Ruang Waktu : Prolog



Daftar kelas sudah diumumkan di mading dan nama Re berada di daftar IPS 1. Ketika Re berjalan ke lorong IPS ia terkejut melihat murid yang lain saling berdesakan untuk sampai ke kelas. Ia bahkan melihat tiga orang temannya dikerumunan paling depan saling sikut untuk masuk ke kelas. 
Astaga, Re menarik nafas dengan getir. Ia memilih untuk menunggu beberapa menit sampai kondisi mulai kondusif, tapi segerombolan murid dari arah belakang tiba-tiba muncul, terpaksa Re ikut berdesakan dan berdoa semoga penyiksaan masuk kelas segera berakhir. 
"Awas hati-hati!"
Seorang cowok menahan tubuh Re saat ia hampir terdorong.
Tubuh Re ditarik ke belakang agar sejajar dengan cowok itu. Ketika Re hampir tersikut  oleh murid di depan dengan sigap cowok itu merentangkan tangan sambil berbicara, "Oy santai, bro"
Re hampir berada dipelukan cowok tidak dikenal sepanjang kejadian mengerikan itu. Ketika berada di depan kelas, cowok itu bertanya dengan nada khawatir, "kamu ok?"
Re mengangguk sambil tersenyum sekilas, "makasih ya?"
Tanpa menunggu jawaban Re berjalan ke kursi dan duduk di sebelah Lala, teman pas kelas X, yang langsung sumringah melihat wujud Re. 
Sepuluh menit kemudian wali kelas datang dan satu persatu murid mulai perkenalan. Saat giliran Re, cowok itu tiba-tiba masuk dan berbicara dengan wali kelas lalu duduk dibelakang Re.
Re berjalan ke depan kelas dengan gugup, ia memperkenalkan nama, hobi, dan alamat. 
"Pak, saya boleh tanya ke Edrea?" tanya cowok itu, membuat semua murid dikelas saling berdehem. 
"Kamu minta pindah kelas pasti ada sesuatu, kan?" tanya Pak Danu, wali kelas IPS 1. "Silahkan kalau mau tanya tapi jangan aneh-aneh."
"Cuma mau tanya singkat, Pak. Endrea nomor sepatunya berapa?"
Semua murid langsung ketawa, ada yang ngasih saran harusnya tanya nomor ponsel, namun cowok itu tetap memaksa Re menjawab ukuran sepatunya. 
"Kamu ke depan, Rad. Perkenalkan diri bareng Endrea." pinta Pak Danu.
Cowok itu berdiri disamping Re, dan mulai memperkenalkan diri. 

Setelah dua hari perkenalan di kelas, pada sore hari ketika Re sedang menyiram bunga mawar ada anak perempuan kecil di depan rumahnya sambil membawa kotak kado berpita pink. Ketika Re bertanya anak itu menjawab ia seorang utusan pengantar hadiah. Re menerima kotak dari anak itu dan membukanya, betapa terkejut ketika ia melihat sepasang sepatu berwarna merah dan ada catatan kecil di dalamnya. 

Untuk Re, 
Putri salju yang dikutuk jadi cinderella. Semoga suka hadiahnya, yak.

Radhika Mahendra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama by Keigo Higashino

Ruang Waktu : Sinopsis

Review Novel Kesetiaan Mr. X by Keigo Higashino