia belum menyatakan perasaan
yang sesungguhnya. Bahwa ia mencintai seorang Nara. Perempuan manja namun
berhasil menggetarkan hati dan jiwanya.
“I`m a loser” gerutu Mino lebih kepada diri
sendiri.
Ia tersenyum getir. Tak
henti-hentinya ia mengutuk diri karena kebodohan atas kejadian yang tidak ia
ketahui. Tujuan yang ingin ia kunjungi saat ini adalah tempat dimana ia bisa
minum sepuasnya. Hidup Mino saat ini seakan tidak
berjiwa lagi. Kosong tanpa ekspresi
sedikitpun.
***
“Berhenti bertindak bodoh!”
SeungHoon hampir melemparkan tubuh Mino keatas lantai. Hampir dua tahun ia
bersahabat, namun baru malam ini SeungHoon melihat Mino seperti kesehatan.
Kebut-kebutan dijalan saat menuju kedalam bar. Minum soju beberapa botol hingga
mabuk berat. Menantang beberapa preman handal, sehingga mengakibatkan wajahnya
menjadi lebam dan berdarah. Mino tidak mengatakan sakit fisik, ia hanya
berceloteh bahwa sakit hati lebih menyulitkan.
“Kau patah hati, hah? Seharusnya kau
berubah menjadi dewasa dan lebih baik. Bukan bertindak ceroboh dan membahayakan
keselamatan. Toh, dia tidak akan kembali dengan tindakanmu. Lihat dirimu!
Bercerminlah, jika tidak ingin dibilang pecundang maka jangan bertindak seperti
anak kecil” ucap SeungHoon saat tubuh Mino sudah duduk diatas kursi. Mereka
sedang berada di apartemen keluarga Mino. Jika ia pulang maka semua akan tambah
hancur. Orang tuanya akan semakin marah. Tamatlah hidup Mino jika itu terjadi.
“Kau tidak akan mengerti dengan
perasaanku” amarah Mino kembali menyulut. Ia Merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Aku mengatakan seperti itu karena
aku memahami perasaanmu. Kau mencintai Nara, tetapi kau baru menyadari perasaan
itu tumbuh saat dia telah pergi. Kau pikir dia mati?
Perempuan itu hanya pergi ke suatu tempat. Kau bisa menemuinya! Kau bisa
mengatakan perasaanmu yang sebenarnya! Dan ingat, kalau kalian ditakdirkan
bertemu lagi, maka tuhan tidak akan berkhianat” SeungHoon meneguk air putih
dengan satu tarikan napas. Beginilah, jika menanggapi orang yang baru pertama
kali benar-benar mencintai seorang wanita.
“Kau pikir itu mudah? Untuk
berhubungan dengan dia sangat sulit karena semua telekomunikasi terputus. Kau
pikir aku bisa tenang? Bahkan aku tidak tahu apakah dia tinggal dengan baik
atau tidak. Dia merasa sedih atau tidak. Penyesalanku hanya satu, terlambat
bertemu dan mengatakan semuanya”
“Sadarlah Song Mino!” teriak
SeungHoon keras, “Dia pergi bersama orangtuanya, jadi Kau tidak usah khawatir. Jangan jadi
lemah hanya karena wanita. Berhentilah menikmati masa mudamu dan tunjukan bahwa
kau bisa dan mampu untuk bertemu dengan dia. Bukan melampiaskan kemarahanmu
dengan tindakan yang akan mengakibatkan kematian bagimu. Kalau kau mati, kau
membuang kesempatan untuk bisa bertemu dengan dia”
Song Mino terdiam. Menyadari akan
tindakan bodah dan frontal dirinya. Mengakui kebenaran yang diucapkan
sahabatnya. Sekarang ia bertekad. Akan berusaha untuk bisa bertemu dengan Nara,
wanita yang terlambat dicintainya.
***
Tiga tahun kemudian
Mino turun dari mobil mercedes-nya.
Semua orang yang melirik seakan terhipnotis dengan ketampanan yang jarang
sekali ditemui hampir disepanjang area gedung SM Coperation. Mino berjalan
seperti biasa, dengan masih mendapatkan tatapan takjub dari para pegawai.
Ia menarik napas. Sebelum menaiki
lift ia mendapat tanda hormat dari semua orang yang melihat kearahnya. Ia
berjalan menuju ruangan yang sudah dipersiapkan dari jauh hari. Membuat
perasaannya tak karuan. Hal ini terjadi Karena
semua pekerjaan telah tercapai berkat kegigihan dirinya selama dua tahun
terakhir.
“Selamat atas posisi barumu, anakku”
Presdir memeluk Mino sebagai tanda selamat karena anaknya telah menduduki
posisi Direktur. Presdir bukan orang tua yang menginginkan anaknya sukses
secara instan, seperti nepotisme. Ia mengangkat Mino karena kualitas kerja yang
sangat baik.
“Ini benar ruangan direktur? Aku
bahkan kaget sudah bisa menginjakan kaki dilantai paling atas. Tempat dimana
para raja memerintah” ada sedikit keterkejutan dari nada bicaranya. Ia mencoba
duduk dikursi empuk, kursi nyaman seorang direktur perusahaan besar.
“Meskipun kau mempunyai saham paling
besar di perusahaan ini, tetap saja kau masih belum bisa menduduki posisi
presdir. Karena aku belum menyerahkan perusahaan kepadamu. Aku belum terlalu
tua untuk duduk menuju kematian”
“Kau tahu ayah, aku tidak
menginginkan jabatan tinggi. Cukup dengan menjadi pemegang saham terbesar sudah membuatku bangga. Menjadi presdir hanya sebuah
simbol” Mino terdiam beberapa saat, “Nikmatilah masa tuamu bersama Ibu. Karena
pada akhirnya, aku tetap akan menjadi pemilik perusahaan ini secara resmi”
“Jika aku sudah meninggal. Tapi itu
masih lama” Presdir Song menatap jam tangan, “Kau bersedia datang ke kencan
buta malam ini?”
Mino menyenderkan tubuhnya, “Sudah
lebih dari sepuluh kali aku melakukan kencan buta dan hasilnya selalu sama. Aku
tidak tertarik dengan semua wanita yang Ayah dan Ibu tawarkan. Semuanya
membuatku geli”
“Malam ini kau tidak akan menolak,
karena wanita yang ayah tawarkan sangat cantik”
Mino menggeleng keras, “Hanya ada
dua wanita cantik didunia ini”
“Aku tahu” ucap Presdir dengan
lantang, “Kau harus datang tepat pukul tujuh malam di Restoran Roses, ayah dan
ibu juga aka datang”
“Kalian datang karena berharap aku
bisa menikmati kencan buta tersebut? apakah wanita itu sangat cocok untuk dijadikan
mantu?”
“Tentu saja. Kami sangat ingin dia
menjadi istrimu”
Mino menatap sosok tua dihadapannya.
Ada Raut wajah kesal dan tidak setuju dengan
ucapan ayahnya, “Dengar Yah, aku akan mengejar wanita yang aku cintai selama
tiga tahun ini. Perasaanku tidak pernah berubah sama sekali. Aku yakin dia juga
mempunyai perasaan yang sama dengaku. Jadi, niat kalian untuk menjodohkan aku
akan sia-sia saja”
“Lihat saja nanti” jawab Presdir
sambil berjalan meninggalkan ruangan.
***
Setelah mendapat ceramah panjang
dari Ibunya, dengan perasaan malas Mino menyetujui untuk datang dalam pertemuan
yang sudah direncanakan tersebut. Pertemuan tentang perjodohan selalu tidak
menarik untuk dihadiri. Pada akhirnya, pertemuan dan perjodohan tersebut
langsung ditolak mentah-mentah oleh Mino. Tetapi orang tuanya sangat keras
kepala, mereka tidak pernah bosan untuk terus mengadakan perjodohan. Dan malam
ini, bisa dikatakan perjodohan
ke lima belas yang sudah mereka rencanakan.
Dengan stelan jas rapi berwarna abu yang melekat pada
tubuhnya berhasil menarik perhatian para
pengunjung VIP. Ketampanan yang ia miliki selalu membuat mata orang tak bisa
berkedip. Ia berjalan menuju meja yang sudah dipesan terlebih dahulu. Terlihat
kedua orang tuanya sudah duduk dengan nyaman. Mereka tersenyum melihat Mino.
“Ibu senang kau datang. Kau tidak
terlambat karena tamu penting kita belum datang. Ayo duduk!” pinta Ibu setelah
melepaskan pelukan Mino. Ia duduk diantara kedua orang tuanya.
“Aku malas datang kesini. Dan
sekarang aku harus menunggu kedatangan mereka?”
“Selama ini kau selalu menunggu
bukan?” sindirnya, “Menunggu kali ini akan membuatmu mengerti bahwa menunggu tidak selalu akan
berbuah kosong melainkan akan mendapatkan hadiah yang lebih bagus dari sebuah
berlian”
“Bu, sudahlah!” protesnya, “Aku
sangat yakin dengan ucapan ibu. Aku rela menunggu lebih lama lagi asalkan aku
menunggu orang yang menurut hatiku pantas untuk ditunggu”
Presdir mengangguk paham akan
perasaan anaknya. Hampir lima menit ia mendengarkan perbicaraan antara ibu dan
anak. Hingga akhirnya, tamu yang mereka tunggu muncul dan berjalan mendekat.
Mino bahkan langsung memutuskan
percakapan dengan ibunya dan langsung menatap tamu didepan dengan ambigu.
Pandangan matanya masih lurus seakan tidak ingin berkedip. Tidak ada kalimat
yang ia lontarkan. Karena cadangan kata yang ia simpan tidak bisa ia keluarkan
untuk malam ini. Ia benar-benar seperti orang gila yang baru bertemu dengan
orang lain.
Wanita bergaun merah darah dengan
rambut pirang bergelombang sontak membuat Mino tak mampu untuk menerima
kenyataan ini. Hal ini seperti mimpi. Ia tidak mungkin bertemu dengan bidadari
cantik didunia nyata. Wanita itu pasti hanya kilauan sinar yang sengaja
menampakan diri dihadapannya.
Kecantikan yang dia perlihatkan
membuat hati Mino bergetar hebat. Senyum maut yang dia tunjukan kepada Mino
membuat dunia seakan runtuh dihadapannya. Ia tidak tahan melihat wanita
tersebut. Ini terlalu mengejutkan. Dunia yang tadinya kelam seakan berubah
menjadi berwarna.
“Senang bertemu dengan kalian lagi”
sapa Presdir dan nyonya Song sambil menyalami mereka.
“Sepertinya Anakmu sudah sukses?”
tanya wanita yang seumuran dengan Nyonya Song.
“Rencana kita berhasil” lanjut
dengan orang yang duduk disampingnya, tentu saja suaminya.
“Akhirnya Perjodohan ini akan
berlanjut ke jenjang pernikahan” ucap presdir bersemangat.
Mino masih belum bersuara sedangkan
wanita dihadapannya terus menatap lekat. Memberi kode agar Mino bisa berkata
walaupun hanya sedikit.
Hampir sepuluh menit dan Mino pun
masih rapat menutup mulut. Membuat wanita itu kesal dan menatap Mino tajam.
“Kau tidak kangen padaku, Song
Mi-No” ucapnya memecah keheningan diantara mereka. Sontak semua orang tua
menghentikan aktivitas makan mereka dan beralih mennatap Mino.
“Ini sulit dipercaya” ucap Mino
akhirnya.
“Kau tidak suka aku kembali?”
“Bukan seperti itu. Kau seperti
terbawa oleh angin dan menampakan wujudmu dihadapanku. Tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu. Aku sulit mencerna ini semua” Mino menggeleng sambil menatap
tajam wanita itu.
“Aku datang dari Austria sore tadi,
bahkan tidak sempat istirahat karena langsung kesini hanya untuk bertemu
denganmu. Dan ucapan selamat datang darimu seperti ini? wow.. menyakitkan
sekali”
Mino menarik napas dan menghirup
udara sebanyak-banyaknya, “Maafkan aku, Nara. Aku senang kau kembali, tentu
saja. Aku sangat merindukanmu, itu pasti. Kedatangmu sangat.. sangat.. sangat..
membuatku terkejut”
“Kalian tidak berpelukan?”
pertanyaan Nyonya Kim seakan memberikan saran untuk mereka agar saling
mendekat.
“Ayah sudah bilang bahwa malam ini
kencan buta untukmu” kata presdir kepada Mino, “Kau bisa pergi dengan
pasanganmu”
“Cepatlah pergi! kami akan
membicarakan tentang pernikahan kalian” suara Nyonya Song kembali bergema
diruang makan VIP yang kedap suara.
“Hah?”
“Apa?”
Jawab Nara dan Mino terkejut.
***
“Apa maksud kedatanganmu?”
Mino berhasil membuat situasi
diantara mereka terlihat lebih nyaman. Ditambah dengan suasana di taman eiden
yang terbilang cukup sepi. Mereka dipertemukan di musim panas setelah terpisah
selama tiga tahun lebih. Dan mengecewakan, Mino hanya melontarkan perkataan
yang tidak terlalu penting. Ia bahkan tidak memeluk Nara hanya untuk sekedar
melepas rindu. Berbeda dengan Nara yang sangat ingin berada dalam pelukan tubuh
tegap Mino.
“Memberi kejutan untukmu. Lagipula
aku sudah tidak tahan lagi menunggu kau menjemputku. Makanya, aku yang lebih
dulu menemuimu”
“Maafkan aku” ucap Mino lirih, “Aku
tidak tahu harus menemuimu kemana. Austria bukan kota Seoul. Disana luas”
“Apakah kau tidak bertanya pada
orang tuamu tentang tempat tinggal keluargaku?”
“Ku kira mereka tidak tahu. Yang aku
tahu mereka memutuskan perjodohan kita. Aku tidak pernah melihat orang tuaku
berbicara dengan orang tuamu”
“Kau salah” potong Nara.
“Apa maksudmu?” tanya Mino dengan
wajah berkerut samar. Sepertinya ia telah dibohongi selama tiga tahun oleh
orang tuanya sendiri. Sial.
“Aku tahu kenyataan ini sejak tiba
di Austria. Sebenarnya mereka tidak pernah membatalkan tentang perjodohan kita.
Masalah saham perusahaan ayah yang jatuh ketangan perusahaanmu sebenarnya itu
hanya rekayasa mereka untuk memisahkan kita sementara”
“Maksudmu?” potong Mino lagi. Ia
sangat tidak sabar menunggu kejelasan yang ngambang. Sedikit lagi semua akan
terpecahkan.
“Orang tuaku menginginkan agar aku
jadi anak yang tidak manja lagi. Sehingga mereka berbohong bahwa pertunangan
kita batal supaya aku bisa berpikir dewasa. Mereka sudah tahu sifatku. Jika aku
ingin berubah maka aku harus mengorbankan sesuatu” itulah yang Nara dengar dari
penjelasan orang tuanya.
“Pengorbanan apa?”
“Menjauhkan hatiku untuk sementara
waktu” Nara terdiam beberapa detik, “Mereka tahu bahwa aku men-cin-tai-mu”
Jlebbb... seakan ada benda berat
yang masuk menimpa hati Mino. Ia percaya bahwa Nara juga memiliki perasaan yang
sama dengan dirinya. Hanya saja, yang harus mengungkapkan perasaan diantara
mereka adalah Mino, karena ia lelaki dan lelaki yang harus terlebih dahulu.
Namun, lagi-lagi ia harus telat menjadi orang pertama yang mengungkapkan
perasaan diantara mereka. Ia benar-benar pecundang.
Mino membalikan tubuh Nara agar
saling berhadapan. Ia menatap mata Nara dengan intens, sesuatu yang selalu ia
inginkan. Angin yang berhembus membuat perasaan mereka membeku.
Mino tersenyum lalu menarik tubuh
Nara kedalam pelukannya, “Aku juga mencintaimu. Kau tahu, sejak kau pergi
meninggalkanku dan sampai sekarang perasaanku masih sama. Tidak akan pernah
berubah”
Nara mengelus pundak Mino dengan
sayang, “Aku belum selesai bercerita”
“ceritalah!”
“Lepaskan dulu pelukanmu!”
“Aku tidak akan melepaskanmu lagi”
“Bercerita sambil berpelukan
membuatku sesak. Aku tidak mau pingsan”
“Aku siap memberikan napas buatan
untukmu”
Nara memukul pundak Mino sambil
tersenyum, begitupun sebaliknya. Akhirnya, Mino melepaskan Nara dan memberikan
kesempatan untuk dia melanjutkan ceritanya.
“Orang tuamu memisahkan kita agar
kau bisa lebih dewasa, dapat bertanggung jawab dan mempunyai jiwa pemimpin.
Yang paling utama adalah membuatmu menjadi seorang direktur dengan kemampuanmu
sendiri. Pada akhirnya, rencana mereka berhasil. Aku memberimu selamat karena
menjadi pemegang saham terbesar diperusahaan ayahmu”
Mino merangkul tubuh Nara agar
semakin dekat dengannya, “Aku bertujuan untuk memberikan saham tersebut kepada
orang tuamu. Setelah mendengar penjelasanmu, sahamku tetap milikku” ia tertawa
kecil pada kalimat terakhir, “Kalau perjodohan kita masih berlanjut, kenapa
orang tuaku terus memaksa agar aku ikut kencan buta?”
“Itu rencana orang tuaku” sahutnya,
Nara tersenyum manis, “Untuk menguji kekuatan dan kesetiaan cintamu kepadaku.
Terima kasih telah menolak banyak kencan buta tersebut dan rela menungguku”
lanjutnya sambil memeluk Mino, “Aku mencintaimu”
Mino mengecup kening Nara, “Aku
sudah menerima satu dari sekian banyak kencan buta yang orang tuaku tawarkan”
“Siapa?” tanya Nara cemberut.
“Ekspresimu membuatku gemas dan
selalu merindukanmu” ucap Mino sambil mengecup singkat bibir mungil Nara,
“Tentu saja aku tidak akan menolak untuk kencan buta denganmu”
Senyum Nara merekah. Ia mengamati Mino
dengan lembut, "Ini tidak romantis sama sekali"
Mino mengangguk paham,
"Itu tidak masalah untukku. Yang paling penting kita saling mencintai. Aku
tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Hati ini tulus mencintaimu, sayang"
Nara mengecup singkat
bibir Mino, "Berhenti membuat pipiku merona!" mereka diam dengan
posisi saling memeluk. Menikmati udara dengan ditemani belahan jiwa.
Penantian mereka setelah menunggu
lama akhirnya terbalaskan juga. Tuhan tidak akan membuat takdir manusia menjadi
rumit. Mereka bukan adam dan hawa yang mampu menunggu untuk ratusan tahun agar
bisa bertemu. Mereka sudah menjadi tulang rusuk
satu sama lain yang tidak akan terpisahkan. Mereka hanya manusia biasa yang
dihadapi dengan perpisahan singkat. Permainan takdir mereka berujung pada
kebahagian dari perasaan yang dimiliki dalam hati keduanya.
Mereka terpejam bersama, saling
merangkul seakan tidak ingin terpisah lagi. Sepasang anak manusia yang sudah
saling melengkapi.
Mino merasakan getara dari ponselnya.
Sebuah pesan. Ia dan Nara membaca pesan tersebut. Sekali lagi mereka terkejut
dengan kalimat didalam layar yang menyatakan bahwa : Pernikahan kalian akan
berlangsung bulan depan. Tepat sepuluh hari lagi.
~~END~~
Komentar
Posting Komentar