Ruang Waktu : BAB 1 - Rad dan Utusan Pertama
Setelah kejadian kado sepatu tempo hari, Rad hilang entah kemana sudah hampir seminggu. Saat Re bertanya kepada teman Rad, mereka semua malah memberikan jawaban yang sama.
"Rad itu jarang masuk sekolah. Udah biasa, sih, Re."
Re perlu penjelasan mengenai kado dan alasan Rad memanggilnya Cinderella. Menginat kejadian itu Re langsung merona dan juga sedikit kesal kenapa tidak Rad saja yang memberikan langsung. Jika motifnya untuk PDKT mungkin Re bisa mempertimbangkan atau jika tujuan Rad cuma sekadar teman Re tidak akan sebaper ini.
Re menarik nafas dengan frustasi dan fokus pada papan tulis di depan. Namun lagi-lagi konsentrasinya buyar akibat ulah cowok baru dikenal itu. Re tidak akan peduli jika Rad hari ini datang ke sekolah atau tidak, apa untungnya ia melihat cowok itu? Tidak ada, Pikir Re yakin.
Namun fikiran dan omongan kadang tidak bisa sinkron sekuat apapun Re berusaha. Ketika melihat bayangan Red berjalan di balik jendela, Re tanpa sadar mengucapkan namanya. Rad yang muncul dibalik pintu langsung tersenyum ke arahnya. Ia menyapa teman cowok di bangku sebelah sisi kiri lalu duduk di belakang Re.
"Hai, Re, apa kabar?"
Re pura-pura tidak mendengar dan sibuk menulis deretan angka di buku catatannya.
"Kabarnya baik, Rad. Mission clear." jawab Lala.
Re melotot ke arah sahabatnya. Sejak kapan Lala bisa berhubungan dengan Rad? Sepertinya mereka tidak secanggung pas awal masuk kelas. Re tidak pernah melihat Lala ngobrol asik sama Rad, tapi ucapannya barusan seakan mengidentifikasi bahwa mereka menjadi teman.
"Udah kelihatan Re baik-baik aja." jawab Rad untuk pertanyaannya sendiri. "
Re memutar tubuh ke belakang, "Kalo aku gak baik-baik aja emang urusannya sama kamu apa?"
Rad tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya yang manis. Re hampir meleh dibuatnya. "Aku bakal kirim utusan supaya kamu bahagia."
"Oh, kayak anak kecil waktu itu?"
"Dia adik aku, Mairin namanya."
"Aku gak tanya nama dia. Aku tanya tujuan kamu kirim dia untuk apa?"
"Tapi adik aku suka kamu lho, Re." Rad mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan memperlihatkan perckapan dengan adiknya. Mereka membicarakan Re, Mairin bahkan antusias jika disuruh jadi utusan lagi.
"Kamu gak usah melakukan itu lagi."
Re menghadap lagi ke depan. Ia mendengar Rad berucap, "Oke, tapi ini aku udah terlanjur bawa."
Saat Re tidak juga menoleh, Rad menarik kuncir rambutnya. Re cemberut dan itu terlihat lucu bagi Rad.
"Apalagi sih?"
"Dilihat dari tampang kamu, sepertinya hadiah ini bakal langsung ditolak. Nih, Lala, buat kamu."
Lala kegirangan dikasih 3 cokelat panjang dengan pita merah lucu. Re melotot ke arah Rad, berusaha menahan kesal untuk tidak menyemprot makian kepada cowok itu. Ok, Re tidak berhak marah karena Rad tidak memberikan cokelat itu untuknya. Tahan Re, tahan. Cowok semacam Rad emang nyari kesempatan dalam kesempitan untuk menggoda satu cewek ke cewek lain. Re harusnya bersyukur ia tidak menjadi korban Rad.
Lala loncat dari tempat duduk, menghampiri meja Riska dan Nesti memberikan dua cokelat untuk mereka. Meskipun Riska dan Nesti teman dekatnya juga, tapi Lala harusnya kasih ke Re yang notabennya teman sebangku, kan?
"Jangan marah dong cantik" Lala mengusap pipi Re penuh perhatian.
"Siapa yang marah? Aku ga masalah kalo kamu lagi PDKT sama Rad."
"Ya ampun honey, kamu lupa aku masih pacaran sama Cakra?"
Itu alasannya kenapa Re tidak boleh marah. Tidak ada hubungan special diantara Lala dan Rad. Cakra lebih baik dari cowok itu dalam segala hal.
"Kalo kamu mau cokelat juga aku kasih."
Re mendengus lalu membuang muka.
Rad menarik kuncir rambutnya lagi, "Re, seriusan."
"RAD, AKU SERIUS." jawab Re dengan nada tinggi.
"Kamu marah lagi, kan?"
"Ya ampun Rad udah berapa kali aku ngomong kalo aku gak marah. Lagian aku gak suka cokelat. Emang bener Lala yang suka cokelat."
"Aku tau kamu gak suka cokelat makanya aku kasih ke Lala." Dari samping Re mendengar Lala menyetujui itu. "Dan kamu pasti suka ini" Rad mengeluarkan paper bag kecil dari bawah meja.
"Itukan paper bag Lala?"
"Sebenarnya itu pesanan Rad."
"Pantesan tadi aku mau lihat gak di kasih tau."
Lala cengegesan tanpa bersalah, "Sori, honey"
"Tujuan kamu ngasih ini apa, Rad? Aku gak mau punya hutang banyak sama kamu."
"Aku suka beli yang kamu suka. Buka aja, liat isinya."
Re ragu tapi Rad terus memaksa menerima paper bag itu. Re melihat isinya ada mini dessert box pakai pita merah. Saat ia membukanya ada cake kesukaanya, Red Velvet. Dari mana Rad tau ia suka cake ini?
"Re, kamu ok?" tanya Rad khawatir saat melihat Re diam sambil memperhatikan cake itu. Rad bahkan sudah bersiap jika Re akan melempar cake itu ke tong sampah.
"Makasih." ucap Re pelan.
Rad tersenyum sambil mengusap lengan Re.
"Untuk sepatunya juga."
"Aku tau kamu suka Princes Disney apalagi kisah Cinderella. Kamu suka warna merah, suka makan yang manis apalagi red velvet." Re tanpa sadar tersenyum saat melihat Rad bicara. "Kamu suka k-pop juga, kan? Berkat bantuan Nesti aku bisa dapat poster limited edition oppa kesukaan kamu."
Mulut Re sampai mengangga, "Hah?"
"Aku kasih harga mahal, eh Rad malah beli poster per member langsung." ucap Nesti dari bangku seberang.
"Nanti aku kirim utusan pengantar paket ke rumah kamu."
"Kenapa gak kamu sendiri?" tanya Re tanpa sadar.
Rad tersenyum lebar, "siap"
πΈπΈπΈ
Nesti tiba di rumah Re sekitar pukul 5 sore membawa pesanan Rad. Re melihat ke sekitar rumah berharap Rad muncul, namun tidak ada.
"Re, unboxing langsung dong biar bisa langsung di update. Tulis caption yang bagus tentang tokoh aku, ya?"
Mereka menghabiskan waktu dua jam untuk unboxing poster, bergosip idol, sampai membahas apapun. Biasanya Re antusias membicarakan topik kesukaannya, namun kali ini ia terlihat murung.
Rad sialan. Maki Re dalam hati. Ini baru pertama kali ia mengutuk seseorang cuma karena tidak bisa menepati janji. Rad harusnya datang ke rumah memberi langsung hadiah yang dibelinya. Ia terobsesi mengetahui kabar Re, namun ketika suasana hatinya tidak karuan cowok itu lagi-lagi tidak muncul.
Re bahkan sudah menyusun tema pembicaraan jika Rad datang. Ia sampai meneror Kak Andra untuk mencari informasi apa yang disukai cowok. Kakaknya sampai marah dan curiga Re punya pacar. Re berharap Rad memang pacarnya tapi ternyata tidak. Rad cuma cowok asik yang butuh banyak teman dan Re salah satunya.
"Re, anterin sampe jalan depan dong." ucap Nesti menyadarkan Re dari lamunan.
"Ojolnya suruh ke depan rumah aja, Nes."
"Aku di jemput Ayah sekalian makan dikuar, sengaja tunggu di depan jalan biar gak usah putar arah lagi."
"Ya udah aku anterin."
Mereka jalan ke depan jalan, Nesti asik bercerita bahwa toko online k-pop sudah semakin berkembang dan banyak orderan masuk setiap harinya. Re ikut senang, namu tidak seantusias sahabatnya. Re merasa berdosa, namun suasana hatinya benar-benar kacau.
Nesti menepuk punggung Re, "Ya ampun Re, aku ngomong dari tadi."
"Sori, sori, kenapa?"
"Kata ayah mau ikut pergi?" Re menggeleng bingung, "Kalo gitu aku langsung masuk mobil. Kamu balik gih."
"Hati-hati, salam ke Om."
Setelah mobil Nesti pergi, Re langsung jalan ke rumah dengan langkah gontai. Langit malam cerah namun suasana hatinya tidak sesuai dengan keadaan.
Re berfikir, ini pertama kalinya ia didekatin cowok jadi wajar kalau ia berharap Rad menyukainya. Ok, ia tidak perlu berlebihan dalam perihal cinta karena ia harus yakin kalau Rad cinta pertamanya maka itu tidak akan berhasil. Ia harus bersikap dingin dalam masalah cinta apalgi subjeknya seorang Radhika.
Langkah Re melambat ketika di depan pintu berdiri cowok yang sedang dipikirkannya. Rad seakan muncul dari otak Re dan tersenyum tanpa dosa. Ingat Re, Rad hanya sedang bermain anggap saja kedatangannya sebagai hiburan.
Rad memberikan helm, namun Re menolak dengan halus. "Mama gak kasih ijin aku keluar."
"Kamu di rumah sendiri, Re. Tadi aku ketuk pintu gak ada yang jawab."
"Oh sial." umpat Re pelan.
Rad tersenyum, mengelus kepala Re dengan sayang. "Kita makan di luar, yak?"
"Hem-"
"Re, ayolah aku cari alasan minta ijin keluar untuk ketemu kamu. Masa kamu tega."
"Kamu kayak anak mamah gitu."
Tawa Rad menguar di udara. "Jadi, kamu mau pergi sama aku, kan?"
"Ok, aku ambil dulu jaket."
Rad membuka jaketnya lalu menyampirkan ke tubuh Re. "Mau makan apa?"
"Coba tebak aku mau makan apa?"
"Pecel lelel" jawab Rad tanpa berfikir.
Re menepuk punggung Rad, "Tau darimana?"
"Aku kan utusan tuhan, Re."
Bagi Re, Rad adalah utusan terbaik yang tuhan berikan. Perkenalan dengan cowok itu adalah hadiah terbaik. Menjalin hubungan dengannya adalah suatu anugrah.

Komentar
Posting Komentar